INILAH HADDADIYAH…!!! KENALILAH DAN WASPADALAH DARINYA



Menyingkap Karakter Haddadiyah Yang Tersembunyi Pada Pengaku-ngaku Salafiyah Yang Hakikatnya Adalah Hizbiyah Yang Membinasakan
 Risalah ini ditujukan untuk mereka yang menyibukkan diri dengan fitnah dan sibuk dengan mencari-cari kesalahan, sibuk dengan mencela, mengumpat, mencerca, menfitnah, berdusta dan perbuatan buruk lainnya, sedangkan mereka ini hakikatnya orang-orang yang masih jahil (juhala’) namun sok menjadi ulama ahli jarh wa ta’dil (baca : ahli jarh wa tanfir), menyebarkan syubuhat dan fobia ke tengah umat akan dakwah salafiyah ini, maka mereka inilah yang dimaksudkan dengan risalah ini, dan mereka adalah khubatsa’ (orang-orang busuk pemikiran dan pemahamannya), munaffirin (orang yang membuat umat lari dari kebenaran), hizbiyyun berpakaian dengan pakaian salafiyyah, Ghulat (orang-orang yang ghuluw) dan Haddadiyah jadidah.


[Bagian 1]

Pendahuluan
Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah menjadikan kekosongan zaman dari para Rasul dengan tetap eksisnya para ulama, yang mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, yang sangat sabar di dalam menghadapi aral rintangan yang menghadang. Mereka hidupkan orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah, dan menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya Alloh.

Betapa banyak korban sembelihan iblis yang telah mereka hidupkan, dan betapa banyak orang bingung yang tersesat mereka beri petunjuk. Aduhai, betapa besar jasa mereka kepada manusia, namun betapa buruk balasan manusia kepada mereka. Mereka tepis penyimpangan (tahrif) terhadap Kitabullah dari orang-orang yang ekstrim (ghuluw), kedustaan para pembuat kebatilan dan penyelewengan (penakwilan) orang-orang yang bodoh, yang mana mereka semua ini adalah pengibar kebid’ahan, penyebar virus fitnah, mereka berbicara dengan syubuhat (kesamar-samaran) dan menipu manusia dengan syubhat-syubhat yang mereka sebarkan. Kita berlindung kepada Alloh dari fitnah orang-orang yang sesat ini.

Saya bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq untuk disembah kecuali Alloh yang berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…” (QS al-Hujurat : 12), dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, kesayangan dan kecintaan-Nya, dan sebaik-baik makluk-Nya, yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah dan memenuhi amanah, menasehati ummat dan berjihad di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya jihad. Semoga Alloh memberikan Sholawat (dan Salam) kepada beliau, kepada keluarga beliau dan kepada para sahabat beliau yang baik lagi suci, serta kepada siapa saja yang menauladani mereka dengan lebih baik dan meniti jejak mereka hingga datangnya hari kiamat, dan semoga kami bersama mereka dengan kemurahan-Mu wahai Dzat yang maha paling penyayang… Setelah itu :

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl : 125)

Al-Imam al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullahu berkata di dalam Ad-Da’watu ilallohi wa Akhlaaqud Du’aat menjelaskan ayat di atas :

“Alloh Yang Maha Suci menjelaskan bagaimana cara/kaifiat yang sepatutnya bagi seorang da’i di dalam mengkarakteristiki cara dakwahnya dan menitinya, yaitu hendaklah dimulai pertama kali dengan hikmah, dan yang dimaksud dengan hikmah adalah dalil-dalil argumentasi yang tegas lagi terang yang dapat menyingkap kebenaran dan menolak kebatilan. Dengan demikian sebagian ulama ahli tafsir menafsirkan al-Hikmah dengan Al-Qur’an, dikarenakan Al-Qur’an merupakan hikmah yang paling agung, dan juga di dalam al-Qur’an terdapat penjelas dan penerang kebenaran dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya adalah dengan dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah.”

[Lihat : Ad-Da’watu ilalloh wa Akhlaq ad-Du’aat oleh Imam Ibnu Baz rahimahullahu, download dari Maktabah Sahab as-Salafiyah : www.sahab.org. ]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

“Agama itu nasehat“, beliau ditanya : “bagi siapa wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab : “Bagi Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (HR Muslim dari Tamim ad-Dari).

