Benarkah Mereka Pelaku Pemboman?

 Reporter: Solahudin

(Penulis adalah wartawan freelance yang pernah bekerja pada majalah Ummat dan Panji Masyrakat)

  

detikcom – Jakarta, Dokumen NII di bengkel Haji Aceng, dan pengakuan Dedi Mulyadi yang menyebut dirinya veteran perang Afganistan seolah menuduh gerakan Islam Sempalan terlibat dalam kasus pemboman. Melihat peta gerakan Islam di atas tuduhan itu bukan tak berdasar. Benarkah?

  

Kelompok Islam sempalan yang disebut diatas memang ada yang punya sejarah akrab dengan jalan kekerasan. Sebutlah Hizbut Tahrir (HT) yang sempat tercatat melakukan beberapa kali upaya aksi kudeta di beberapa negara.  Dalam The Oxford of Encyclopedia of the Modern Islamic World (1995), Suha Taji-Farouki dari Pusat Kajian Timut Tengah dan Islam, Universitas Durham, menulis bahwa HT pernah mencoba kudeta di Amman Jordania dua kali pada 1968 dan 1969. Aksi serupa juga pernah dilakukan HT di Damaskus, Suriah dan Bagdad, Iraq.

  

Sementara itu NII juga perjuangannya tak lepas dari gerakan bersenjata. Begitu juga AMIN.  Nah, kalau kita menerima asumsi bahwa ada kemungkinan gerakan Islam sempalan terlibat dalam aksi pemboman, kira-kira kelompok mana yang mungkin melakukannya?

  

Bagaimana dengan kemungkinan HT alias Hizbut Tahrir?  Meskipun punya sejarah melakukan upaya kudeta, menuduh HT terlibat kasus pemboman adalah kurang berdasar. Pasalnya tahap perjuangan HT di Indonesia masih dalam tahap awal kedua (marhalah), yaitu tahapan berinteraksi dengan masyarakat. Sementara tahap ketiga, yaitu merebut kekuasaan yang potensial memakai jalan kekerasan masih jauh dari terlaksana.  Sebagai kelompok yang sangat taat dengan tahapan-tahapan perjuangannya, mustahil HT terlibat dalam aksi kekerasan yang hanya akan merusak tahapan perjuangan mereka.

  

Mungkin orang justru curiga terhadap gerakan Salafy terutama Faksi Ja’far Umar Thalib yang juga komandan Laskar Jihad. Bagaimana kemungkinannya?  Di Maluku Laskar Jihad jelas-jelas berperang melawan kaum Kristen Maluku. Sementara itu, dalam kasus pemboman juga jelas-jelas yang jadi korban adalah orang Kristen. Ditambah lagi Ja’far Umar Thalib juga veteran perang Afganistan sama dengan Dedi Mulyadi – kalau pengakuan Dedi benar.  Sepintas tuduhan terhadap gerakan Salafy cukup masuk akal. Namun kalau kita lebih cermat, keterlibatan Laskar Jihad berperang di Ambon karena turunnya sebuah fatwa dari salah satu Imam Salafy di Yaman yaitu Syaikh Muqbil Bin Had Al Wadi’i. Nah, fatwa jihad itu sendiri dikeluarkan khusus hanya untuk berjihad di Maluku, tidak di seluruh Indonesia.  Sebagai kelompok yang sangat taat dengan fatwa-fatwa ulamanya, tak ada alasan buat Laskar Jihad untuk memperluas medan peperangan keluar dari Maluku. Selain itu, kalau memang mereka berniat berjihad melawan kaum Kristen kenapa bom yang digunakan lebih menonjolkan efek merusak ketimbang untuk membunuh.

  

Lantas bagaimana dengan Tarbiyah atau Ikhawanul Muslimin dan Jamaah Tablig?  Tuduhan mereka terlibat pemboman tampaknya tuduhan paling lemah. Pasalnya gerakan tarbiyah sudah memilih tahap perjuangan melalui jalur politik formal. Mereka membentuk Partai Keadilan yang cukup berhasil sebagai partai baru. Sementara Jamaah Tabligh sendiri adalah gerakan anti kekerasan dan apolitis.

