Khawarij Masa Kini

Oleh : Dr. Mustafa Helmi

  

Dua contoh akidah Khawarij pada masa kini adalah :

  

          Yang pertama:

  

Al-Abadhiyyah. Mereka ini hidup diAfrika Utara, Tunis, al-Jazair, juga Oman dan Zanzibar. Namun tidak ada cara lain bagi kita untuk mengetahui pandangan-pandangan mereka kecuali dari buku-buku itulah kita memperoleh petunjuk tentang pemikiran-pemikiran umum yang hanya dimiliki oleh orang-orang Khawarij,misalnya tidak mengakui para pelaku dosa besar sebagai orang-orang mukmin dan pandanganmereka tentang imam ‘Ali bin Abi Thalib ra.

  

Untuk itu kita ambil saja buku An-Nur yang ditulis oleh Syeikh al-Mash’abi sebagai contoh kajian kita ini.

  

Syeikh ‘Abul ‘Aziz al-Mash’abi mengatakan “Sesungguhnya para pelaku dosa besar yang mengabaikan kewajiban-kewajiban agama, menurut pandangan kami, tidaklah bisa disebut mukmin dan muslim, tetapi munafik dan kafir, atau kafir dan munafik sekaligus. Ia terbebas dari syirik dan dari iman karena teracuni oleh kekafiran, kemunafikan dan kemaksiatan”.

  

Untuk pandangannya ini,Syeikh al-Mash’abi bersandar pada ayat al-Qur’an yang berbunyi:  “…mereka berada dalam keadaan ragu antara demikian itu (iman dan kafir)…” (QS. An-Nisa’, 4:143). Interpretasinya adalah bahwa mereka itu tidak tergabung dalam kalangan kaum Muslimin dalam penamaannya dan tidak pula tergolong orang-orang musyrikin dalam hukum dan sepak terjangnya. Juga bersandar pada ayat: “Tidaklah mereka itu termasuk golonganmu dan tidak pula termasuk golongan mereka…”. Dengan demikian Allah sendiri pun telah menafikan diri mereka sebagai orang-orang mukmin atau musyrik, sebagaimana yang dikatakan pula oleh ayat yang lain, yakni: “Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu, padahal mereka bukanlah dari golonganmu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu)” (QS. At-Taubah, 9:56). Yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah orang-orang yang takut berperang tetapi tidak melakukan perbuatan kaum musyrikin. Mereka memperlihatkan keislaman mereka hanya lantaran takut kepada kaumMuslimin (taqiyyah) sebagaimana yang dimaksudkan pula oleh ayat: “Maka, apakah orang yang beriman itu seperti orang yang fasik? Mereka (pasti) tidak sama” (QS. As-Sajdah, 32:18), yakni orang-orang seperti al-Walid bin Uqbah.

  

Itulah ayat-ayatyang menjadi dalil bagi pandangan al-Mahs’abi. Al-Mash’abi juga menyandarkan pendapatnya pada hadits-hadits Rasul, antara lain: “Ada empat hal yang bila seluruhnya atau salah satu diantara yang empat itu berada dalam diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafik, sekalipun ia shalat dan puasa serta menganggap dirinya muslim, yakni bila berkata ia bohong, bila diberi amanat ia khianat, bila berjanji ia ingkar, dan bila bermusuhan ia curang”. Juga, “Maukah anda sekalian aku beritahu tentang perbuatan yang berada di antara mukmin dan munafik?”. Orang munafik itu ialah orang yang mengucapkan La ilaha illallah, tetapi perhatiannya sangat tertuju pada isi perutnya, pemuasan kemaluannya, dan kenikmatan duniawi”. Karena itu, manusia ini dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok:

  

1.                  Orang yang mengakui Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ia adalah orang mukmin dan muslim, yang bisa diterima kesaksiannya dan dipercaya ucapan-ucapannya.

2.                  Orang yang mengakui Allah tetapi tidak melaksanakan perintah-perintah agama. Ia adalah munafik dan kafir, kafir dan kafir, fasik dan ahli maksiat yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keimanannnya. Orang seperti ini haram dibunuh, dirampas hartanya, dan ditawan anak-anaknya. Namun ia tetap boleh dinikahi, diwarisi, dimakamkan di kuburan kaun Muslimin, dan beri hak-hak lain yang merupakan hak-hak kaum Muslimin.

3.                  Orang yang membangkang kepada Allah atau menyamakannya dengan makhluk-Nya. Ia adalah orang musyrik yang boleh dibunuh, ditawan anak-anaknya, dirampas harta kekayaannya, haram binatang sembelihannya, tidak boleh dinikahi, diwarisi, dan dikuburkan di pemakaman orang-orang yang berakidah tauhid.