Imam Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullahu berkata :

“Bagaimana mungkin aku diselamatkan oleh amal perbuatanku sedangkan aku berada di antara kebaikan dan kejelekan? Perbuatan jelekku tiada kebaikan padanya sedangkan perbuatan baikku tercemar oleh kejelekan dan Engkau (Ya Alloh) tidaklah menerima kecuali amal yang murni yang hanya dipersembahkan untuk-Mu. Tiada harapan setelah ini melainkan hanyalah kemurahan-Mu.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam asy-Syu’bah no. 824.) [Dinukil melalui perantaraan Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, karya Fadhilatus Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhani al-Jaza`iri, Maktabah al-Furqon, cet. VI, 1422/2001, hal. 41. Lihat pula terjemahannya yang berjudul “6 Pilar Utama Dakwah Salafiyah” oleh Fadilatul Ustadz Abu Abdillah Mubarok Bamu’allim, Lc., Pustaka Imam Syafi’I, Cet. I, Muharam 1425/Maret 2004, hal. 88.]

Akhir-akhir ini, mulai tampak fitnah yang membutakan dan kejahilan yang menyedihkan, yang mulai disebarkan oleh para pemuda yang lurus –insya Alloh-, yang terbakar oleh semangat dan ghirah keislaman untuk membela sunnah nabawiyah dan manhajus salaf, namun tanpa diimbangi oleh ilmu dan arahan yang terarah. Mereka sibukkan diri mereka dengan hal yang tidak seharusnya mereka berkecimpung di dalamnya, mereka masuk ke dalam perkara besar yang tidaklah seharusnya mereka masuk ke dalamnya, mereka lemparkan tuduhan-tuduhan, celaan-celaan, makian-makian, umpatan-umpatan, ghibah (gunjingan), namimah (adu domba) dan segala keburukan lainnya ke tengah-tengah umat. Bahkan mereka menempatkan diri mereka layaknya mufti atau ulama yang umat harus mendengar dan mematuhi mereka, mereka melayangkan tabdi’, tafsiq bahkan takfir secara serampangan, mereka permainkan ilmu jarh wa ta’dil hanya untuk memenuhi ambisi dan obsesi mereka, mereka terapkan hajr (boikot) dan muqotho’ah (isolir) ala hawa nafsu mereka, akhirnya mereka menjadi munaffirin, orang-orang yang menjauhkan umat dari dakwah mubarokah ini, mereka ciptakan fobia di tengan umat, dan mereka telah menjadi hizbiyah gaya baru dengan menyempitkan bahwa salafiyah hanyalah untuk mereka sendiri, tidak untuk selainnya. Wal’iyadzubillah.

Namun aneh dan ajaibnya, mereka merasa bahwa mereka adalah ahlul haq, satu-satunya pemilik manhaj yang selamat, mereka mengklaim bahwa manhaj mereka telah kebal sebagaimana jiwa mereka telah kebal dari nasehat. Selama nasehat tersebut tidak datang dari kalangan mereka maka ditolak, dan apabila datang dari mereka walaupun bathil maka diterima. Tidak lah keluar dari lisan ataupun tulisan mereka melainkan hanyalah kata-kata kotor, umpatan, makian, celaan, cercaan dan kejelekan-kejelekan lainnya. Sedangkan selain mereka apabila mencerca atas sikap mereka, maka mereka mulai bersembunyi mempertanyakan, “mana dakwah bijaksana itu?”… “Mana dakwah hikmah itu?”… Ya, mereka inilah orang yang gemar memukul orang lain namun tidak mau dipukul balik. Mereka senantiasa menyakiti saudara seiman namun tidak mau disakiti balik. Allohul Musta’an.

Tashnif (Menggelar-gelari atau mengkotak-kotakkan) manusia adalah ciri khas mereka, maka tidak heran apabila datang dari mereka istilah-istilah muhdats semisal : “Salafy Pramuka”, “Salafy Wisma Erni”, dan salafy-salafy lainnya. Tidak sampai di situ saja, penuntut ilmu pemula kalangan mereka yang masih jahil saja sudah berani mengatakan, “Fulan Sururiyah”, “Fulan Hizbiyah”, “Fulan kadza wa kadza.” Lebih dahsyat dari itu, juhala’ mereka sudah berani menjuluki para du’at sunnah –roghmun unufihim– dengan sebutan “al-Kadzdzab”, “ad-Dajjal”, “al-kadza wa kadza“, dan sebutan-sebutan buruk lainnya semisal : “Ahmas mengais fulus“, “Abdul Hakim Abjat” (maksudnya ism tafdhil dari bejat –yang merupakan Bahasa Indonesia- dengan artinya paling bejat atau lebih bejat, na’udzubillah) dan ucapan-capan kotor lainnya yang tidaklah seharusnya seorang ahlus sunnah atau salafiy melakukannya.

