Latar Belakang!

Kronologis !

  

WARNING:

UNGKAPAN-UNGKAPAN YANG TIDAK LAYAK ADALAH BENTUK KEKALUTAN, KEKESALAN, PARADIGMA YANG NEGATIF, KETIDAK BIJAKSANAAN & KETIDAKDEWASAAN SEBELUM CAHAYA ITU MENERANGI. TAPI, ALHAMDULILLAH SEKARANG SEMUANYA TELAH SIRNA. DENGAN IJIN ALLAH, SEGALANYA SUNGGUH PENUH HIKMAH. SEMOGA ALLAH MENGAMPUNIKU.

    

Blog ini dibuat setelah kejadian yang gue anggap luar biasa dalam hidup gue. Bermula sekitar dua bulan yang lalu. Sahabat deket gue Abu Qatadah al-Depoki mengatakan “Ana Salafi!”. Gue menanggapi biasa aja, tidak terlalu surprise. Karena memang gelagat kehijrahannya sudah tercium sejak beberapa waktu yang lalu, masih wajarlah, mungkin Salafi yang hanif yang memang gue takjub dan ingin meruju’ terhadap mereka. Kezuhudan, wajah shaleh penuh keteduhan, jenggot yang panjang, tanda hitam di dahinya, celana sebetis, ceramah-ceramah akidah tauhid yang bersahaja yang justru gue salut-in banget buat mereka.

  

Kalo saat shalat Jum’at, gue selalu gilir dari satu masjid ke masjid lain di sekitar kantor untuk menghilangkan kejenuhan materi khutbah. Kadang ke masjid salafi untuk dengerin masalah-masalah fundamental tentang akidah tauhid. Kadang juga ke masjid umum untuk dengerin materi-materi khutbah yang agak umum dan kontemporer. Dan gue enjoy ngejalaninnya, seperti air mengalir tanpa dicampuri pemikiran-pemikiran yang sungguh sangat menguras energi. Maklum jadi karyawan, jadi harus pinter-pinter bagi waktu, tenaga dan fikiran. Dakwah, kerjaan dan pribadi/keluarga. Kadang suka nelongso juga sich, kalo iman lagi turun. Tilawah yang biasanya satu juz sehari, untuk baca satu lembar aja malesnya minta ampun. Kalo temen-temen gue bilang “Antum lagi futur akh, kayaknya perlu recovery dech!”. Kalo udah gitu, biasanya gue suka off alias libur, baca buku-buku tentang kematian, akhir jaman, akhirat, ikutan mabit, atau diskusi sama temen. Kadang pulih secara cepat, kadang juga butuh waktu lama. Sedih ya….

  

Balik lagi ke masalah “Ana Salafi!” di atas. Gue appreciate banget ama sahabat gue itu. Kok bisa ya? Dan lebih appreciate-nya lagi, terjadi perubahan drastis pada dirinya. Sample :

  

Satu, dia berseloroh “Khawarij gaya baru!”, no one else but me! Kalo bukan diarahin ke gue, ke siapa lagi? Hantunya Helen? Mungkin juga sich kalo gue paksain harus berhusnuzhan terhadapnya.

  

Dua, dia juga ngomong kalo “Said Hawa, Sayyid Quthb itu sesat”, wah dah lah. Dulu sich gue pernah denger kalo orang-orang yang menisbatkan dirinya sebagai Salafi emang suka menyesatkan dan mengkafirkan orang, tapi kan dari orang lain, alias gak pernah ngalamin sendiri, jadi agak-agak nggak percaya. Dan sungguh sampai dengan kejadian “Ana Salafi” diatas, pandangan gue terhadap Salafi masih tetap positif. “Mungkin dia salafi yang nggak hanif.” Sok tau banget ya gue.

  

Tiga, sahabat gue malah jadi agak menjauh dan justru deket sama orang salafi yang ada di lingkungan gue. Dan gue positif banget sama salafi tersebut, hanif, sholeh, gak macem-macem, teduh, adem, pokoknya positif bangetlah.

  

Empat, dia nanyain masalah tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wash-Shifat serta prinsip-prinsip yang harus diketahui sampe ke masalah Wala’ wal Bara’. Kaco, materi-materi dasar tuch, cape deh gue jawabnya, kebanyakkan lupanya dari pada ingetnya. Pasti jawabannya gak muasin dia. Tapi jujur gua bilang “Materi dasar akh, ane perlu review lagi”. Dia Cuma senyum! Gue ????? Cape dech… Dan maaf, gue bersu’udzan dan membayangkan jadi sahabat gue “Tuh kan bener, orang-orang ihwan itu gak perduli dengan masalah tauhid! Hehehe..ketahuan loch, bener juga apa yang ustadz gue bilang…. Ah, nggak, itu pasti pikiran gue doang yang jelek, sorry Akh, paradigma negatif yang gue pake…. Berarti gue musti buka & ngulang lagi materi-materi dasar tarbiah gue yang mungkin sudah hilang dari memori gue. Ya,Rabb, ya murabbi, maaf karena ilmumu hampir aku sia-siakan. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, itulah keyakinan gue.”

  

Lima, sahabat gue jadi seperti kehilangan jati diri, mudah marah dan tersinggung. Karakter sabarnya yang sangat gue kagumi hilang begitu saja. Padahal dulu dia adalah orang paling sabar yang gue kenal dilingkungan gue. Dialah yang selalu ngingetin gue untuk sabar. I don’t know, what’s wrong with him?

                                                                                               