  

Untuk pembagian tersebut diatas, al-Mash’abi berdalil pada ayat al-Qur’an ini: “Agar Allah mengadzab orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan, dan menerima taubat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan…” (QS. Al-Ahzab, 33:73)

  

Selain itu, terlihat nyata pula adanya sikap yang kuat dalam memegang akidah masing-masing aliran dalam khawarij, sehingga mereka saling menyerang satu sama lain dengan cara yang amat buruk dan keras. Mereka tidak mungkin mau menerima pandangan orang-orang Syafariah yang menyatakan bahwa para pelaku dosa besar itu kafir dan musyrik, boleh dibunuh dan dirampas harta dan anak-anaknya, sebab Allah SWT telah menetapkan hukuman bagi pencuri dengan potong tangan, dan tidak dibunuh sebagaimana halnya dengan orang yang berzina dengan didera dan tidak  pula dibunuh. Kalau seandainya dosa pencuri dan orang yang berzina itu dihukumi sebagai dosa musyrik, niscaya Allah menetapkan agar mereka dibunuh, sebab Rasulullah saw telah [bersabda], “Barangsiapa yang mengganti agamanya, bunuhlah ia”.

  

Selain itu, Khawarij juga mengkritik murji’ah yang menganggap bahwa para pelaku dosa besar itu tetap mukmin  dan muslim dengan berargumentasikan firman Allah yang berbunyi, ”Maka jika mereka beriman kepada apa yang telah mendapat petunjuk” (QS. A-baqarah, 2:137), dan “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu” (QS. Al-Hujurat, 49:10). Dengan demikian, kemaksiatan, menurut kaum Murji’ah tidaklah menghilangkan keimanan yang sempurna, artinya iman mereka itu kurang. Sebab, syarat-syarat iman itu antara lain seperti yang dijelaskan oleh Nabi ini: “Iman ialah hendaknya engkau mengimani Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, dan rasul-rasul-Nya”.

  

Membantah pandangan Murji’ah dengan mengatakan bahwa iman seperti itu hanyalah pengakuan lisan semata dan bukan pengakuan yang dibarengi dengan keyakinan dan amal yang karenanya seseorang berhak disebut sebagai mukmin. Mukmin yang hakiki adalah mukmin seperti yang dikehendaki Allah melalui firman-Nya yang berbunyi : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka” (QS. Al-Anfal, 8:2), “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman…”, dan “sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman…”.

  

Dengan demikian, sifat mukmin itu tidak akan terbentuk kecuali dalam diri orang-orang yang secara terus-menerus melakukan perbuatan yang menjadi ciri-ciri orang beriman seperti disebut oleh ayat-ayat di atas dan tidak melakukan hal-hal yang bisa melenyapkannya.

          

          Selanjutnya melontarkan pertanyaan: “Bukankah anda pun berpendapat bahwa orang yang selama hidupnya hanya menjahit selembar baju tidak dikatakan sebagai penjahit, tetapi disebut sebagai “pernah menjahit?” Orang yang selama hidupnya hanya pernah membangun satu rumah hanya disebut  “pernah membangun rumah” saja dan bukan tukang membuat rumah? Dan orang yang selama hidupnya hanya mencetak sebuah cincin tidak disebut sebagai “tukang cincin” tetapi hanya “pernah membuat sebuah cinicn?”

  

          Karena itu, maka sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar dan mengabaikan kewajiban-kewajiban agama disebut sebagai amin (mengakui) dan bukan Mukmin dalam arti memenuhi perintah-perintah agama. Pendapatnya ini ia sandarkan pada hadits-hadits Rasul: “Tidak akan berzina seseorang yang pelaku zina sepanjang dia mukmin, tidak akan mencuri seorang pencuri sepanjang ia mukmin, dan tidak akan minum khamr seorang peminum khamr sepanjang ia mukmin” dan “Tidaklah disebut sebagai seorang mukmin, seseorang yang tidur dengan perut kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”, “Tidaklah termasuk umat kamu orang yang menipu”, dan “Wahai orang-orang yang mengaku beriman dengan mulutnya tetapi iman di hatinya tidak murni! Ingatlah, jangan sekali-kali kalian sakiti orang-orang mukmin dan jangan pula kalian beberkan aib mereka, sebab barangsiapa yang membeberkan aib saudaranya, niscaya Allah akan membuka aibnya pula…”.

  

          Sementara itu, pendapat yang mengatakan bahwa Allah itu mengampuni semua dosa selain musyrik karena adanya firman Allah yang berbunyi, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) orang yang musyrik kepada-Nya dan mengampuni yang selain itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya…” (QS. An-Nisa, 4:48), maka pandangan itu tidak bisa diterima, sebab yang dimaksudkan dengan “orang yang dikehendaki-Nya” itu adalah orang-orang yang mau bertaubat dan beramal shalih untuk Allah, karena Rasulullah saw sendiri telah berkata, “Barang siapa yang mengharap orang yang berputus asa dari Allah untuk masuk surga, maka Allah akan mempertemukan mereka berdua di dalam neraka”.

