Benarkah Mobil, Listrik dan Jam Bid’ah?

1)

Oleh : Ali Hasan Al Halabi Al Atsari

  

Ini adalah sub kajian yang sangat penting yang membantah anggapan orang yang dangkal akal dan ilmunya, jika bid’ah atau ibadah yang mereka bikin diingkari dan dikritik, sedangkan mereka mengira melakukan kebaikan, maka mereka menjawab, “Demikian ini bid’ah! Kalau begitu, mobil bid’ah, listrik bid’ah, jam bid’ah!”

  

          Sebagian orang yang memperoleh sedikit dari ilmu fiqh terkadang merasa lebih pandai dari ulama Ahli Sunnah dan orang-orang yang mengikuti As-Sunnah dengan mengatakan kepada mereka sebagian pengingkaran atas teguran mereka yang mengatakan bahwa amal yang baru yang dia lakukan itu bid’ah seraya dia menyatakan bahwa “Asal segala sesuatu adalah diperbolehkan”.

  

          Ungkapan seperti itu tidak keluar dari mereka melainkan karena kebodohannya tentang kaidah pembedaan antara adat dan ibadah. Sesungguhnya kaidah tersebut berkisar pada dua hadits. Pertama, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

  

          “Barangsiapa melakukan hal yang baru dalam urusan (agama) kami ini yang tidak ada didalamnya, maka amal itu ditolak.”

  

          Kedua, sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam peristiwa penyilangan serbuk sari kurma yang sangat masyhur,

  

          “Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu.”

  

          Hadits ini Shahih Muslim (1366) dimasukkan ke dalam bab dengan judul, “Bab wajib mengikuti perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kehidupan dunia berdasarkan pendapat”, dan hal ini merupakan penyusunan bab yang sangat cermat.

  

          Atas dasar ini maka sesungguhnya penghalalan dan pengharaman, penentuan syari’at, bentuk-bentuk ibadah dan penjelasan jumlah, cara dan waktu-waktunya, serta meletakkan kaidah-kaidah umum dalam muamalah adalah hanya hak Allah dan Rasul-Nya dan tidak hak bagi ulil amri2) di dalamnya. Sedangkan kita dan mereka dalam hal tersebut adalah sama. Maka kita tidak boleh merujuk kepada mereka jika terjadi perselisihan. Tetapi kita harus mengembalikan semua itu kepada Allah dan Rasul-Nya.

  

          Adapun tentang bentuk-bentuk urusan dunia maka mereka lebih mengetahui daripada kita. Seperti para ahli pertanian lebih mengetahui tentang apa yang lebih maslahat dalam mengembangkan pertanian. Maka jika mereka mengeluarkan keputusan yang berkaitan dengan pertanian, umat wajib menaatinya dalam hal tersebut. Para ahli perdagangan ditaati dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan perdagangan.

  

          Sesungguhnya mengembalikan sesuatu kepada orang-orang yang berwenang dalam kemaslahatan umum adalah seperti merujuk kepada dokter dalam mengetahui makanan yang berbahaya untuk dihindari dan yang bermanfaat darinya untuk dijadikan santapan. Ini tidak berarti bahwa dokter adalah yang menghalalkan makanan yang manfaat atau mengharamkan makananyang mudharat. Tetapi sesungguhnya dokter hanya sebatas sebagai pembimbing, sedangkan yang menghalalkan dan mengharamkan adalah yang menentukan syari’at (Allah dan Rasul-Nya). Firman-Nya,

  

          “Dan menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala hal yang buruk.” (QS. Al-Araf: 157).3)

  

          Dengan demikian Anda mengetahui bahwa setiap dalam agama adalah sesat dan tertolak. Adapun bid’ah dalam masalah dunia maka tiada larangan di dalamnya selama tidak bertentangan dengan landasan yang telah ditetapkan dalam agama.4) Jadi, Allah membolehkan Anda membuat apa yang Anda mau dalam urusan dunia dan cara berproduksi yang Anda mau. Tetapi Anda harus memperhatikan kaidah keadilan dan menangkal bentuk-bentuk mafsadah serta mendatangkan bentuk-bentuk maslahat.”5)

  

          Adapun kaidah dalam hal ini menurut ulama sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah6) adalah, ”Sesungguhnya amal-amal manusia terbagi kepada: Pertama, ibadah yang mereka jadikan sebagai agama, yang bermanfaat bagi mereka di akhirat atau bermanfaat dalam kehidupan mereka. Adapun kaidah dalam hukum adalah asal dalam bentuk-bentuk ibadah tidak disyari’atkan kecuali apa yang telah disyari’atkan Allah. Sedangkan hukum asal dalam adat7) adalah tidak dilarang kecuali apa yang dilarang Allah.”

  

          Dari keterangan di atas tampak dengan jelas bahwa tidak ada bid’ah dalam masalah adat, produksi dan segala sarana kehidupan umum.”

  

          Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Mahmud Syaltut dalam kitabnya yang sangat bagus, Al-Bid’ah Asabbuha wa Madharruha (hal 12 – dengan tahqiq saya), dan saya telah mengomentarinya sebagai berikut, “Hal-hal tersebut tiada kaitannya dengan hakikat ibadah. Tetapi hal tersebut harus diperhatikan dari sisi dasarnya, apakah dia bertentangan dengan hukum-hukum syari’at ataukah masuk didalamnya.”

  

          Di sini terdapat keterangan yang sangat cermat yang diisyaratkan oleh Imam Syathibi dalam kajian yang panjang dalam Al-I’thisam (II/73-98) yang pada bagian akhirnya disebutkan, “Sesungguhnya hal-hal yang berkaitan dengan adat jika dilihat dari sisi adatnya, maka tidak ada bid’ah di dalamnya. Tetapi jika adat dijadikan sebagai ibadah atau diletakkan pada tempat ibadah, maka ia menjadi bid’ah.”

