Menelusuri Kelompok Islam Sempalan III:

NII dan AMIN, Made In Indonesia

Reporter: Solahudin

(Penulis adalah wartawan freelance yang pernah bekerja pada majalah Ummat dan Panji Masyrakat)

detikcom – Jakarta, Ada dua kelompok Islam sempalan bikinan orang Indonesia sendiri. Keduanya, belakangan ini sangat populer, yakni AMIN dan NII. Dulu, mereka sering dijadikan kambing hitam oleh aparat keamanan, khususnya Angkatan Darat dan polisi. Benarkah mereka eksis?

Negara Islam Indonesia alias N Sebelas

Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sudah dihukum mati, tapi warisannya tetap eksis. Gerakan Negara Islam Indonesia (NII) ternyata tak bisa ditumpas. Hingga sekarang NII tetap aktif bergerilya untuk mengembalikan berdirinya negara Islam. Nah, untuk kembali mendirikan NKA NII (Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia, yang sebenarnya pernah eksis pada 1949 dan ditumpas oleh pemerintah Indonesia pada 1962, gerakan ini menerapkan tiga tahapan perjuangan yang diadaptasi dari sejarah perjuangan Rasulullah. Pertama, amanu, inilah tahap pembinaan aqidah. Dalam tahap ini NII mendidik kadernya untuk mempunyai keimanan yang kuat. Kedua, hajaru, atau hijrah. Hijrah dari sistem kufur ke sistem Islam. Oleh kelompok ini hijrah berarti bergabung dengan shaf atau barisan yang menghimpun muhajirin untuk berjihad di jalan Allah. Nah, barisan itu tak lain dan tak bukan adalah NII. Terakhir adalah jahadu, atau berjihad untuk menegakan sistem Islam dengan berdirinya NKA NII.

Namun kini NII tak lagi satu. Gerakan yang sering disebut N Sebelas ini pecah berantakan lebih dari sebelas faksi. Setidaknya ada 14 Faksi. Diantaranya Faksi Kyai Masduki, Faksi Tahmid (anak Kartosoewirjo), Faksi Abdul Fatah Wiranagapati, Faksi Abdullah Sungkar, Faksi Mahfud Sidik, Faksi Kadar Solihat. Faksi Aceh, Faksi Sulsel, Faksi Madura, Faksi KW-7,  Faksi KW-9, Faksi Adah Zaelani, Faksi AL-Chaidar dan beberapa lagi.

Secara garis besar ke-empat belas faksi ini bisa dimasukan kedalam dua kelompok. Pertama, fillah, kelompok yang orientasi perjuangan secara damai, seperti faksi Kadar Solihat. Bagi kelompok fillah, ummat Islam di Indonesia belum siap untuk menerima syariat Islam. Sebagai langkah awal, memperjuangkan dikembalikannya Piagam Jakarta saja sudah sangat bermakna. “Tak ada akar rotan pun jadi,” ujar Dikdik, aktivis NII dari garis fillah.

Sementara kelompok kedua, adalah NII garis keras yang dikenal dengan sebutan kelompok sabilillah yang punya orientasi perjuangan bersenjata, seperti faksi Tahmid. Nah, faksi-faksi sabilillah inilah yang paling banyak menampung para alumni veteran perang Afganistan dan Moro. Ihwal pengiriman para aktivis NII ke kancah-kancah peperangan itu, selain untuk berjihad juga sebagai tempat latihan perang alias universitas jihad. Pangkalnya di negeri sendiri, hampir mustahil melakukan latihan angkat senjata. Apalagi di zaman Suharto yang amat ketat mengawasi kelompok-kelompok Islam ini.

Bedanya dengan kelompok-kelompok Islam lainnya di Indonesia, NII tak hanya mengakar di kampus tapi juga di kalangan masyarakat biasa. Pasalnya, NII masih punya basis massa tradisional yang kuat di beberapa daerah. Potensi ini tak dimiliki oleh IM, HT atau pun Salafy yang hanya mendapat dukungan dari kalangan kampus dan perkotaan.