Enam, kalo kita ngeluarin statement pasti dia nanya Ada dalilnya gak?”. Aduh mak, kalo semua harus pake dalil dan kita musti ngapalin semua, gak mampu dong. Kan, masing-masing orang punya ilmunya sendiri berdasarkan apa yang Allah kehendaki. Ada yang pandai dalam masalah agama, dan itupun masih terbagi-bagi lagi, ada yang cuma tafsir aja, ada yang fiqih aja, ada yang hadits aja dan lain-lain, jarang banget hari gini ada orang yang perfect punya ilmu komplet. Paling-paling satu banding seribu, bahkan sejuta kali? Ada yang cuma menguasai akuntansi aja, marketing aja, kimia aja. Dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas ilmu yang dimilikinya dan mendapatkan pahala atas manfaat yang dihasilkan oleh ilmunya tersebut atau dosa atas penyalahgunaan ilmunya tersebut. Contoh manipulasi data keuangan untuk menghilangkan jejak korupsi yang dilakuinnya. Kalo semua orang harus ngapalin dalil-dalil atas setiap tindakannya and musti ngomong dalilnya seperti ini ……., yang ada kita nih umat Islam jadi bakalan digencet oleh hegemoni orang-orang barat yang memang berharap kita tetap bodoh dan sibuk dengan persoalan internalnya. Nggak salah banget, tapi kalo mampu. Malah itu bagus banget, subhanallah, hebat banget. Tapi… Buku-buku agama kan banyak, bisa dipelajari disana. Lagian kan udah ada ulama-ulama yang sangat mumpuni untuk menjawab permasalahan umat bahkan banyak yang sudah buat fatwanya dan diakui oleh masyarakat. Masih berdalih, ulama yang mana? Capek deh jawabnya, mang gak punya otak apa buat mikir. Setiap fatwa itu kan disertai dalil-dalil. Masih berdebat juga, emang dalil-dalilnya qath’I dan shahih. Capek lagi dech jawabnya, cross cek dong jangan Cuma focus sama satu ulama aja, taqlid dan fanatik buta, kalo banyak orang yang mempermasalahkan fatwa ulama tersebut bandingin dong dengan ulama lain, apakah dalilnya lebih kuat atau lebih lemah? Baru putusin mau ambil fatwa yang mana.

  

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. 39:18)

 

 

Masih nanya juga, kalo gitu masih gunaan nafsu dong dan keluarin dalil hadits arba’in ke-41 yang berbunyi:

  

Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash ra. Berkata, Rasulullah saw, bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sehingga hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang telah aku bawa”.

  

Trus dijawab lagi, terus ditanya lagi, trus didebat lagi, gak kelar-kelar dong sampe lebaran semut. Akhirnya orang yang didakwahi jadi bingung, cengo, takut, eh akhirnya malah gak jalanin apapun alias ngaku Islam doang tapi gak ibadah, sekuler bahkan kafir.

  

Jangan tanya lagi, terus ngeluarin haditsnya Sufyan ats-Tsuari ra, yang diriwayatkan al-Lalikai, beliau berkata: “Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat, adapun maksiat bisa bertaubat darinya, sementara bid’ah tidak bisa bertaubat darinya”. Oh mai got, jaman milenium nih, jaman internet nih, kan banyak ulama-ulama yang mengeluarkan buku tentang bid’ah. Baca deh buku-buku keluarannya ulama salaf kalau takut salah dalam mendefinisikan bid’ah. Cari lagi referensi yang lain. Jadi dong orang yang bebas, tidak terbatas hanya pada manhajnya saja, tidak terbatas hanya pada jama’ahnya saja, tidak terbatas hanya pada ulama-ulamanya saja. Supaya otak tuh gak jadi tawanan. Syukur alhamdulillah kalo ulamanya atau ustadznya bener, taklid gak apa-apa. Lah wong kita bodoh, takut tersesat. Nah, kalo salah, apa gak rugi? Apa gak nyesel saat pengadilan Allah kelak, dan kita cuma bisa jawab, “Ya Allah, engkau mengetahui hambamu ini sangat dhoif, hamba taklid karena takut terseset kedalam bid’ah yang masih diperdebatkan oleh masyarakat hamba, ampuni hamba ya Allah…..” seraya memohon ampun sambil menangis. Paling tetangganya bilang, Emangnya elo tinggal jaman kapan men, jaman batu ya? Belum ada buku? Belum ada internet? Belum ada orang yang kenal Islam sehingga elo gak dikasih tau akan keajaiban Islam, apa emang elo gak punya otak? Oh mai got, capek deh…. Tapi gak papa juga sih, kalo kita punya keterbelakangan mental, otak yang kecil dan gak berfungsi, loss memory. Allah Maha Tahu hambanya.

  

Karena sebab-sebab di ataslah membuat gue penasaran. Dan terpengaruh, “Apa bener gua sesat?……” Jadi, saat ada waktu agak kosong, mulai deh gue menjelajah internet mencari kebenaran tersebut. Jujur kacau banget gue saat itu, apa bener gue termasuk ahli bid’ah? Sa’id Hawa, Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, Hasan Al-Banna sesat? Hizb itu bid’ah? Politik bid’ah? …..bid’ah? …. Coba aja baca di KONTROVERSI!

  

Penjelajahan itu, sebagian gue masukin ke KONTROVERSI, sebagian lagi masuk jadi bagian koleksi pribadi gue yang gue jilid. Syukur alhamdulillah, kegamangan gue itu justru berdampak positif terhadap ruhiyah gue. Bukan riya’ loch, tilawah satu juz sehari bisa gue laksanain, Qiyamulail hampir tiap malem, baca buku, tafsir, hadits bener-bener sesuatu yang ajaib. Subhanallah. Sambil selalu berdo’a “Ya, Rabb, kalau memang apa yang saya jalani salah, tunjukilah kesalahan tersebut. Kalau memang sahabat saya yang benar maka tunjukilah kebenaran tersebut dan mudahkanlah saya memperolehnya, karena hanya Engkaulah yang Maha Pemberi Hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki. Dan hanya Engkaulah yang Maha berkehendak untuk menyesatkan hambamu sekalipun kebenaran itu begitu nyata diperlihatkan…”.

  

Banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam diri gue, setiap kali membaca hasil penjelajahan tersebut. Apa bener gue seperti itu? Apa bener mereka seperti itu? Apa bener ini bid’ah? Apa bener ini salah? Apa iya seperti itu? Apa Cuma kesalahpahaman? Kebodohan? Taqlid? Fanatik buta? Berat sebelah dalam menilai sesuatu? Kalau bisa diibaratin balon, mungkin kepala gue udah pecah gara-gara pusingnya mikiran hal tersebut.