Namun, fenomena ini telah biasa di kalangan mereka. Karena tanpa makian dan umpatan muharam (yang haram) semisal ini, kurang afdhal rasanya. Semisal makanan, apabila tidak ada bumbu dan garamnya, maka rasanya tidak enak. Maka oleh karena itulah sebagai “bumbu penyedap”, tajrih berbalut fitnah, dusta dan umpatan keji adalah seasoning (bumbu penyedap) wajib yang harus ada biar flaviour (rasa dan aroma)-nya semakin mantap. Aduhai, apabila Islam adalah sebagaimana Islam mereka yang seperti ini, betapa banyak umat yang akan lari darinya, kecuali mereka-mereka yang berperangai kasar dan buruk, semisal preman, pembegal, perampok dan penjagal saja yang mau bergabung dengan dakwah ala mereka ini.

Perhatian

Risalah ini tidak ditujukan kepada du’at dan asatidzah yang istiqomah di jalan dakwah salafiyah, yang tetap mengkarakteristiki dakwahnya dengan ilmu dan amal shalih, dengan cara yang hikmah, liyn, rifq dan ta`anni. Yang menyibukkan diri dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat di tengah umat, berdakwah dan mengajak manusia kepada jalan al-Haq dan manhaj as-Salaf ash-Shalih ini. Yang bermujadalah (berdiskusi) dan munazhoroh (dialog) secara ilmiah dengan lawan atau orang yang berseberangan dengannya, yang hasrat dan keinginannya adalah memberikan nasehat agar lawannya menerima al-Haq dan ruju’ kepada kebenaran.

Adapun mereka yang menyibukkan diri dengan fitnah dan sibuk dengan mencari-cari kesalahan, sibuk dengan mencela, mengumpat, mencerca, menfitnah, berdusta dan perbuatan buruk lainnya, sedangkan mereka ini hakikatnya orang-orang yang masih jahil (juhala’) namun sok menjadi ulama ahli jarh wa ta’dil (baca : ahli jarh wa tanfir), menyebarkan syubuhat dan fobia ke tengah umat akan dakwah salafiyah ini, maka mereka inilah yang dimaksudkan dengan risalah ini, dan mereka adalah khubatsa’ (orang-orang busuk pemikiran dan pemahamannya), munaffirin (orang yang membuat umat lari dari kebenaran), hizbiyyun berpakaian dengan pakaian salafiyyah, Ghulat (orang-orang yang ghuluw) dan Haddadiyah jadidah.

Risalah ini adalah sebagai nasehat dan pertolongan semata, nasehat bagi diri sendiri, ummat dan mereka yang terpengaruh oleh manhaj yang rusak ini, dan pertolongan bagi saudara kita yang mazhlum (orang yang dianiaya) dan orang zhalim (menganiaya).

  

Semoga Alloh subhanahu wa Ta’ala menjadikan risalah ini bermanfaat bagi islam dan muslimin, terutama saudara-saudara sesama ahlus sunnah yang tengah bertikai dan berselisih saat ini.

Risalah ini adalah sebagai peringatan, agar kita tidak terjatuh ke dalamnya, bukan untuk sarana mencela dan menghujat balik. Apabila ada kata-kata yang terkesan kasar di sini, maka ini merupakan peringatan umum bagi mereka-mereka yang merasa tertuju isi risalah ini padanya, agar mereka sadar dan kembali ke manhaj yang benar, dan menanggalkan serta melepaskan belenggu hizbiyyah dan manhaj haddadiyah yang membinasakan ini.

Saya memohon pada Allah ‘Azza wa Jalla semoga memberikan TaufiqNya kepada (kita) seluruhnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfa’at dan beramal dengannya serta berda’wah kepadanya di atas hujjah yang nyata, dan semoga Ia mengumpulkan kita semuanya di atas kebenaran dan petunjuk dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai fitnah baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha penolong atas segala hal dan Dia Maha kuasa atasnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Nya dan RasulNya Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian.

