Menelusuri Kelompok Islam Sempalan II:

Jamaah Pengelana dan Laskar Jihad/Salafi

 Reporter: Solahudin

(Penulis adalah wartawan freelance yang pernah bekerja pada majalah Ummat dan Panji Masyrakat)

  

detikcom – Jakarta, Ada dua aliran dari Timur Tengah yang kehadirannya selalu dicurigai. Yang pertama, karena menjalankan prinsip khuruz mereka tampak dakwah di mana-mana. Yang kedua, karena penafsiran yang ketat terhadap ajaran Islam, mereka cenderung radikal. Itulah Laskah Jihad Ahlusunnah Waljamaah. 

  

Jamaah Tabligh alias Kaum Pengelana

   

Inilah jamaah kaum pengelana. Anggota Jamaah Tablig (JT) berkelana ke berbagai penjuru Nusantara. Hanya satu tujuannya, mengajak ummat ke jalan Allah. Jamaah ini berdiri 1930, di kota Sahar Nufur, anak benua India. Pendirinya, Muhammad Ilyas bin Shekh Muhammad Ismail, adalah ulama kelahiran desa Kendahlan, Sahar Nufur. Kini, tabligh berpusat di Nizamuddin, India.  Prinsip pokok ajaran Tabligh ada enam: syahadat, salat, ilmu dan zikir, memuliakan kaum muslimin, ikhlas dan jujur, dan, yang terakhir, khuruz fi sabillillah atau berdakwah ke luar.  Jamaah Tabligh masuk pertama kali ke Indonesia pada 1952, di bawa rombongan dari India yang dipimpin oleh Miaji Isa. Namun gerakan ini mulai marak pada awal 1970-an.  Sekarang JT berpusat di sebuah mesjid tua Kebon Jeruk, Jakarta. JT sendiri dikomandani oleh tujuh orang yang duduk dalam majelis syuro JT Indonesia. Mereka adalah: H. Ahmad Zulfaqar, H Cecep Firdaus, Muhammad Muslihuddin, DR AA Noor, Syamsuddin Abdullah, Ir. Aminuddin Noor, dan M Sani Ilyas.  Berbeda dengan IM yang menerapkan sistem rekrutmen anggota yang sangat ketat, JT menerapkan keanggotaan yang sangat longgar, siapa saja boleh bergabung dan keluar secara suka rela. Meskipun tak bergerak sembunyi-sembunyi JT kerapkali disalah mengerti dan dicurigai. “Dianggap gerakan sesat lah, dianggap gerakan yang ingin mendirikan negara Islam, seringkali jadi tuduhan-tuduhan yang sering kita terima,” ujar Yanto, anggota JT di Bandung.  Padahal, JT sendiri punya aturan tak boleh memperbincangkan persoalan politik. “Alasannya, karena tujuan dakwah itu menyatukan ummat. Sementara politik itu cendrung memecah belah ummat,” kata Zulfaqar, pensiunan Angkatan Darat berpangkat Letkol kepada majalah Suara Hidayatullah.  Nah, khuruz inilah yang jadi ciri utama Tabligh- yang maksudnya adalah dakwah ke luar. Menurut ajaran JT, paling tidak, khuruz harus dilakukan selama 40 hari seumur hidup. Selama khuruz, dalam kelompok 5-15 orang, mereka meninggalkan rumah dan berdakwah mengajak orang untuk mengamalkan ajaran ritual Islam.  Dengan mengelompok di satu mesjid, di satu wilayah, mereka menyebar dakwah ke sudut-sudut kota atau desa-desa. Mereka tak enggan untuk berdakwah ke tempat-tempat yang sering dijadikan praktek maksiat. Sebut saja, ke lokasi-lokasi permainan bola sodok, karaoke dan bahkan ke lokalisasi WTS.  Mereka juga menyebrang samudera dari Indonesia ke negeri-negeri Jiran, hingga Malaysia bahkan Bangladesh.