  

Diskusi terus gue jalanin, sama sahabat gue yang baru hijrah tersebut, ama guru ngaji gue, temen-temen dan Riyadhus Shalihin Imam Nawawi. Untuk buku-buku IM, maaf deh, ntar dulu. Takut nanti berat sebelah dalam menimbang sesuatu maklum gue dah lebih dari sepuluh tahun bergelut dengannya. Gue punya Risalah Pergerakan Ikhwanul Musliminnya Hasan Al-Bana, Membina Angkatan Mujahidnya Sa’id Hawwa, Tafsir Fi-Zhilalil Qur’annya Sayyid Quthb dll. Dan sepanjang itu juga gue gak pernah khatam membaca buku-buku tersebut. Takut terdokrin. Gue juga pernah jadi pengurus partainya loch. Justru buku-buku keluaran Salafilah yang banyak gua baca disaat pencarian gue, seperti Best seller Fathul Majidnya Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Mengupas sunnah membedah bid’ahnya Dr. Said bin Ali bin wahf al-Qathani, Jadilah Salafi Sejatinya Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim as-Suhaimi, Ensiklopedi Fatwa Syaikh Nashiruddin al-Albani, Membedah Akar Bid’ahnya Ali Hasan Al-Halabi al-Atsari dll. Dan semuanya justru atas saran guru ngaji gue, katanya “Beli aja, baca, nanti kita diskusikan dengan sebelumnya buat referensi atas buku-buku tersebut”. Subhanallah ya, sangat terbuka, dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah, gue dan temen-temen ngaji gue dipersilahkan dengan luas banget untuk cari ilmu dari siapa aja tanpa dibatasi sedikitpun. Ada juga kisah ngerinya gue saat mencari buku Membuka Kedok Yusuf Qordowi, penasaran dengan komentar-komentar negatif terhadapnya. Waktu itu gue tanya ama penjual buku “Pak ada buku Membuka Kedok Yusuf Qardhawi gak? Atau kesesatan Yusuf Qhardawi?” pelan-pelan banget takut kedengaran orang lain. Eh,tuh abang malah ngomong keras tanya ke temennya tentang buku yang gue cari. Sontak saja hampir seluruh pembeli di kios itu ngeliat ke arah gue. Gue cume pura-pura aja gak denger, ngeri banget kalo sampe bikin sakit hati orang-orang tersebut. “Ya Allah, ampuni aku, aku hanya ingin cross cek informasi tersebut, Engkau mengetahui segala isi hati hamba-Mu”.

  

Waktu gue minta maaf ke murabbi gue, gara-gara beli buku itu, beliau Cuma nyengir kayanya agak malu. “Akhi, gak perlu ijin ke ana. Allah akan menunjuki siapa saja yang dia kehendaki. Ana bukan siapa-siapa yang harus disakralkan dan dipatuhi ucapannya. Kalau itu baik menurut antum, lakukan saja. Ana terbuka banget untuk kalo antum bingung dan ingin sharing masalah antum.” Afwan bang, tapi kalo merekakan anti banget untuk baca buku diluar kalangannya. Bahkan dilarang keras. Beliau Cuma senyum. Teduh banget, subhanallah.

  

Setelah agak puas mendapat pandangan-pandangan tersebut, ada yang positif dan banyak banget yang negatif, yang bisa saja merusak pondasi keadilan dalam menilai sesuatu. Mulailah gue baca buku Anugrah Allah yang Terzaliminya Farid Nu’man. Di sini gue melihat pandangan-pandangan yang adil dan bijak yang lebih bisa diterima. Ada dalil-dalilnya, sama seperti pandangan-pandangan orang-orang yang mengaku Salafi (yang Cuma ngaku doang. Jadi kalo gak ngerasa jangan marah ya). Tak percaya begitu saja dengan Anugrah Allah yang Terzalimi, gue mulai beli buku Halal wal Haramnya Dr.Yusuf Qardhawi, dan Pengkafiran Sesama Muslimnya Dr.Mustafa Helmi. Untuk sebagian dari isi buku-buku tersebut dapat dilihat di IHWAN dan KONTROVERSI.

  

Alhasil, gue menyimpulkan: tidak ada kebenaran yang mutlak menurut pandangan manusia sekalipun itu disertai dalil-dalil yang nyata. Tergantung dari sisi mana manusia itu melihatnya. Bila paradigmanya positif, sekalipun itu salah dan sesat dan disertai oleh dalil-dalil yang dhoif kemudian disalahkan/diluruskan oleh orang-orang yang mumpuni ilmunya dengan dalil shahih maka mentahlah semua pelurusan tersebut. Sebaliknya, bila paradigmanya negatif terhadap orang lain, sekalipun itu benar dan nyata seperti terangnya matahari di siang bolong dan disertai oleh dalil-dalil yang Shahih, maka akan dicari dalil-dalil lain yang digunakan untuk membenarkan pandangnya dengan kata lain sesuai dengan hawa nafsunya maka kebenaran yang nyata tersebut akan mentah dengan paradigma negatifnya.

  

Hanya Allahlah tempat segala kebenaran, Dialah yang akan mengungkap kebenaran dan kesalahan hamba-hambanya, tanpa ada yang dizalimi sebesar dzarahpun di pengadilannya kelak. Jangan tanya lagi Mizannya seperti apa? Ini mutasyabihat atau muhkamat? Kalau dijelaskan maka akan banyak pandangan yang saling berbantah-bantahan dan panjang tak berujung dan membikin tambah bingung orang-orang yang baru mengenal Islam apalagi yang belum mengenalnya.

  

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS. 014:021)


 
”Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”. (QS. 040:047)

 

 

Semua orang mempunyai hak untuk bicara dan mengeluarkan pendapatnya, mau itu berdasarkan dalil-dalil yang shahih atau pandangan akal atau yang nyeleneh dan aneh sekalipun. Tidak ada yang bisa melarangnya. Tapi yang gue yakini, semuanya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah, baik itu lisan, perbuatan atau tulisan kita ini.

  

Apakah pembuatan blog saya ini salah? Itu tergantung lagi paradigma masing-masing, bebas-bebas saja menanggapinya, terserah!! Kalo Gusdur bilang “Gitu aja kok repot!”.

  

Sekarang siapakah yang bisa menahan Aa’Gym yang lebih mementingkan Manajemen Qalbu dengan prinsip Kebersihan Hati dalam setiap dakwahnya. Sah saja kan kalau gue berpendapat beliau jengah dengan orang-orang yang saling hujat sesama muslim, merasa dirinya, golongannya, partainya, jamaahnya lebih baik, lebih selamat, lebih sempurna, lebih ditolong, lebih banyak jama’ahnya sehingga membuang jauh-jauh firqah-firqah, manhaj-manhaj, mahzab-mahzab yang justru malah memecah belah umat. Aa’ gym punya hak berdasarkan kata hatinya dan orang lain juga punya hak menyanggahnya dengan mengkritiknya mengeluarkan buku Raport Merah Aa’ Gym. Itu terserah masing-masing, tapi sayang justru dakwah beliau kurang syi’ar lagi setelah beliau berpoligami. Dalilnya seperti yang sering kita dengar, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”(QS. 004:003) dan manusia tidak perduli, pokoknya kalo gak suka ya gak suka, sampe orang yang gak pernah menghadiri majlisnya juga berpandangan negatif terhadapnya. Mau itu ada dalilnya kek! Bodo amat! Lantas siapa yang bisa melarang? Hak masing-masing kan? Sekalipun dijelaskan oleh orang-orang yang mumpuni, tetap aja mentah. Padahal banyak banget yang positif yang bisa diambil dari sana. Majlisnya selalu penuh dengan orang-orang yang mau mengenal Islam lebih dekat. Ada yang mau bertanggungjawab? Paling-paling tanggapannya beragam, ada yang sesuai dengan nafsunya, ada yang menggunakan dalilnya, dan lain-lain. Semuanya akan berpulang kepada Allah atas hal tersebut.