KARAKTERISTIK NEO HADDADIYAH


Sebenarnya telah banyak para ulama yang memperingatkan akan bahaya dan kerusakan manhaj haddadiyah ini, terdepan di kalangan para ulama yang telah menjelaskan akan bahaya manhaj ini adalah :

Al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dalam ceramah beliau yang berjudul Haqiqotul Bida’ wl Kufri, dan masih banyak lagi ceramah-ceramah beliau lainnya.

Al-Imam al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdilllah bin Baz rahimahullahu di dalam kaset-kaset rekaman ceramah dan tanya jawab beliau yang tersebar, diantaranya yang berjudul Kibarul ‘Ulama Yatakalllamuuna ‘anid Du’at dan Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi’ah juz XXVIII

Al-Imam al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu di dalam Liqo’ Babil Maftuh no. 67, 98 dan selainnya.

Al-‘Allamah al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu dalam risalah Rifoqn Ahlas Sunnah dan al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah, dan selainnya dari ceramah-ceramah beliau.

Al-‘Allamah DR. Prof. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu dalam artikel beliau yang berjudul Mumayyizat al-Haddadiyah dan selainnya.

Al-‘Allamah DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullahu dalam buku beliau Zhahiratut Takfir, at-Tabdi’ wat Tafsiq dan kumpulan ceramah beliau di dalam Silsilah Muhadhoroh fil Aqidah wad Da’wah.

Al-‘Allamah DR. Bakr Abu Zaid dalam buku beliau, Tashnifun Naas bayna azh-Zhonni wal Yaqin.

Masyaikh Yordania di dalam ceramah-ceramah mereka yang mereka sampaikan di dauroh-dauroh dan liqo’at mereka.

Syaikh Amru ‘Abdul Mun’im Salim dalam buku beliau yang bagus al-Ushul allati bana ‘alaihaa ghulaatu madzhabihim fit tabdi’.

dan ulama-ulama lainnya yang tidak terhitung yang semuanya mencela sikap ghuluw di dalam tabdi’ dan menvonis manusia.

Haddadiyah sendiri adalah sebuah penisbatan kepada Abu Muhammad al-Haddad, salah seorang mantan murid Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi yang memiliki penyimpangan-penyimpangan pemikiran yang berbahaya, yang berangkat dari sikap ghuluw-nya di dalam beragama, yang mencela semua pemahaman selain pemahamannya, bahkan termasuk pencelaan kepada para ulama semisal Imam Abu Hanifah, al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan selain mereka yang terjatuh kepada kesalahan.

Pemikiran ini hidup kembali dan bangkit menyusup ke barisan para pemuda mutamassikin pada awalnya, lalu berubah menjadi ghulat haddadiyah gaya baru yang dikenal akan karakter keras, bengis, mudah menvonis dan sangat arogan serta sombong.

  

Berikut ini adalah diantara karakteristik mereka :


1- Menjadikan Salafiyyah sebagai Hizbiyyah

Diantara karakteristik penting Haddadiyah adalah menjadikan manhajnya sebagai manhaj hizbiyyah dengan beraneka ragam bentuknya, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Gegabah dan Mudah menvonis bid’ah, fasiq dan sesat.

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu memperingatkan dari hizbiyah yang menyebut diri mereka sebagai salafiyyun namun mereka mudah menvonis sesat, bid’ah dan fasiq satu dengan lainnya, beliau rahimahullahu berkata :
“Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin agar menjadikan madzhab mereka dengan madzhab salaf, bukannya berintima’ (condong) kepada kelompok spesifik yang disebut dengan “salafiyyin”. Wajib untuk menjadi umat yang satu yaitu yang madzhabnya adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih dan tidak malah bertahazzub (berkelompok-kelompok) kepada kelompok yang disebut dengan “salafiyyin”. Ada thoriq (metode) salaf dan ada pula kelompok yang disebut dengan “salafiyyin” sedangkan yang dituju adalah ittiba’ (menauladani) salaf. Hanya saja, ikhwah (saudara-saudara) kita salafiyyin, mereka ini adalah kelompok yang paling dekat dengan kebenaran, namun problematika mereka adalah sama dengan kelompok-kelompok lainnya, yaitu sebagian oknum dari kelompok ini, mereka mudah menvonis sesat, menvonis bid’ah dan fasiq. Kami tidak mengingkari hal ini apabila mereka memang orang yang berhak untuk melakukannya (menvonis), namun yang kami ingkari adalah sikap memperbaiki kebid’ahan ini dengan metode yang seperti ini…”
[lihat : Syarh al-Arbaain an-Nawawiyyah, oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Cet. I, 1424/2003, Darun Nasyr Lits Tsuroya, Riyadh, hal. 272, hadits no. 28, fawaid ke-16].

