Salafi Resmi dan Hizbiyyah

 

Ditulis Oleh Syaikh Wa’il Ali Al-Butairi

  

Saya membaca makalah salah seorang pengikut trend salafi remi. Dalam makalah tersebut, dia mengkritik hizbiyyah dan para pendukungnya. Dia bangga bahwa kelompok yang diikuti bukanlah sebuah hizb (golongan) yang ditunjukkan dengan adanya pemimpin tertinggi dan kepemimpinan organisasi yang rapi. Kelompoknya termasuk orang-orang yang paling getol dalam mencela dan memrangi hizbiyyah. Maka dari itu, kita mesti mendefinisikan dulu istilah al-hizbu. Al-hizbu secara bahasa berarti sekumpulan manusia. Apabila dia mencela hizb murni hanya karena hizb, maka ini adalah kesalahan yang sangat jelas. Sebab, berkumpulnya manusia merupakan kewajiban syar’I dan tuntutan Qur’ani. Adapun apabila dia mencela dampak negative yang muncul dari sebagian perkumpulan atau mencela perkumpulan yang dibangun di atas ideology rusak, seperti sosialisme, kounisme, qadiyaniyah, sekulerisme, dan sebagainya. Maka, sikap ini benar dan tidak ada perdebatan di dalamnya.

 

Apabila kita memperhatikan dampak dan fenomena negative yang muncul dari sebagian perkumpulan, maka akan kita saksikan bahwa kebanyakan dampak dan fenomena ini terdapat pada jamaah-jamah Islam. Banyak orang yang mencela hizbiyyah, tapi pada kenyataannya mereka sendiri juga tidak jauh dari hizbiyyah. Bahkan, terkadang mereka terjerumus dalam kesalahan yang terhimpun dalam perkumpulan mereka yang tidak didapati pada selain mereka. Diantar fenomena negatig yang terdapat pada beberapa jaah dan hizb adalah ta’ashub terhadap sebagian pendapat ijtihadiyyah, individu, atau pemimpin serta menerapkan wala’ dan bara’ berdasarkan nama dan sifat. Apakah mereka—salafi resmi—itu bersih dari fenomena ini? Kenyataannya sangat jelas mereka juga terjatuh kedalam fenomena ta’ashub ini tanpa perlu petunjuk lagi. Hal ini akan dibahas lebih rinci pada tempat lain.

  

Adapun sekedar beramal jama’I dan membentuk perkumpulan, organisasi, atau terserah apa engkau menyebutnya, maka ini adalah sebuah tuntutan. Namun demikian, harus ada usaha untuk menjaga agar tidak muncul dampak-dampak buruk yang mungkin menimpa sebagian individu sebagaimana halnya juga menimpa sebagian jamaah. Dalam Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani pertanyaan no. 6688 disebutkan, “Identikkah antara tahazzub (berkummpul) yang tercela dengan amal jama’I yang terorganisasi dalam berdakwah kepada Allah?” Syaikh menjawab, “Amal jama’I yang terorganisasi dalam berdakwah kepada Allah terkadang merupakan sebuah hizb dan terkadang bukan hizb. Saya sendiri dan beberapa orang—yang tidak diragukan—terhormat tidak melihat adanya larangan untuk membagi amal di antara individu kaum Muslimin dan juga jamaah mereka. Setiap jamaah hendaknya melaksanakan kewajiban. Sebagaimana halnya apabila beberapa mujaddid bertemu dalam satu masa, maka masing-masing mereka memperbaharui salah satu perkara dari perkara-perkara Islam. Kami tidak menghendaki adanya sikap saling membenci dan memusuhi di antara para mujaddid tersebut. Bidang garap Islam yang luas semestinya bias menyatukan mereka. Kekurangan yang ada ada seseorang semestinya disempurnakan oleh orang lain. Demikian juga, kami berpendapat bahwa jamaah-jamaah yang terorganisasi untuk menjalankan dakwah Islam itu harus saling melengkapi. Tidak sepantasnya terjadi sikap saling memusuhi, mendengki, dan membenci di antara mereka. Janganlah—misalnya—anggota-anggota jamaah ini menjegal jamaaah lain meskipun keberadaan jamaah-jamaah ini menjadi keharusan. Jamaah tersebut wajib untuk mengambil landasan dan manhaj yang sama serta harus sesuai dengan dakwah kepada al-haq, yaitu berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Kami tidak mengingkari adanya jamaah di kalangan kaum Muslimin yang bernama Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, atau Hizbut Tahrir. Akan tetapi, kami mengingkari sikap sebagian mereka yang tidak mau berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.”