  

Lalu siapa yang bisa menahan gerak laju dakwah Ihwanul Muslimin? Sekalipun dihujat, disesatkan, dibid’ahkan tetap saja dia mendapat sambutan dari umat. Pernah gak berfikir kenapa Sayyid Quthb berbuat seperti itu? Ada nggak sih kemungkinannya karena penganiayaan dan kedzaliman yang pernah diderita oleh mereka sehingga akhirnya mereka jengah dengan kondisi yang terjadi. Mengapa kita tidak mau sejenak berfikir, bagaimana kalau kita menjadi mereka, apakah kita akan tahan terhadap ujian tersebut seperti halnya Syaikh al-Albani yang akhirnya memutuskan untuk hijrah dari negeri asalnya karena pemerintahan sekuler yang baru terbentuk. Atau justru melawan ketidakadilan dan kezhaliman tersebut dengan menggunakan sudut pandang kita sebagai manusia biasa seperti halnya para pendiri Ikhwanul Muslimin.

  

Lantas siapa yang bisa menahan gerak laju dakwah salafiah? Sekalipun dikecam oleh orang-orang akibat faham pengkafirannya (yang lebih terkenal) terhadap jama’ah diluarnya dibandingkan manhaj Salaf Shaleh yang subhanallah sungguh mulia. Dihubung-hubungkan dengan faham Wahabi, sehingga timbul penistaan terhadap ulama-ulama seperti Ibnu Thaimiyah secara tidak adil. (Lihat kontroversi) Apakah ada yang bisa menahannya? Pernahkah kita berfikir, bagaimana jika pemerintah Arab Saudi adalah pemerintahan seperti pemerintahan Mesir saat berdirinya Ihwanul Muslimin yang zalim dan merupakan boneka dari penjajah kaum kafir laknatullah. Apakah para ulama-ulama mereka akan tetap menjadi seperti Ahmad bin Hambal yang lebih menerima penganiayaan dari penguasanya, atau seperti Syaikh al-Albani yang hijrah untuk menyelamatkan diennya atau seperti Sayyid Quthb yang melakukan perlawanan? Jawablah berdasarkan jati dirimu yang sebenarnya sebagai manusia yang lemah dan memiliki banyak kekurangan! Berdasarkan karaktermu yang sesungguhnya! Bukan berdasarkan karakter ulama-ulama yang sungguh mulia apalagi memaksakan berdasarkan karakter Rasulullah saw yang ma’sum yang sungguh jauh kesempurnaannya dari kita!

  

Siapakah yang bisa menahan ucapan manusia jahil yang (maaf) menyebut salah satu ulama dengan nama binatang najis yang bertaring. (Tidak perlu ana tampilkan, karena sangat tidak pantas) Kita tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sungguh mulia. Satu pahala atas kesalahan ijtihad mereka dan dua pahala atas kebenaran ijtihad mereka adalah hak mereka dari Allah yang tidak bisa kita pungkiri. Kekeliruannya akan mereka pertanggungjawabkan dihadapkan Allah sama seperti kekeliruan kita yang jahil. Dan sungguh ngeri untuk dibayangkan bahwa kita tidak memiliki hujjah yang kuat seperti halnya mereka para ulama yang mulia. Kita hanyalah para penuntut ilmu yang berusaha memaksakan diri untuk menghafal dalil-dalil untuk menguatkan hujjah-hujjah yang wallahu’alam hanya kita sendiri dan Allah yang lebih mengetahui alasan dan tujuan kita menghafalnya!

  

Lalu, sekarang siapakah yang bisa menahan orang lain menggunakan haknya untuk mengeluarkan pandangan bahwa orang-orang yang menggunakan kata-kata kasar dalam aktifitas dakwahnya (khususnya di internet) kini sudah mulai berubah dan sadar. Tetapi yang disedihkan, kenapa kesadarannya baru tercabik dan terkoyak setelah dikeluarkan fatwa larangan! Apakah sebelumnya kita tidak memahami makna dalil-dalil ini :

  

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. “(QS. 003:159)

 

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 005:054)

 

 

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. 020:044)

 

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. 016:125)

  

Apakah sebelumnya kita tidak menggunakan nurani kita sebagai manusia yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan!

  

Apakah kita hanyalah para fanatik dan pentaqlid buta dan menjadi tawanan atas hawa nafsu dan kejahilan kita!

  

Apakah kita tidak menggunakan akal kita dalam setiap keputusan yang kita jalani! Padahal kita tahu banyak ayat-ayat yang mengingatkannya!

  

Allah menganugerahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”(QS. 002:269)



Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. “ (QS. 003:007)

 

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 005:100)

 

“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. “(QS. 010:100)

 

“Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). (QS. 016:062)

 

“Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.”(QS. 029:035)

 

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(QS. 039:009)

 

“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali. (QS. 042:010)

 

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu,”(QS. 065:010)


 

Atau kita hanya menjadi manusia yang “apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Qur’an) ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang-orang purbakala”.  (QS. 8:31)

 

 

“Sehingga kita menjadi salah satu dari manusia yang dinyatakan dalam ayat dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9:106)

 

 

Jawab itu wahai kita manusia yang sombong, yang merasa diri paling benar, paling selamat, paling shaleh, paling baik, paling Islami! Apakah kita tidak paham dengan ayat Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata”.  (QS. 67:29)   dan kita pada akhirnya hanya mampu berkata: “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas”.  (QS. 68:31)

  

Hai, para penyembah thagut laknatullah, para misionaris Yahudi dan Nasrani! Lihatlah kami telah memakan umpan yang telah kalian pasang dalam perangkapmu. Kalian tidak perlu bekerja, karena kami telah bertarung dengan sengitnya. Kalian tinggal menopang satu kaki kalian pada kaki kalian yang lainnya, sambil meminum khamr, menghisap cigaret dan ditemani para wanita kalian serta tersenyum puas atas kehancuran yang hampir-hampir tidak kami sadari.