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu juga berkata :

“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!! Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

 

“Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.” Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”

[lihat : Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.]

Dan masih banyak ucapan-ucapan yang semisal dari Imam Ibnu ‘Utsaimin dan selain beliau dari ulama ahlus sunnah –rahimallohu mayyitahum wa hafizha lil ummah hayyahum-.

Namun, adakah dari mereka yang mengambil ibrah darinya?! Ataukah merasa bahwa nasehat para ulama ini tidak penting?! Atau menganggap nasehat ini bukanlah untuk mereka namun bagi mereka yang ghuluw, aduhai betapa banyak orang yang ghuluw namun tidak merasa bahwa mereka berada di atasnya! Inilah karakter pertama dan utama mereka, yaitu mudah dan serampangan di dalam menvonis sesat, bid’ah atapun fasik, yang mana karakter ini merupakan bagian dari sikap hizbiyyah.

b. Sibuk dengan Tashnif (menggelar-gelari dan mengkotak-kotakkan) manusia secara gegabah dan serampangan tanpa ilmu

Berkata al-‘Allamah Bakr Abu Zaid hafizhahullahu :

“Di zaman kita sekarang ini, turut mengambil andil di dalam peredaran fitnah yang perputarannya berada di dalam kulit orang-orang yang menisbatkan diri kepada sunnah yang ditutupi dengan balutan dengan kain wool, mereka menyandarkan hal ini kepada salafiyyah untuk menzhalimi dakwah salafiyah ini, mereka tegakkan diri mereka dengan melemparkan tuduhan keji yang dibangun di atas hujjah-hujjah yang lemah, dan mereka sibukkan diri dengan kesesatan tashnif …“
[Lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, karya : DR. Bakr Abu Zaed, cet. I, 1414/1995, Darul Ashimah, hal. 28-29]

Beliau hafizhahullahu juga berkata :

“Perseteruan yang terjadi di barisan ahlus sunnah pada awal mulanya, sebagaimana kita ketahui, ditemukan pada orang-orang yang menyandarkan diri padanya ada orang yang memusuhinya, dia kerahkan dirinya untuk menemani mereka dan berbantal sejengkal keinginan untuk memadamkan bara apinya, berhenti di jalan dakwah mereka, dan melepaskan kendali lisan untuk membuat kedustaan terhadap kehormatan pada da’i, dan didapatkan di dalam jalan mereka adanya fanatisme yang menyedihkan (gegabah)…“
[Lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, op.cit., hal. 40]

Iya, sungguh benar Syaikh Bakr Abu Zaid, memang ada sebagian oknum yang berpakaian dengan pakaian salafiyyah, mengaku-ngaku darinya, namun keinginannya adalah ingin merusak barisan salafiyyah dengan melemparkan tashnif dan tuduhan-tuduhan dusta. Seringkali terucap dari lisan keji mereka : “sururi”, “turotsi”, “irsyadi”, “hizbi”, “al-kadzdzab” dan tuduhan-tuduhan lainnya yang bahkan istilah-istilah baru mereka adakan untuk melariskan tashnif mereka kepada manusia, dengan sebutan “salafi pramuki”, “salafi sana sini”, “salafi wisma erni” dan segala macam lainnya. Allohumma na’udzubika minal fizhozhoh.

c. Fanatik dengan pendapat ulama tertentu dan menerapkan wala dan baro` dengannya

Ini adalah salah satu bentuk hizbiyah mereka, yaitu apabila tidak berpendapat dengan pendapat syaikh atau ustadz mereka, maka mereka akan terapkan sikap permusuhan dan baro’ mereka kepada yang menolak pendapat syaikh atau gurunya. Padahal, masalah yang diperselisihkan di sini adalah masalah ijtihadiyah yang debatable. Bahkan mereka yang menolak pendapat mereka didukung oleh ulama ahlus sunnah pula. Namun karena tidak sama dengan pendapat para ghulat ini –dan mungkin juga karena dibakar sikap dengki, iri dan hasad- maka mereka menerapkan sikap permusuhan yang keras dan melontarkan makian, celaan dan hujatan keji kepada fihak yang berbeda dengannya.