Meski pun Soeharto telah jatuh, hingga kini NII tetap bergerak di bawah tanah. Pola rekrutmen anggotanya melalui halaqah-halaqah yang berjalan secara intens dan tertutup. Maksudnya, dilakukan dengan sistem sel. Pola hubungan antara aktivis diatur dalam sebuah strata yang ketat dan mnggunakan pola patron-klien.

Seorang anggota baru tak serta merta mengetahui siapa gerangan pemimpin mereka yang sebenarnya. Ia hanya kenal orang yang merekrutnya. Baru setelah keanggotaan mereka cukup lama dan dinilai memiliki  nilai-nilia dan sikap yang selaras dengan ajaran Islam, anggota baru itu tahu lebih banyak tentang organisasinya.

AMIN atau Aliansi Mujahidin Islam Nusantara

Dua tahun belakangan ini, nama AMIN (Aliansi Mujahidin Islam Nusantara) sempat jadi lakon pemberitaan di media massa. Kelompok ini dituduh terlibat dalam kasus pembacokan Matori Abdul Jalil, pemboman sebuah wartel, perampokan BCA di Jl. Hayam Wuruk bahkan disebut-sebut terlibat dalam pemboman mesjid Istiqlal. Namun sayang polisi gagal mengungkap soal AMIN, akibatnya masyarakat memandang AMIN sekedar kelompok fiktif bikinan polisi.

Namun berdasarkan penelusuran sementara ini, menunjukan bahwa kelompok ini eksis. Menurut sumber, AMIN ini awalnya didirikan oleh Kiai Syamsuri Abdul Mazid yang terkenal karena dianggap sebagai penjelmaan Qahar Muzakar. Awalnya AMIN singkatan Angkatan Muslim Indonesia. Namun di tengah jalan, bergabung kelompok yang menamakan diri kelompok Kompi Abu Bakar dipimpin oleh Yoyok (bukan Yoyok yang meninggal dalam kasus ledakan bom di Pangandaran Sukabumi). Kompi Abu Bakar ini mengaku punya pasukan berjumlah 3.000 orang tentara alumni Moro.

Nah Yoyok kemudian memaksa Kyai Syamsuri untuk mengubah gerakan Angkatan Muslim Indonesia yang awalnya cendrung gerakan tarekat, menjadi gerakan jihad untuk menegakkan hukum Islam di Indonesia. Dalam perbincangan dengan Kyai Syamsuri tersebut, kabarnya Yoyok juga menyampaikan rencana perampokan terhadap bank BCA untuk mengumpulkan dana buat beli senjata. Namun ajakan itu ditolak Kyai Syamsuri. Yoyok sendiri lantas menamakan kelompoknya Angkatan Mujahiddin Islam Nusantara (AMIN).

Dalam merekrut anggota Yoyok dan kawan-kawannya biasanya mempengaruhi para aktivis Islam atau orang-orang Islam di sekitarnya dengan mengatakan, bahwa Islam di Indonesia sedang terancam oleh orang-orang Kristen dan Komunis. Benny Moerdani telah mempersiapkan pasukan terlatih yang setiap saat siap menyerang orang Islam. Mereka adalah pasukan yang terdiri dari orang-orang Ambon dan dilatih di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Untuk menyakinkan para aktivis Islam ini Yoyok biasanya memperlihatkan foto-foto aktivitas pasukan Boeny Moerdani yang sedang latihan di Gunung Salak. Tak diketahui apakah foto itu benar-benar asli atau sekedar hasil teknik montase.

Para aktivis kelompok AMIN ini biasanya memprovokasi orang yang akan direkrutnya untuk menyerang duluan sebelum pasukan Boeny bergerak. Untuk itu mereka perlu uang buat beli senjata. Nah, uang itu bisa didapat dengan cara merampok bank-bank dan itu dihalalkan karena bank-bank itu adalah institusi ekonomi yang bathil karena menerapkan sistem riba. Belakangan setelah kasus BCA, Yoyok melarikan di ke Malaysia. (diks)

Sumber : http://abuharits.cjb.net