   

Salafy dan Laskar Jihad 

  

Gerakan paling bungsu dari Timur Tengah yang masuk ke Indonesia adalah gerakan salafy. Sejarah gerakan ini berawal dari Muhamad bin Abdul Wahab yang lahir di Uyainah, sebuah desa di Riyadh, Saudi Arabia.  Gerakan Wahabi, aslinya,  sempat menghancurkan makam-makam penting di Timur Tengah, lantaran dianggap kerap digunakan sebagai tempat syirik, menyekutukan Tuhan. Gerakan salafy sendiri sebenarnya adalah reaktualisasi dari ajaran Syekh Abdul Wahab yang dianggap hujah ajarannya, kurang sempurna karena banyak memakai hadits dhaif. Tokohnya adalah Nashrudin Al-Albani salah seorang tokoh ahli hadits.  Secara prinsip gerakan salafy memang tak berbeda banyak dengan gerakan wahabi. Misalnya, amat ketat dalam hal tauhid. Jadi, dengan penekanan untuk memurnikan tauhid, mereka bersikap tegas terhadap hal-hal yang dianggap syirik. Misalnya, meminta doa di kuburan dan menganggap sebagai bid’ah. Tak heran bila tasawuf pun dianggap sesat.  Gerakan salafy ini berkembang di Indonesia di awal 1990-an. Sebagaimana gerakan Ikwanul Muslimin, gerakan ini dibawa oleh para sarjana alumni Timur Tengah khususnya yang bersekolah di Universitas-universitas di Arab Saudi dan Kuwait.  Di Indonesia gerakan salafy ini berkembang cukup pesat di berbagai kota di Jawa, seperti Yogyakarta, Bandung, Bangil dan lain-lain. Gerakan Salafy ini mendirikan pesantren-pesantren Salaf dan di sana kitab-kitab yang ditulis oleh orang Salafy seperti Nashrudin Al Albani, Abdullah bin Baz dikaji secara serius.  Namun di Indonesia jamaah salafy ini pecah jadi dua. Satu kelompok yang merujuk kepada gerakan Salafy di Kuwait, sekarang tokoh Salafy Kuwait ini adalah Abu Nida dan Yazid Jawash. Sementara kelompok Salafy yang berkiblat ke Arab Saudi imamnya adalah Ja’far Umar Thalib, alumni pesantren Persis Bangil yang kemudian melanjutkan sekolah ke Maududi Institute di Lahore Pakistan.  Nama Ja’far Umar Thalib sendiri naik daun setelah dia memimpin Laskar Jihad untuk berperang ke Maluku. Urusan perang memang bukan urusan yang asing buat Ja’far Umar Thalib. Pasal Ja’far Umar adalah veteran perang Afghanistan pada tahun 1987-1989.  Nah, keputusan kelompok salafy untuk berjihad ini ke Ambon keluar setelah keluar fatwa dari salah seorang tokoh Salaf di Yaman, Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i pada awal 2000 lalu yang menyatakan bahwa jihad di Maluku wajib hukumnya.  Kelompok Salafy sendiri sangat anti demokrasi. “Indonesia sedang dirundung malang oleh malapetaka demokrasi yang sangat menjunjung tinggi apa yang dinamakan kedaulatan rakyat,” tulis Ja’far Umar dalam majalah Salafy.  Apa salahnya kedaulatan rakyat? Menurut Ja’far, ini bisa dilihat dengan menggunakan parameter beberapa prinsip politik Islam. Parameter itu antara lain, “Pertama, kekuasaan hanya milik Allah dan bukan milik rakyat. Kedua, hukum yang sah berlaku hanyalah hukum Allah dan rosulnya walaupun bertentangan dengan mayoritas rakyat. Ketiga, tidak boleh tunduk kepada suara mayoritas, tetapi hanya tunduk kepada hukum Allah” tegas Ja’far. (diks)   

   

Sumber : http://abuharits.cjb.net