Mereka mengatakan, “Syaikh Fulan adalah ulama ahli Jarh wa Ta’dil”, atau “Syaikh Fulan adalah lebih ’alim” atau ucapan semisal. Maka dengan demikian, yang wajib semua orang untuk menerimanya, tak terkecuali siapapun. Adapun ulama ahlus sunnah lain yang berbeda dengan ulama yang mereka pegang pendapatnya, maka mereka mengatakan, “Syaikh tersebut tidak faham keadaan sebenarnya”, atau ’Syaikh tersebut ditipu oleh hizbiyyin” dan ucapan-ucapan semisalnya yang merendahkan dan merupakan tha’n kepada masyaikh tersebut.

Padahal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata :

“Tidak seorangpun berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan wala’ dan bara’ selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berwala’ dan baro’ selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta apa yang menjadi kesepakatan umat, tetapi perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah, mereka menentukan untuk seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat tersebut sebagai tolok ukur dalam berwala’ dan baro’.”
[Lihat : Majmu’ Fatawa XX:164 melalui perantaraan Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad].

Sekiranya mereka berpijak pada metodologi ilmiah, maka mujadalah dan manozhoroh ilmiah yang berangkat dari keinginan tulus untuk munashohah (saling menasehati) dan meluruskan kesalahan, saling mengingkari dengan adab dan ushlub yang baik, tanpa diiringi tahjir (menghajr/memboikot), tajrih (menjarh/mencacat kredibilitas seseorang), tabdi’, tafsiq hingga tadhlil (menvonis sesat) fihak lawannya-lah yang seharusnya mereka terapkan dan aplikasikan.

  

Namun, sebagian mereka yang jahil, sok nyalaf dan sok ahli jarh wa ta’dil, merusak tatanan ilmiah ini dan menghalalkan bid’ah hizbiyah semisal ini di dalam manhaj salaf yang mulia ini dengan perilaku seperti ini. Wallohul Musta’an.

d. Menggunakan Kaidah Rusak : Apabila tidak sepakat denganku maka menjadi musuhku

Inilah kaidah dan syiar mereka, yaitu :

“Jika tidak beserta kami maka musuh kami… Jika kamu tidak setuju denganku maka kamu musuhku…” dan ucapan semisal…

Inilah kaidah rusak mereka yang sangat kentara sekali. “…Jika kamu tidak mau menuduh Syaikh Surkati hizbiy, mubtadi’, aqlaniy atau antek belanda, maka kamu adalah Surkatiyyun, Irsyadiyyun… atau tuduhan semisalnya yang keji dan berangkat dari kejahilan yang rangkap (jahil murokkab). Jika kamu tidak mau menolak kerjasama dengan Ihya’ut Turats maka kamu adalah Turotsi, hizbi, pembela dan anak buah Abdurrahman Abdul Khaliq, gila dinar Kuwait, mengais fulus, dan ucapan-ucapan kotor lainnya…

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata :

“Diantara manusia ada yang bertahazzub kepada suatu kelompok tertentu, menetapkan manhajnya, beristidlal (menggunakan dalil) dengan dalil-dalil yang seringkali merupakan dalil yang membantah dirinya sendiri dan terkadang dalil yang menyokongnya. Dia hinakan selain kelompoknya dan dia vonis sesat, walaupun mereka ini adalah (kelompok) yang lebih dekat kepada kebenaran namun diantara mereka (ada oknum) yang gemar menvonis bid’ah dan mengambil mabda’ (landasan) “Barangsiapa yang tidak sepakat denganku maka ia musuhku“, dan ini adalah mabda’ yang khabits (buruk).”
[Lihat : Kasyful Haqo`iq al-Khofiyyah ’inda al-Mudda’i as-Salafiyyah oleh Mat’ab al-Ushoimi, didownload dari www.tarafen.com]

Mabda’ ini merupakan ciri khas yang paling tampak pada mereka, dan hal ini sangat terlihat jelas pada sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiyyah, bahkan mengklaim sebagai satu-satunya salafiy sejati yang kebal manhajnya, yang doyan menuduh sana sini dengan kebodohan dan kedengkian, dengan hawa nafsu dan ambisi pribadi, hanya untuk memenuhi obsesi sebagai ahli cela mencela dan tukang hujat yang produktif, yang terbakar oleh semangat jahiliyah yang membara, untuk membela manhajnya yang rusak dan buruk. Nas’alulloha as-Salamah min hadzihil Juhalaa’ al-Khubatsa’.

  ù 

  

Iklan