  

          Dengan demikian, pelaku dosa besar itu adalah kafir dan munafik, tetapi tidak musyrik, dan masih ada kemungkinan diampuni bagi siapa yang dikehendaki Allah dengan syarat mereka mau bertaubat.

  

Contoh kedua :

  

Pemikiran-pemikiran yang berkembang di kalangan sekelompk kecil para pemuda yang pada intinya memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dengan pandangan kaum Khawarij seperti yang baru saja saya kemukakan di atas, dan yang paling mencolok adalah pengkafiran mereka terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.

  

          Kita tidak bisa menambahkan sesuatu yang baru manakala kita melihat pada kekeliruan mereka yang berpangkal pada kelemahan pemahaman terhadap nash dan kerena tidak memiliki pandangan histories yang berkaitan dengan munculnya peristiwa-peristiwa yang ada pada masa lalu. Karena, sebab-sebab yang melahirkan gerakan Khawarij pada mala lalu itu, erat kaitannya denga fakror-faktor yang betul-betul berbeda dengan kondisi yang ada pada masa sekarang, dimana kita tidak mungkin lagi menerapkan konsepsi Dar as-Salam (Wilayah Islam) dan Dar al-Harb setelah kita mengalami kekalahan-kekalahan yang menyakitkan menghadapi imperialisme yang memecah-belah wilayah-wilayah Islam dengan berakhirnya lambang persatuan mereka yang tercerminkan dalam system kekhalifahan, serta penghapusan syari’at Islam yang kemudian digantikan dengan Undang-Undang Sekuler yang merupakan terjemahan dari Undang-Undang Prancis, Belgia, Italia, Inggris dan lain-lain. Semua itu masih ditambah lagi dengan serangan-serangan lain, semisal penyebarluasan nasionalisme, gempuran terhadap Bahasa Arab, penyusunan system pendidikan yang mirip system pendidikan Barat, dan perusakan bangsa yang dilakukan di balik tabir kegiatan kesenian, mengatasnamakan kebudayaan dan lain sebagainya. Semua itu menopang keberhasilan gerakan kau penjajah – terutama penjajahan peradaban – yang bertujuan membaratkan masyarakat kita agar supaya mereka memiliki bentuk yang – dalam skala luas – menjauh dari system yang Islami. Kondisi dunia Islam yang serupa itu, dengan jelas dinyatakan oleh Gibb dalam bukunya Whither Islam? Bahwa, “Islam, sebagai suatu akidah memang belum lenyap kecuali kehilangan sedikit kekuatan dan kekuasaannya, tetapi sebagai kekuatan yang menguasai kehidupan social, ia telah kehilangan posisinya. Buku H.A.R. Gibb ini dipublikasikan pada tahun 1932.

  

Dengan demikian, kita dituntut untuk, sebelum mengemukakan solusi menghadapi pemikiran-pemikiran serupa itu, melihat persoalan ini dari tiga sisi:

  

          Pertama, bersikap lembut terhadap kaum Muslimin, sebab mereka itu hanyalah korban pertarungan yang menyakitkan melawan kau penjajah selama berkurun-kurun dan masih terus berlangsung sampai detik ini. Mereka amat membutuhkan pertolongan dan petunjuk melalui dakwah yang mempergunakan metoda qur’ani: “Serulah mereka ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik (pula)”.

  

          Masyarakat yang sedang sakit seperti ini amat membutuhkan dorongan moral dan pengobatan.

  

          Kedua, bersikap hati-hati dalam menafsirkan al-Qur’an secara benar melalui bimbingan para ulama’ salaf yang lebih tahu dan paham tentang al-Qur’an. Pandangan-pandangan mereka yang terpuji yang disusun dalam kitab-kitab tafsir, kini masih tetap terpelihara. Hal serupa juga harus kita lakukan terhadap Sunnah Nabi yang membentuk kaidah asasi dalam pengambilan dalil.

  

          Ketiga, mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa sejarah guna membentuk kaitan yang kuat antara peristiwa-peristiwa masa lalu umat Islam dengan pemahaman yang benar tehadap nash-nash al-Qur’an berikut tafsirnya. Buku-buku sejarah telah berbicara kepada kita tentang kekeliruan-kekeliruan paham khawarij dan kesesatan mereka dalam menafsirkan ayat al-Qur’an semenjak kemunculan mereka pada masa ‘Ali bin Abi Thalib yang membangkitkan reaksi kaum Muslimuin untuk mengemukakan hujjah yang lebih kuat dan lebih bisa diterima semenjak mereka mengumandangkan semboyan mereka yang amat terkenal itu, La Hukma Illah Lillah sampai masa kita sekarang ini.

  

Disalin dari terjemahan Al-Khawarij: al-Ushul at-Tarikhi li Mas’alah Takfir al-Muslim, karangan Dr. Mustafa Helmi, 1977. Cetakan I, PUSTAKA 1986.

ôõô 

Iklan