Aku Lebih Mencintainya Dibandingkan yang Lain

  

Jakarta, 19 Agustus 2007

  

Ini adalah kenyataan yang tidak dapat aku pungkiri. Pernyataan ini kubuat bukan untuk membantah segala tuduhan yang mungkin timbul atas alasan kenapa aku membuat blog ini. Wallahi, aku Ibnu Abdul Muis dan Allah menyaksikan atas apa yang ada dalam hatiku. Dia, Abu Qatadah al-Depoki adalah motivasiku dalam beramal sebelum dia menyatakan “Ana Salafi”, selain murabbiku, setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Khulafa’ Rasyidin, para orang-orang shalih, dan ulama-ulama yang aku kagumi.

  

Tarbiyah yang telah dia ikuti selama kurang lebih lima tahun, justru membuatnya memiliki keunggulan dalam ilmu, hafalan dan amalan dibandingkan aku yang jauh lebih lama mengecapnya. Usaha yang kuat untuk mengunggulinya tak pernah ku capai, bahkan sampai detik ini.

  

Setelah dia Abu Qatadah al-Depoki menyatakan “Ana Salafi!”, justru kecintaanku terhadapnya semakin tak terbendung. Wallahi, Allah menyaksikan dan diapun menjadi saksi atas apa yang aku ucapkan. Aku tak pernah sungkan untuk menyatakan “Ana mencintai antum karena Allah, dan jazahullah khairan jaza atas segala hikmah yang terjadi atas kepindahan manhajnya”. Semakin ku lihat Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tampil dalam dirinya, semakin aku takjub dan khawatir kalau dia tidak mampu bertahan untuk istiqamah dalam kebenaran yang diyakininya.

  

Mengapa aku lebih mencintainya dibandingkan yang lain, adalah karena banyaknya hikmah yang aku peroleh atas kehijrahannya. Dengan ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala dialah yang membuka cakrawalaku dalam ilmu, kedewasaanku dalam berfikir dan kebijaksanaanku dalam meletakkan segala permasalahan yang aku takuti. Dialah yang memotivasiku untuk mencari dan membuktikan segala yang membuat kegelisahanku, langsung dari sumber-sumber yang menyebabkan kekeliruan ini. Walluhu’alam, terlepas apakah sumber-sumber ini benar atau salah aku tetap berhusnuzhan dan memohon agar Allah menunjukiku kepada kebenaran yang hakiki, bukan kepada kesesatan yang tidak akan dapat dihindari jikalau Allah menghendaki. Kenistaan yang diucapkan melalui tulisan oleh manusia-manusia apakah mereka yang menganggap dirinya faqih, atau kuanggap sebagai ustadz atau para pemuda-pemuda ABG (Aktifis Baru Ghirah) atau bahkan mungkin (maaf) orang-orang bodoh terhadap ulama-ulama dan tokoh-tokoh yang tadinya positif dan negatif menurut pandanganku, justru menjadi positif seluruhnya dan membuat aku semakin kagum terhadap mereka. Anda bisa melihatnya sebagian pada kontroversi dan seluruhnya tercecar didalam buku-buku, majalah-majalah, bulletin-buletin apalagi di internet.

  

Dialah yang telah melepaskanku dari belenggu kejumudan dalam berfikir dan khawatir untuk membaca buku-buku para ulama-ulama dan tokoh-tokoh yang aku anggap negatif. Yang membuat aku merdeka dan bebas tanpa terpenjara untuk mencari kebenaran yang aku yakini.

  

Dialah yang meyakinkan aku untuk selalu berhusnuzhan terhadap siapapun dengan kacamata, persepsi, paradigma atau pandangan yang selalu positif. Terlepas apakah mereka benar atau salah, sesat atau selamat, shalih atau kafir, aku serahkan kepada Allah, karena hanya Dialah yang berhak untuk mengetahui isi hati manusia. Aku hanyalah manusia lemah, yang pasti selalu tertutupi dengan kekurangan, kekhilafan dan mungkin kemaksiatan yang aku sadari atau tidak aku sadari. Aku hanya berharap dan selalu berdo’a setiap kali aku akan membuktikan kebenaran itu, agar Allah sajalah yang mengungkapkan kebenarannya kepadaku. Aku ridha atas segala ketetapan-Nya.

  

Dialah yang lebih aku cintai dari pada sahabat-sahabatku yang lain. Aku mencintai mereka semua dan tak memungkiri sedikitpun karena merekalah yang telah membuat aku istiqamah dalam kebenaran yang aku yakini, merekalah yang selalu mencabik, menampar, memporak-porandakan kejumudanku dalam iman. MErekalah yang selalu membangkitkan ghirahku dalam amal Islami setiap kali aku bermajlis dengan mereka. Tapi sungguh, entah mengapa, dia lebih aku cintai dibandingkan yang sahabat-sahabatku yang lain. Dia adalah sinar yang menjadikan lebih terang cahaya manhajku. Tapi, inilah kebenaran yang aku yakini, entah sampai kapan, aku serahkan kepada Allah untuk menunjukiku kepada kebenaran yang hakiki. Hakiki yang bukan karena pandangan manusia tapi hakiki karena-Nya tanpa merasa terintimidasi dan terdoktrin sedikitpun.

  

Ya Rabb, apapun yang terjadi, dan Engkau menyaksikan, kecintaan ini tidak akan pernah hilang sampai aku mati dan menghadap Wajah-Mu.

  ôõô