  

Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa sekedar adanya jamaah-jamaah terorganisasi yang berdakwah kepada Allah bukanlah perkara tercela secara syar’i. Akan tetapi, perkara yang dicela adalah sikap saling membenci dan saling memusuhi yang dicela adalah sikap saling membenci dan saling memusuhi yang terjadi di antara mereka. Termasuk juga perkara yang dicela adalah sikap mempersempit bidang garap Islam yang luas yang mengumpulkan mereka untuk saling melengkapi antara satu jamaah dengan jamaah lainnya. Hendaknya mereka berhimpun pada satu landasan, yaiut berpegng teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. Inilah yang diusahakan oleh jamaah-jamaah Islam yang ada pada hari ini meskipun terkadang mereka berbuat kesalahan. Kita memohon kepada Allah agar memaafkan kesalahan mereka. Apabila mereka bersalah, maka wajib bagi orang-orang yang ikhlas untuk menasehati mereka dengan penuh kecintaan dan hikmah.

  

Adapun mengenai adanya kepemimpinan organisasi yang tersusun rapi untuk menjalankan amal jama’I, disebutkan dalam Majmu fatawa Al-Albani pertanyaan no. 6691 sebagai berikut, “Anda telah menyebutkan bahwa wajib bagi orang yang menyatakan dirinya sebagai salafi untuk berdakwah kepada Allah ta’ala dengan bergabung ke dalam jamaah Salafi atau keberadaannya dalam barisan sebuah jamaah adalah wajib. Lalu, bolehkah apabila jamaah ini memiliki pemimpin yang ditaati sebagai qiyas terhadap hadits wajibnya mengangkat pemimpin dalam safar?”

  

Syaikh menjawab, “Tidak ada larangan mengenai adanya pemimpin yang ditaati dengan arti yang ditunjuk dengan syarat tidak boleh menerapkan hukum-hukum yang terkait dengan pemimpin tertinggi, yaitu kepala Negara Islam. Adanya pemimpin ini adalah untuk mengatur urusan-urusan dan tidak masuk dalam pengertian sabda Rasulullah saw:

  

“Barangsiapa mati sedang di lehernya tidak ada bai’at, maka dia telah mati sperti matinya seorang jahiliyah.” (HR. Muslim no. 3441)

  

Atau hukum-hukum lainnya yang hanya untuk penguasa tertinggi, yaitu kkhalifah. Hal ii berbeda dengan paham yang dianut oleh sebagian jamaah Islam yang mengangkat pemimpin lalu menerapkan semua hokum yan gterkait dengan penguasa muslim tertinggi. Dengan demikian apabila kepemimpinannya adalah seperti yang saya jelaskan ini, maka saya tidak melihat adaya larangan. Bahkan, hal itu termasuk sarana untuk memenhi kemaslahatan.”

  

Saya bisikkan ke telinga saudaraku penulis makalah tersebut, “Cobalah untuk menjelaskan sebagian kesalahan jamaahmu sebagaimana mereka sering menjelaskan kesalahan-kesalahan jamaah lain! Perhatikanlah dengan teliti! Kemudian putuskanlah hokum, ‘Adakah tahazzub dan ta’ashub atau tidak ada?’ Jika ada, bertanyalah kepada orang-orang yang sudah berpengalaman!”

  Disalin dari buku “Apa Beda Salaf dengan Salafi” & diterjemahkan dari : http://www.asserat.net/report.php?linkid=6881