Nasihat Mut’ab bin Suryan Al-‘Ashimi (Penulis buku Beda Salaf dengan Salafi) untuk para ‘Salafi Bengis’ dan yang semisalnya.

  

Berikut adalah nasihat Mut’ab bin Suryan Al-‘Ashimi, penulis buku Beda Salaf dengan Salafi yang saya salin. Mungkin ada sebagian dari kalian yang akan berkomentar bahwa saya merasakan kebahagian yang luar biasa atas kehadiran buku tersebut karena saya telah memiliki bantahan-bantahan untuk kalian. Tapi sungguh tidak ada niat sedikitpun untuk membantah karena saya juga banyak mengambil kebaikan dari kalian dan sesungguhnya yang saya yakini, tidak ada yang bisa menghalangi atau membatasi atau melarang saya untuk mengambil manfaat atas kebaikan yang ada dalam semua sumber-sumber yang ada. Sekalipun dari buku Membuka Kedok Yusuf Qardhawi yang secara terang-terangan menelanjangi seorang muslim (kalaulah tidak dianggap ulama oleh kalian) yang dikenal dan diakui oleh dunia dari timur dan barat, apakah mereka muslim atau kafir baik di Eropa, Asia maupun Amerika yang darinya banyak manfaat yang timbul untuk umat Islam. Saya tidak akan membatasi diri saya seperti halnya kalian (menafikan semua orang yang ada keburukannya kecuali yang dianggap ulama-ulama kalian) untuk mengambil kebaikan dari siapapun yang mungkin hanya 20% kesalahannya dan menafikan kebaikannya yang jauh lebih banyak. Semoga bermanfaat…

 

  

“Wahai hamba Allah sekalian, takutlah kepada Allah dari mencela para ulama dan para penyeru ke jalan Allah. Janganlah kalian melecehkan kehormatan mereka hanya semata-mata untuk memenuhi keingian kalian. Hendaklah kalian mendengar dan taat.

  

Mari kita bersama-sama memperhatikan—semoga Allah memelihara kalian—apa yang diwasiatkan oleh Nabi saw kepada sahabat mulia, Umar bin Khatthab, tatkala beliau berkata pada peristiwa Hathib bin Balta’ah, beliau (Umar) berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal lehernya. Sesungguhnya dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.” Namun apa kata Rasulullah? Beliau bersabda kepadanya, “Wahai Umar, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah swt telah mmberikan kebebasan kepada ahli Badar, Dia berfirman, “Berbuatlah kalian sekehendak kalian, kalian berhak untuk mendapatkan jannah atau Kami telah mengampuni kalian.” Lalu Umar pun meneteskan air mata dan berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  

Ini adalah nasihat yang merupakan tarbiyah nabawi, bukan semata-mata milik Umar ra saja, akan tetapi diperuntukkan juga kepada umat setelahnya. Kesalahan itu tidak mengurangi kedudukan seseorang di sisi Allah dan tidak menjadikan darah dan kehormatannya halal ditumpahkan.

  

Dari atsar ini kita dapat belajar sekian banyak masalah. Di antaranya, kita adalah orang yang tidak ma’shum dari dosa. Kesalahan teman semestinya ditutupi, bukan ditampakkan. Semestinya dia menyelami lautan kebaikannya dan tidak menyebarluaskan keburukan. Sesungguhnya tidak ada seorang ‘alim pun –dahulu ataupun sekarang—melainkan dia pernah melakukan kesalahan. Seandainya semua orang yang memiliki kesalahan dan kekeliruan harus ditinggalkan ilmunya, maka kita tidak akan pernah mendapatkan orang yang layak untuk diambil ilmunya dan tidak ada orang yang dapat dipercaya untuk menunjukkan kita kepada kebaikan dan menasehati kita dari perbuatan buruk.

  

Dari cerita ini kita juga belajar agar bisa lapang dada dan pemaaf kepada saudara-saudar kita, meskipun mungkin dia melakukan 99 kejahatan dan sekali berbuat kebaikan kepada kita. Yang demikian adalah wajib bagi kita untuk menempatkan dia pada posisi yang satu (berbuat satu kebaikan). Maka saya katakanlah, “Apakah tidak cukup sikap lapang dada Umar ra untuk membuat kita meneteskan air mata dan memintakan ampunan untuk diri kita dan saudara-saudara kita?!”