  

Terakhir, blog ini saya kasih alamat ihwansalafy dengan judul blog Islamku Kini, bukan karena saya ingin menisbatkan diri terhadap ihwan, mereka jauh lebih baik dalam niat, amal dan ketaatan dibanding diri saya atau menisbatkan diri terhadap salaf, mereka para salaf sungguh sangat mulia dan juga kekhawatiran bila ada yang tidak ikhlas lantaran dianggap mengaku-ngaku salaf terus ngeluarin sebuah pepatah Arab: Semua orang mengaku kekasih Laila, Akan tetapi sayang, Laila sendiri tidak mengakuinya. Atau justru ditanggapi ingin mencampuradukkan antar haq dan bathil. Siapa yang haq? Siapa yang bathil? Whatever, semuanya saya serahkan kepada pembaca, dan menyerahkan seluruhnya berdasarkan paradigmanya masing-masing. Yang pasti saya tidak mau membuang energi saya untuk hal-hal yang justru malah akan menimbulkan keburukan yang lain, sekalipun pasti akan ada yang menanggapinya buruk juga, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Ini adalah kebenaran yang saya yakini saat ini merujuk pada nash-nash yang qath’I dan shahih, dan saya tidak perduli dengan kebenaran menurut persepsi dan paradigma orang lain.

  

Semoga Allah mengampuni kita semua atas segala dosa-dosa kita dan menunjuki kita kebenaran yang sesungguhnya.

  

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. 001:007)

  

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. 003:008)

  

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. “(QS. 004:088)

  

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. “(QS. 005:105)

  

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS. 006:117)

  

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”(QS. 006:125)

  

“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. “(QS. 007:178)

  

“Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.”(QS. 007:186)

  

“Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan Barang siapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Tiap-tiap kali nyala api Jahanam itu akan padam Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.”(QS. 017:097)

  

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”(QS. 018:017)

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.”(QS. 039:023)

  

 

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”(QS. 045:023)

  

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS.068:007)

   

Yang benar dari Allah semata, yang salah adalah saya pribadi. Semoga jadi renungan kita bersama.

  

ôõô 

39 Tanggapan

  1. Akhi…Saya mohon maaf, kemarin saya hanya membaca satu postingan Anda yang di dalamnya ada kata: “Ibn Taimiyah La’natullahi alaihi”, saat itu saya agak emosi, jadi tanpa melihat profil antum lebih dahulu, saya langsung memberikan tanggapan balik, tapi setelah kini saya membuka profil antum, saya jadi mengerti, bahwa Antum satu garis dengan saya, yaitu melihat sesuatu secara objektif dengan prinsip: tidak ada kebenaran mutlak, kecuali Rasulullah Saw.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Barakallahu fiikum. Alhamdulillah karena kita berada satu garis dalam pemahaman tentang hakikat kebenaran.

  2. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

    akhi, ana Abu Tilmidz atau dikenal juga dengan La Adri At Tilmidz. setelah membaca seluruh isi blog ini ana menangis, dan ana menitikkan air mata entah kapan ana berhenti. Ana kasihan sama antum yaa akhi. Apakah antum yang telah berkelana dan mengetahui semuanya berhenti dengan hasil yg seperti ini. ada dua nasihat untuk antum. yang pertama klik : sunniy.wordpress.com/2007/10/23/ apakah-engkau-merasa-bahwa-engkau-telah-berada-di-jalan-yang-benar/

    Yang kedua ya akhi, Manhaj salaf adalah manhaj yang benar. Ana lebih condong untuk mengikuti salaf (generasi terdahlu). Adapun yang mengaku-aku salafy ana cek dulu. maka yang mengikuti salaf ana ikuti, namun jika tidak tidak akan ana ikuti. (dalam hal ini kita sepakat)

    Namun akhi, yang membuat ana menangis adalah kenapa antum setelah mengetahui hal ini lantas antum berbelok ke dalam ikhwani dan mencela salafy yang sekarang ? kenapa tidak hal itu untuk konsumsi antum sendiri ? apakah antum butuh teman ? apakah antum perlu dukungan dan ingin sanjungan ? kenapa setelah antum mengetahui fenomena yang ada lantas antum menghujat salafiyyin mengikuti langkah web2 anti salafy yang ada ?

    yaaa ikhwah, ana uhibbuka fillah ? cukuplah bagi kita mengikuti salafus shalih dan janganlah kita mencela org-org yang mencoba mengikuti salafus shalh walaupun mereka salah dalam mengikuti….. alangkah baiknya jika kita beri contoh kepada mereka dan katakan kepada mereka, “sdrku yang mengaku salafy, ini lho salafy yang bener, akhlaknya seperti ini, ibadahanya seperti ini, ngajinya spt ini.. ini lho ikuti ana..”

    kenapa lantas antum anti bahkan antum bukannya memberi contoh salafy yang baik bahkan antum mencela dan bertekuk lutut dihadapan “nasihat teduh” ahlul bid’ah. yaa akhi, tidaklah ahli bid’ah menyesatkan manusia kecuali dgn nasihat teduh sebagaimana iblis menyesatkan adam dgn nasihat teduh. Maka berhati-hatilah antum dengan nasihat teduh.

    Antum tidak perlu reply comment ini, ana harap antum kosongkan hati, jgnlah marah sama ana, kalau antum marah maka nasihat ini tidak akan kena dalam hati antum. Dan jgnlah antum tersenyum karena syaitan akan membisikkan seyuman antum dengan senyuman licik. Yaa akhi antum harus bersabar dengan godaan syaitan yang akan menghancurkan langkah-langkah para mujahid dakwah hingga dakwah di atas manhaj yang haq tiodak sampai keapda ummat.

    Saudaramu yang sedang menangis.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    ………………….???……………….[No reply comment]……………….???…………………

  3. assalamu’alaikum
    akhi mari kita sibukkan diri kita dgn menuntut ilmu,karena ilmu adalah cahaya.
    Janganlah kita disibukan dgn menebarkan pemikiran yang hampa dari pemahaman yang benar,kalo sampai saat ini kita (ana dan anta masih) menjadikan buku2 terjemahan sbgai rujukan,marilah kita mengawali dgn mempelajari bahasa arab agar bisa membaca dan memahami secara langsung maraji berbahasa arab.
    dengan teknologi internet,,satu musibah,..kita bisa dengan gampang menyebarkan pemikiran yang kadang datang dari kekurang fahaman…
    smoga ini bisa masukan bagi ana dan anta …
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam Wr. Wb.

    Jazakallahu khairan katsir, ini adalah tausiyah yang sungguh menyejukkan ana. InsyaAllah, semogaAllah mengabulkan do’a ana, keinginan terbesar ana adalah bisa mempelajari bahasa Arab, agar pemahaman tidak sepotong dan berat sebelah karena ilmu didapat dari sumber aslinya.

