Mereka Mempersempit Makna Salafiyyah dan Tidak Mau Menerima Taubat

(Fatwa Syaikh Abdullah Al-Muthlaq)

  

Pelajaran pada: Rabu, 19 Sya’ban 1424 H.

Judul: Fitnah; Sebab dan Terapinya

Dinukil dari situs aslinya:

http://www.liveislam.com/archi/1424/shaban.htm  

Wahai saudara-saudaraku tercinta! Mereka yang mempersempit makna salafiyyah, gemar mengeluarkan tuduhan, tidak mau menerima taubat, tidak mau berdiskusi, dan tidak mau menyebarkan kebaikan; mereka itu membahayakan salafiyyah lebih banyak daripada kebaikan mereka kepada salafiyyah. Apabila engkau perhatikan para ulama yang ada di Saudi; ada berapa banyak mereka? Mereka hanya menghendaki tida atau empat ulama saja; sedangkan sisanya?! Tidak termasuk (pengikut) salaf? Ini musibah besar, wahai saudara-saudaraku! Apabila engkau perhatikan para ulama yang ada di Dunia Islam pada saat ini, maka engkau dapati para ulama itu menurut mereka telah menyimpang. Apabila engkau perhatikan para ulama uamt yang berkhidmat demi agama ini, seperti Ibnu Hajar, An-Nawawi, Ibnu Qudamah pengarang kitab Al-Mughni dan kitab-kitab bermanfaat lainnya, Ibnu Aqil, dan Ibnul Jauzi; mereka engkau akan dapati para ulama ini menurut mereka memiliki karangan-karangan yang mengeluarkannya dari salafiyyah karena terdapat komentar terhadap para ulama tersebut.

  

Mereka yang mempersempit makna salafiyyah itu telah berbuat buruk kepada umat, wahai ikhwah fillah! Oleh karena itu, lihatlah Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah, Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah, dan mufti yang sekarang ada; bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia? Bagaimana baiknya akhlak mereka? Bagaimana mereka menghadapi para penuntut ilmu? Bagaimana mereka menghormati ulama? Akan tetapi, apakah manhaj ini ada pada orang-orang yang mempersempit makna salafiyyah itu? Tidak! Mereka tidak senang, kecuali terhadap jumlah sedikit dan terbatas dari ulama yang dikemukakan oleh sejumlah penuntut ilmu. Mereka sibuk memakan daging ulama di majelis-majelis mereka. Terkadang, perkataan mereka penuh dengan tudingan palsu. Terkadang pula, mereka berdusta atas nama ulama. Tidak ada kata “taubat” di kamus mereka. Merekapun tidak mau menerima sikap rujuk seseorang. Mereka mempersempit din ini. Mereka gembira apabila menusia keluar darinya, namun mereka tidak bias bergembira menerima udzr manusia. Lihatlah! Ini adalah musibah, wahai saudara-saudaraku. Apabila musibah ini menimpa umat, mungkin salafiyyaj hanya terbatas berada pada tempat tertentu di Jazirah Arab ini.

  

Wahai ikhwah fillah, lihatlah bagaimana sopannya akhlak Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Muhammad Al-Utsaimin! Bagaimana mereka menjadi mufti bagi seluruh pemuda Dunia Islam meskipun negeri mereka berbeda-beda! Ada yang di Eropa, Amerika, Afrika, Jepang, Indonesia, dan Australia. Mereka ridha terhadap keua Syaikh tersebut. Engkau dapati mereka mau menerima Abdul Aziz bin Bazz, Muhammad Al-Utsaimin, Syaikh Fulan, dan Syaikh Fulan. Akan tetapi, apakah mereka ridha terhadap para masyayikh orang-orang yang mempersempit makna salafiyyah tersebut? Bagaimana?! Tidak! Demi Allah, mereka tidak ridha dan tidak mau menerimanya. Sesungguhnya jalan yang ditempuh oleh mereka itu (para pemuda yang gemar menuduh dan tidak mau berdiskusi)—semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka—mempersempit makna salafiyyah dan menyebabkan orang lari menjauh darinya. Jalan yang mereka tempuh itu menjadikan salafiyyah sebagai arti sempit lagi terbatas yang kebanyakan perbuatannya adalah mengkafirkan dan memfasikkan manusia, mengumpulkan kesalahan-kesalahan mereka, merusak citra mereka, dan mencemarkan nama baik mereka.

  Disalin dari buku “Apa Beda Salaf dengan Salafi” & diterjemahkan dari : http://www.islamgold.com/view.php?gid=2&rid=32

Iklan