  

          Dengan demikian maka “tidak setiap yang belum ada pada masa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan juga belum ada pada masa Khulafa’ Rasyidin dinamakan bid’ah. Sebab setiap ilmu yang baru dan bermanfaat bagi manusia wajib dipelajari oleh sebagian kaum Muslimin agar menjadi kekuatan mereka dan dapat meningkatkan eksistensi umat Islam.

  

          Sesungguhnya bid’ah adalah, sesuatu yang baru dibuat oleh manusia dalam bentuk-bentuk ibadah saja. Sedangkan yang bukan dalam masalah ibadah dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’at maka bukan bid’ah sama sekali.”8)

  

          Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Qawa’id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah (hal 22) berkata, “Adapun adat adalah sesuatu yang bias dilakukan manusia dalam urusan dunia yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, dan hukum asal pada masalah tersebut adalah tidak terlarang. Maka tidak boleh ada yang dilarang kecuali apa yang dilarang Allah. Karena sesungguhnya memerintah dan melarang adalah hak prerogatif Allah. Maka ibadah harus berdasarkan perintah. Lalu bagaimana sesuatu yang tidak diperintahkan dihukumi sebagai hal yang dilarang?

  

          Oleh karena itu, Imam Ahmad dan ulama fiqh ahli hadits lainnya mengatakan, bahwa hukum asal dalam ibadah adalah tauqifi (berdasarkan dalil). Maka, ibadah tidak disyari’atkan kecuali dengan ketentuan Allah, sedangkan jika tidak ada ketentuan dari-Nya maka pelakunya termasuk orang dalam firman Allah,

  

          “Apakah mereka mempunyai para sekutu yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).

  

          Sedangkan hukum asal dalam masalah adat adalah dimaafkan (boleh). Maka tidak boleh dilarang kecuali yang diharamkan Allah. Dan jika tidak, maka jika melarangnya kita termasuk dalam firman Allah, “Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. ‘Katakanlah, ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah’?” 9) Ini adalah kaidah besar yang sangat bergna.”10)

  

          Syaikh Yusuf Qardhawi dalam Halal wal Haram fi Islam (hal 21) berkata, “Adapun adat dan muamallah, maka bukan Allah pencetusnya, tetapi manusialah yang mencetuskan dan berinteraksi dengannya, sedang Allah datang membetulkan, meluruskan dan membina serta menetapkannya pada suatu waktu dalam hal-hal yang tidak mengandung mafsadat dan mudharat.”

  

          Dengan mengetahui kaidah ini, 11) maka akan tampak cara menetapkan hukum-hukum terhadap berbagai kejadian baru, sehingga tidak akan berbaur antara adat dan ibadah dan tidak ada kesamaran bid’ah dengan penemuan-penemuan baru pada masa sekarang. Dimana masing-masing mempunyai bentuk sendiri-sendiri dan masing-masing ada hukumnya secara mandiri.

   

          Setelah membaca bahasan di atas, menurut anda Hizb, berpolitik, berorganisasi itu bid’ah atau adat? Segalanya tergantung kepada paradigma dan persepsi Anda dalam menilai. Selalu ada manfaat dan mudharat baik di dunia maupun di akhirat sebagai konsekuensi atas tindakan yang diputuskan untuk dijalankan. Bagi yang khawatir, akan banyak mudharatnya dibanding manfaat bagi dirinya maka tinggalkanlah. Tetapi sebaliknya, bagi yang menganggap akan banyak manfaatnya dibanding mudharatnya buat diri dan masyarakatnya maka segala sesuatu biarlah Allah SWT yang membalasnya.

  

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. 7:178)

  

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. 45:23)

  

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 68:7)

  

Note :

  1. Bandingkan dengan keterangan yang telah disebutkan dalam artikel “Hukum Asal Ibadah adalah Larangan” dalam web ini.
  2. Maksudnya ulama dan umara
  3. Ushulfil Bida’ was Sunan: 94
  4. Ini batasan yagn sangat penting, maka hendaklah selalu mengingatnya!
  5. Ushul fil Bisa’ was Sunan: 106
  6. Al-Iqtidha’ II/582
  7. Lihat AL-I’thisam I/37 oleh Asy-Syatibi.
  8. Dari ta’liq Syaikh Ahmad Syakir tentang kitab Ar-Raudhah An-Nadhiyah I/27
  9. QS. Yunus: 59.
  10. Sungguh Abdullah Al-Ghumari dalam kitabnya “Husnu At-Tafahhum wad Darki” hlm. 151 telah mencampuradukkan kaidah ini dengan sangat buruk, karena menganggapsetiap sesuatu yang tidak terdapat larangan yang menyatakan haram atau makruh,maka hokum asal untuknya adalah di[perbolehkan. Dimana dia tidak merincikan antar adat dan ibadah. Dan dengan itu, maka dia telah membantah pendapatnya sendiri yang juga disebutkan dalam kitabnya tersebut seperti telah dijelaskan sebelumnya.
  11. Lihat AL-Muwafaqat II/305-315, karena disana terdapat kajian penting dan panjang lebar yang melengkapi apa yang ada di sini.

 ôõô  Disalin dari buku Ilmu Ushul Bida’ Dirasah Takmiliyah Muhimmah fi Ilmi Ushul Al-Fiqh, Ali Hasan Ali Abdulhamid Al-Halabi Al-Atsari, DarRaayah, cet. I, 1992. Pustaka Al-Kautsar, IV, 2005.  

Iklan