    Sebelumnya ana minta maaf, mohon antum tidak marah, tidak ada maksud untuk mencemooh saudara-saudara antum :

    Apakah antum juga telah memberi tausiyah yang sama terhadap sahabat-sahabat antum. Misalnya Abu Sarah Vi, Abu Zarima Ekstasi, Abu Cakil Atasi [afwan, ini nama samaran]. Ana masih melihat ada beberapa pemikiran mereka yang ekstrim. Sepertinya kebiasaan mereka untuk terus menyulutkan api perpecahan di kalangan umat islam belum hilang. Dan ana tahu alasan mereka, tapi apakah tidak ada metode yang lebih bijak agar bisa niatan menasehati itu berhasil dengan target yang ingin dicapai yaitu menyelamatkan umat dari bid’ah dan kesesatan.

    Semoga allah mengampuniku dan memberkahi antum.

  4. shabat, tmn u mungkin stress kebanyaken makan dalil, trus kelupaan klo kristenisasi sdh merangsek ke sisi masjid n TPQ/TPA, bahkan lembaga pesantren mungkin qt perlu balik ke ajaran islam yang dulu dibawa Wali Songo ke Indonesia
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ana pikir metode yang diterapkan kepada anggota baru (khususnya temen ana) kurang tepat. Sehingga pergolakan bathin yang ada dalam jiwanya sungguh berkecamuk hebat. Ini hanyalah masalah doktrin. InsyaAllah, ana do’akan semoga beliau bisa tetap istiqamah dalam kebaikan.

  5. secara proporsional saja yah, ndak usah berlebihan… :)
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Pasti mas, proporsional, jangan berlebihan…. :)

  6. Assalammu’alaikum
    ikhwati fillah… jika boleh ana katakan, ana hampir mirip dengan antum.. ana pun pernah mengalami hal yang sama dengan antum…
    dan temen ana pun sekarang ada yang “hijrah” ke mereka dan kini terkadang mencela ana, meski itu tidak terang2an.
    ketika teman ana itu pindah, dan berbalik total, ana sempat membuat artikel yang kemudian ana sempat posting di myquran dan sempat menjadi thread yang lumayan panas,,..
    wallahu alam jika antum berminat silakan pakai gpp…
    alamatnya di
    tonitegarsahidi.blogs.friendster.com/my_blog/2007/08/isyhadu_ana_mus.html

    judulnya Isyhadu ana Muslimin…
    __________
    Ibnu Abdul Muis, menjawab:
    InsyaAllah, nanti akan ana kunjungi tautan yang antum maksud.

    semoga kita bisa saling berbagi agar ummat ini jelas tentang salafy dan “salafy” (pakai tanda kutip)….

    sebenarnya ana juga sempat bikin artikel lain yang agak sedikit keras, tapi lebih baik antum hubungi email ana saja biar lebih jelasnya

    karena salafush shalih adalah mereka yang berdakwah dan berjihad di jalan-Nya…

    syukron
    Jazzakallahi Khairan katsiir

  7. Ada artikel bagus buat antum untuk membandingkan
    mana yang salafy dan mana yang “salafy” (pakai tanda kutip)
    Insya Allah, ana pun juga orang yang bermanhaj salafush shaleh…

    URL-nya di myquran.org/forum/index.php?PHPSESSID=0e30599a7ebb2c490d77765a64282466&topic=28234.0

    judulnya ini salafiku

    Keep the Taujih!!!
    Tauhid dan Jihad…
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Jazakallahu khair. InsyaAllah, akan ana kunjungi.

  8. mari belajar tentang manhaj salaf, akh.
    materinya bisa didownload di http://www.islam-download.net
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Jazakallahu khair. InsyaAllah, akan ana kunjungi tiap hari dan download articlenya. Lihat, sudah ana masukin ke Link Favorite dengan nama Ngaji Salaf. Barrakallahu fiikum.

  9. aww.mohon maaf, saya izin berkomentar boleh ya’. salafy bukanlah klaim suatu kelompok, ini setidaknya yang saya pahami dari HR. Ibn. Mas’ud, tentang IM sebagai ahlul bid’ah, qt juga perlu mengkaji lebih dalam, saya sudah membaca beberapa buku dasar doktrin IM dan ini yang jadi bahan dasar, biasanya, temen2 tarbiyah untuk tausiyah atau apapun.ada beberapa masalah, dalam karangan Hasan Al-Banna, maupun Sayyid Quthb yang memang perlu dikoreksi. Tentu temen2 yang menggemari IM atu include di dalamnya sangat paham pesan dari pendahulunya Hasan Al-Banna bahwa tidak boleh fanatis terhadap golongan atau kelompok, maka yang wajib dicari adalah kebenaran, hal ini disadari Al-Banna bahwa pendapatnya tidak mutlak, karena Rasulullah-lah saja yang ma’sum. Maka dari itu, saya pikir sangat sah klo beberapa pemikiran IM perlu dikritisi, atau para penerusnya perlu melakukan suatu rekonfirmasi terhadap pendahulunya. Karena memang pada tataran lapangan temen2 tarbiyah yang include ke IM pemahaman agamanya bermasalah, tapi saya sangat salut dengan persaudaran mereka yang erat. Buat temen2 salafy, perlu memperbaiki proses tarbiyah akhlak para thalabul ilmi-nya karena beberapa oknum terkesan angkuh dan tidak mau bergaul dengan saudara muslim yang lain. Saya sangat salut dengan semangat temen2 salafy dalam mendalami ilmu. so, hanya perkataan Allah dan Rasul-nya saja yang wajib kita ikuti dan amalkan, menurut kehendak Allah dan Rasul-nya, bukan menurut kehendak masing2 kelompok yang memanfaatkannya untuk kepentingan kelompok dengan memperkosa “rujukan apokalipstik” yang suci, dan ini merupakan suatu pengkhianatan yang besar dan lebih besar dari reduksi yang dilakukan oleh kaum liberal. wallahu’alam bishowab.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Alhamdulillah, semoga antum mengungkapkannya secara jujur dan ikhlas.

    Mungkin untuk orang-orang yang belum membaca buku-buku IM keluaran terbaru (setelah pendirinya wafat) belum tahu, kalau sebagian besar dari mereka juga melakukan islah dan kritikan terhadap pendahulu-pendahulu mereka. Contohnya Muhammad Quthub terhadap tafsif Fidzilalil Qur’annya Sayyid Quthub. Tapi tetap sajakan sebagian dari mereka yang ektrim justru malah mencari celah kekurangan Muhammad Quthub dan mentahdzirnya juga. Atau keputusan untuk dakwah parlemen/partai padahal Hasan al-Banna sendiri melarangnya. Intinya apa yang datang dari IM ditolak mentah-mentah seluruhnya.