   

Kalau Hizbut Tahrir, Tarbiyah, Jamaah Tablig maupun Salafy bukan pelakunya lantas bagaimana dengan gerakan sempalan made in Indonesia seperti NII atau AMIN?  Kelompok NII memang cukup beralasan dicurigai. Dokumen NII ditemukan. Pengakuan Al-Chaidar, seorang aktivis NII, di berbagai media juga mengatakan bahwa ribuan alumni perang Afganistan sekarang bergabung dengan NII semakin menguatkan tuduhan bahwa NII mungkin terlibat dalam kasus pemboman.  Meskipun begitu masih tersisa pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa mementahkan tuduhan terhadap NII. “Selama ini orang Kristen tak pernah direken sebagai musuh. Wacana Kristen sebagai musuh tak pernah muncul dalam materi-materi pengajian NII,” ujar Dikdik, seorang anggota NII dari faksi fillah. “Bagi NII jelas musuh kita adalah RI bukan orang Kristen.”  Kecurigaan terhadap kelompok AMIN juga beralasan. AMIN berhasil mengumpulkan ratusan alumni Moro yacng punya ketrampilan mahir dalam urusan bom membom. Selain itu, AMIN juga dikenal sebagai kelompok yang sangat anti Kristen. Namun lagi-lagi ada pertanyaan kalau memang AMIN kelompok yang amat benci Kristen kenapa memakai bom yang punya efek merusak bukan membunuh.

  

Ada pertanyaan lain yang kembali mungkin bisa mementahkan tuduhan-tuduhan terhadap NII dan AMIN. Apakah mereka punya dana yang cukup untuk melakukan sebuah aksi pemboman massal di sepuluh kota dalam waktu yang hampir bersamaan dan target sasaran yang sama?  “Padahal biasanya sasaran atau lokasi aksi terorisme tunggal,” ujar Djuanda, bekas penasihat intelegen Gus Dur. Pasalnya, “Sebuah operasi terorisme memakan biaya yang sangat besar, yang sangat mustahil bisa ditanggung oleh kelompok-kelompok Islam yang sering disebut sebagai ekstrim kanan. Itu juga kenapa jadi alasan aksi terorisme di dunia umumnya memilih sasaran tunggal,” tambah Djuanda yang pensiunan Letnan Kolonel Angkatan Laut.  Sementara itu fakta di lapangan dan informasi dari sumber-sumber di lapangan juga bisa mementahkan tuduhan bahwa gerakan islam sempalan terlibat dalam kasus pemboman di malam Natal. Fakta di lapangan menunjukan bahwa pelaku pemboman ternyata tidak satu kelompok. “Bisa jadi di Jawa Barat, pelakunya diduga dari kelompok Islam, tapi lain cerita dengan Jakarta. Setahu saya di Jakarta terlibat juga militer. Sementara di Medan melibatkan kelompok kriminal, ” ujar Djuanda.  Fakta di lapangan memang memperkuat dugaan Djuanda. Beberapa hari sebelum pemboman di Gereja Kathedral terjadi penyusupan. Seorang lelaki mengaku bernama Hieronymus bekerja sebagai pegawai keamanan di gereja Kathedral. Dia mengaku direkomendasi seorang pastor paroki Romo Wisnumurti untuk bekerja disana.  Namun belakangan ketika dicek ke romo tersebut ternyata Romo Wisnumurti tak mengenal lelaki yang amat fasih bicara seluk belum bom. Belakangan terbongkar juga bahwa orang ini ternyata memiliki KTP atas nama berbeda: Khairullah yang beragama Islam dan berdomisili di Serang. Belakangan pada tanggal 31 Desember rombongan polisi dipimpin Goris Mere menangkap Hieronymus Khairullah. Namun pihak Polda sendiri mencoba menutupi fakta penyusupan tersebut. Ketika ditanya soal orang itu, petugas Polda hanya bilang: “Itu orang gila. Tak usah dipikirkan.”  Soal kemampuan dana, logistik serta fakta dan dugaan bahwa pelaku peledakan tidak dari satu kelompok makin menguatkan anggapan bahwa tuduhan kelompok Islam sempalan sebagai master mind pemboman di malam natal tampaknya tuduhan yang masih prematur.

  Sumber : http://abuharits.cjb.net