  

Kami khususkan bagi mereka yang tertimpa fitnah ini, tanpa ada sikap tergesa-gesa kami katakan, “Kalian adalah saudara kami dan orang-orang yang kami cintai karena Allah. Seperti apapun sikap kasar kalian berkata kepada kami, apapun sikap kalian saat menjumpai nasihat dari kami. Akan tetapi, kebenaran adalah lebih kami cintai daripada kalian. Dan seandainya kami bertindak keras kepada kalian, maka sebenarnya manusia itu pada waktu tertentu pasti akan bersikap keras kepada orang yang dicintai.

  

Oleh karena itu, saya mengajakmu—wahai saudaraku—untuk bertaubat dan kembali kepada kebaikan, bersikap adil dan meninggalkan sikap diskriminasi dan aniaya kepada hak-hak para dai dan ulama. Sebab kita semua memiliki kesalahan.

  

Siapakah orang yang tidak pernah berbuat salah sama sekali dan siapakah orang yang kebaikan itu hanya miliknya saja?

  

Keselamatan adalah selamat sebelum menemui kerugian dan menyesali perbuatan menghalalkan kehormatan kaum Muslimin. Maka dari itu janganlah tergesa-gesa, berlemah-lembutlah kepada saudara-saudara kalian. Sampai kapan perselisihan ini akan terus terjadi?!

  

Sesungguhnya, saat ini kami sangat berharap kalian berterus terang kepada Allah untuk bertaubat, kembali kepada kebenaran, menampakkan syariat, mendengar dan taat, memegang teguh urusan jamaah, mengulang-ulang kalimat kebenaran tabaraka wa ta’ala:

  

Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu. (Al-Qhashash [28]: 21)

  

Kemudian setelah itu akan mendapatkan kabar gembira dengan:

  

Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. (Al-Maidah [5]: 95)

  

Dan jangan lupa:

  

Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. (Al-Maidah [5]: 95)

  

Pada hakikatnya:

  

Rabb kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian; jika kalian orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (Al-Isra’ [17]: 25)

  

Dan kepada mereka yang sekarang sedang mendapat ujian, kami hanya bisa mengatakan, “Waktumu—wahai saudaraku—sangat mahal. Maka janganlah kalian sia-siakan bersama orang-orang yang selalu mempermainkan kehormatan kaum Muslimin, sengaja memfitnah mereka dalam majelis-majelis. Maka janganlah engkau pasang telingamu untuk mendengarkan mereka. Buatlah perjanjian dengan nasihat kalian. Kemudian janganlah kalian mencela saudara kalian sehingga Allah akan melimpahkan keselamatan kepada saudara kalian, sedang engkau sendiri mendapat cobaan.”

  

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu agar menjadikan buku ini [Beda Salaf dengan Salafi: adm] sebagai perantara untuk memberi petunjuk bagi mereka kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta meninggalkan sikap menentang.

  

Ya Allah, sesungguhnya kami minta kepada-Mu, satukanlah kalimat kami di atas kebenaran, berilah kami taufik untuk mengamalkan dan mendakwahkannya. Ya Rabb kami, ampunilah kami, saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati-hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  

Ayat tersebut merupakan pesan singkat dengan isyarat yang tepat. Kata-kata yang sederhana yang kami peruntukkan kepada kalian semata-mata dalam rangka menasehati kalian dan berharap akan kelurusan kalian.

  

Demikianlah nasehat kami semata-mata berharap kepada wajah Allah dan kehidupan akhirat serta menginginkan kebenaran dengan cara yang lebih baik. Barangsiapa yang melihat, maka balasannya akan kembali kepada diri sendiri dan barangsiapa yang buta, maka baginya balasan siksa. Kami bukanlah orang yang mampu memelihara kalian. Kalian akan menyebut-nyebut apa yang pernah kami katakan kepada kalian dan kami serahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, tinta pena ini pun mengukirnya untuk melepas tanggung jawab dan sekaligus sebagai nasihat kepada umat.

  

Maka bagi kalian adalah keberuntungan atau bagi kami adalah kerugian, kami berlindung kepada Allah dari perbuatan dosa. Ini adalah nasihat untuk kalian karena rasa sayang kami kepada kalian.

  

Allah berfirman:

  

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.” (Hud [11]: 88)

  

Dan segala puji bagi Allah, karena nikmat-Nya, sempurnalah semua kebaikan.

 

Penulis

Mut’ab bin Suryan Al-Ashimi

 Semoga Allah menjaganya

Iklan