    Sementara untuk orang-orang Salafy yang tidak ekstrim, yang melakukan islah untuk membuat dakwah salafy bisa diterima masyarakat luas malah di tuduh Sururiyun, turatsiyin dan lain-lain hanya karena lebih bijak dan realistis. Contohnya anda yang tidak mau menggunakan nama asli [Sururiyin: red], saya melihatnya anda justru malah kontraproduktif loch :lol: Sorry, ini filling saya saja kok. Intinya bagi saya, apa yang datang dari Salafy, selama itu adalah kebaikan dan kebenaran saya lahap, sementara untuk kejelekannya saya tinggalkan mentah-mentah termasuk apa yang datang dari IM, JT, HT, NU, Persis dll.

    Inyaallah, saya ikhlas dan sangat senang menerima komentar anda dan mengijinkannya lulus moderasi [tidak seperti site sebelah]. Semoga kita bisa introspeksi untuk lebih bersikap arif, adil dan proporsional dan yang lainnya termasuk saya dan anda bisa mengambil esensi positif dari semuanya. Barrakallahu fiik.

  10. Assalamu ‘alaikum wr wb
    Kaifa Haal ya akhi Ibn Abdul Muis?
    Salam ta’aruf, ana seorang muslim yg juga mencoba bergiat dalam da’wah… Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yg sudah menunjuki kita dan memberikan kita kekuatan untuk menjadi mujahid da’wah.
    Ya akhi…. mengetahui antum rasanya seperti mengenal sebuah varian baru. Mau bikin harokah baru ya, sintesa antara IM sama Salafy? Hehehe
    Ana sendiri juga merasakan, meyakini bahkan mengakui bahwa memang IM bukan jama’ah yg paling benar, paling hebat, paling besar andilnya dalam kebangkitan islam abad 20. Ana sadar jama’ah ini adalah jama/ah manusia, jama’ah yg punya segudang kesalahan…. Jangankan seorang Ustadz Hilmi Aminuddin, hatta Hasal Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qaradhawi sekalipun semua bisa salah, tak ada yg ma’shum. Tidak pernah ada doktrin dalam jama/ah IM yg mengkultuskan mereka. Jama’ah ini jg jama’ah yg terbuka akan kritik, taushiyah, bahkan yg bernada celaan dengan bahasa yg paling kasar sekalipun yg memang sudah biasa kami terima.
    Banyak sekali hal-hal mengenai kehidupan dalam jama’ah ini yg secara jujur dapat kita kuliti satu persatu. Tak terhitung kadernya bahkan banyak yg bertasaquth dan insilakh dr da’wah IM. Tapi sejujurnya bukan jalan itu pula yg akan ana lakukan, karena ana tetap meyakini dibalik segala kekurangan itu jama’ah ini tetap memiliki berbagai keutamaan, berbagai kebaikan. Terlalu banyak kisah yg bisa dituturkan yg menurut ana makin mengokohkan keyakinan ana akan jama’ah ini. Begitu banyak pula pertolongan serta penjagaan Allah yg telah diberikan. Insya Allah akan ana sampaikan di lain waktu.
    Begitu pula ana mengakui kelebihan2 jama’ah lain dan menerima pula kekurangan-kekurangan mereka. Mimpi dan asa ana justru bagaimana agar harokah-harokah ini saling menguatkan satu sama lain demi izzul islam wal muslimun.
    Seraya ana pun berharap para qiyadah serta seluruh a’dho jama’ah pun selalu bersemangat untuk memperbaiki semua kekurangan jama’ah yang ada.
    Nah Akhi kiranya sekian dulu salam ta’aruf ana, mohon maaf kl ada yg tak berkenan
    Akhukum Fillah
    Jundi
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Subhannallah, sesuatu yang sangat menarik bila dianggap bahwa ana ingin membuat harakah baru, sintesa antara IM dan Salafy :roll: Oh no, mengerikan, sungguh mengerikan… Alhamdulillah, sampai dengan detik ini, ana masih aktif dan terus istiqamah dan bersemangat dalam dakwahnya, jikalau Allah mengijinkan, insyaallah ana akan terus bernaung dalam wasilah dakwahnya. Tidak ada yang sempurna memang, tapi sampai dengan detik ini, sepertinya ana belum menemukan sebuah wasilah dakwah yang konfrehensive seperti IM, dunia akhirat berjalan beriringan. Yang sekarang ana lakukan adalah mengambil semua manfaat kebaikan yang bisa ana dapatkan untuk mengimprove diri ana, dari siapapun kemudian membaginya khususnya ke teman-teman halaqah ana. Mengenai takdir masa depan, waduh… ana serahin ke Allah saja dech, ana nggak mau komentar mengenai hal ini. Afwan akhi, nanti ana sambung lewat email antum. Soalnya ana ditunggu untuk jalan ke tempat halaqah sekarang, dan mau berbagi cerita lagi tentang blog ana. Barakallahu fiikum.

  11. Jazakallahu akhi….
    Inni uhibbuka fillah….
    Semoga jama’ah ini mendapatkan keberkahan dengan adanya antum, amiin
    ana tunggu e-mailnya akhi, insya Allah kita bs lebih dalam lagi berbagi dan saling menguatkan
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Uups, jangan berlebihan akhi. Ana hanya ingin kita bisa lebih bersikap objektif terhadap segala sesuatu. Mencoba mengklarifikasi pemahaman yang salah dari orang-orang yang telah termakan subhat langsung dari sumbernya. Terutama yang berasal dari ulama-ulama mereka sendiri. :oops: Barakallahu fik.

  12. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Membaca blog ini saya sangat sedih. Pertama, antum menjadikan kasus yang spesifik menjadi alasan untuk menggeneralisir bahwa semua salafy itu salah. Padahal apa yang terjadi sama temen antum bagi saya adalah hal yang wajar. Sebagai seorang yang baru mengenal manhaj salaf yang memang sangat kontras dengan pemikiran-pemikiran umat Islam pada umumnya tentu ia akan berubah dan terlihat ekstrim karena Ia baru belajar dan belum bijak. Maklum lah dia orang baru. Saya jujur juga sama ketika awal-awal belajar manhaj salaf. Tetapi kemdian setelah saya belajar lama saya semakin memahami dan tidak semudah itu membid’ahkan orang tetapi sesuai dengan pemahaman salaful ummah ini. Alhamdulillah. Tetapi yang saya bikin sedih adalah apa yang antum lakukan, dengan mengatasnamakan sudah belajar berbagai kitab salaf dan pemahamannya, antum menyerang balik salafy seolah-olah antum lah yang berhak menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah. Dalam hal ini antum mengatakan antum benar dan semua salafy salah. Mudah2 an antum tidak berpikiran seperti itu, meskipun apa yang saya baca dalam blog ini adalah fitnah-fitnah yang sangat jahat terhadap manhaj salaf dan salafiyyin yang merupakan pemuasan kebencian antum. Kalau betul antum sudah belajar manhaj salaf apa yang tertulis dalam blog ini tidak akan pernah muncul. Justru saya khawatir antum justru terjebak dalam pemikiran antum sendiri tanpa mau belajar dengan tenang dan berpikiran jernih. Apa yang saya lihat adalah antum menyalahkan salafy dan manhaj salaf dari pandangan sempit, meski antum menolak namun apa yang saya tangkap dari tulisan-tulisan antum justru membenarkan opini saya tersebut. Mudah-mudahan antum lebih adil dalam menilai sebab janganlah karena kebencian antum terhadap suatu kaum menyebabkan antum memandang buruk dan tidak bisa berlaku adil padahal antum sendiri saya lihat tidak memahami apa itu salafy dan manhaj salaf. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita dan memberikan petunjuk. Allahul musta’an.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Tafadhal antum mau berfikir apa tentang ana. Mengenai dugaan antum, ana sungguh tidak pernah menyalahkan manhaj salaf karena kepada merekalah ana berittiba’, tetapi kalau menyalahkan orang yang hanya mengaku-aku bermanhaj salaf tapi berperilaku ekstrim, ana akui 100% ana menyalahkan mereka, dan tanpa ragu ana akan mengatakan, merekalah para perusak manhaj salafus shalih yang sesungguhnya, semoga antum bukan salah satunya akhi. Barakallahu fiik.

  13. Ini blog Salaf yang paling tidak pernah bikin panas kuping orang2 non salaf seperti saia ini :-D

    keep it up, agar terus mem balans apa yang terjadi dalam “retorika” di blogsphere
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Segalanya perlu pertimbangan yang panjang brother…. :mrgreen: Sekalipun harus mengorbankan yang sedikit tersebut, yaitu orang-orang yang ekstrim dan gegabah dalam bersikap. Semoga Allah memberimu hidayah… :oops:

  14. Assalamu’alaikum.
    Salam kenal. Dulu saya jg mengalami pergolakan batin seperti anda. Tp akhirnya saya berkesimpulan bahwa salafy ternyata lebih benar dr yg lain. Saran saya antum jgn cuma ngobrol2 aj dgn salafiyyun yg cuma kajian seminggu sekali. Luangkan waktu antum dgn tabayyun k ustadz atw santri senior ma’had salafy. Semoga Allah memberi hidayah kpd antum sebagaimana hidayah Allah kepada Al-Imam Al-Gozhali dan Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahumullahu jami’an.
    Wassalamu’alaikum.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Barakallahu fiik ya akhi.

  15. Islam yang benar itu adalah Islam yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
    Nama ataupun identitas diri itu tidaklah penting.
    Selama kita yakin bahwa apa yang kita pegang benar-benar ada dasarnya di Al-Qur’an ataupun hadits-hadits Rasulullah,
    insya Allah kita sudah termasuk kelompok yang benar.

    Jangan sampai kita terjebak pada pengelompokan identitas yang pada akhirnya justru memecah-belah ummat Islam sendiri.
    Dulu, sebagian ummat Islam berteriak, “kita harus kembali kepada manhaj salaf. Kita harus menjadi salafy, karena arti dari salafy adalah mengikuti manhaj salaf”.

    Sekarang, sebagian ummat Islam berteriak, “Kita adalah salafy. Dan itu artinya kita bukan IM, bukan NU, bukan Persis, ataupun lainnya lagi.”

    Disadari atau tidak, mau diterima secara jujur ataupun tidak, memang sudah terjadi pergeseran makna salafy dari “kelompok yang mengikuti manhaj salaf” menjadi “kelompok selain IM, NU, PERSIS, dll”.

    see:
    http://insyaflahsalafy.wordpress.com/2007/12/22/makna-manhaj-salaf-dan-salafy-yang-telah-di-salah-arti-kan/

  16. Kok rumit ya bro? Apa beragama itu memang harus selalu rumit seperti ini?
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    InsyaAllah nggak rumit kok bro’. Justru yang rumit ini kita sendiri yang buat. Kan sudah jelas aturan-aturannya, yaitu di dalam al-qur’an dan sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Kalau mas bro perhatikan article http://ihwansalafy.wordpress.com/2007/12/24/seharusnya-anto-salafy-mati-seperti-almarhum-wedehel/ , ini merupakan sebagian dari kemudahan yang Allah anugerahkan kepada kita. Meski ada sebagian kecil dari kita yang ketat dalam beragama, selama tidak menimbulkan kerancuan bagi orang-orang di luar jama’ahnya saya pikir itu tidak masalah. Barakallahu fiikum.

  17. akhi, berbaiksangkalah kepada orang lain ,terutama dia adalah orang muslim. kapan bangsa ini bisa maju klo umat masih belum bersatu?kapan?
    salafi, kalau antum anggap sebagai satu kelompok yang terpisah (walaupun sebenarnya salafi artinya orang yang mengikuti kaum salaf), juga kadang tidak sepakat dengan sesamanya. sekarang, sohib antum ikut kajian yang mana???
    jujur, klo ada yang mengatakan haroki adalah bid’ah, maka itu adalah salah. rasulullah juga punya manhaj haroki.
    dan mencela hasan al-banna dkk adalah sebuah kesalahan karena setiap orang pasti punya kesalahan.
    perbedaan, selama bukan dalam masalah akidah dan ushul, jangan dipertentangkan. syukron.
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Jazakallahu khair, insyaAllah ana sangat sepakat atas pernyataan antum di atas. Mudah-mudahan yang lain diberikan kemudahan juga. Barakallahu fiikum.

  18. Assalamualaikum. Yah, akhi. Tetap berpegang teguhlah pada buhul2 Allah! Dan jangan sampai tercerai berai. Semua pemikiran tidaklah mutlak kebenarannya. Jangan taklid buta kepada Hassan Al Banna, jangan taklid buta kepada Nashrudin Al bani, dan kepada semua ulama2. Semua ulama tidak bermaqam yang benar-benar terjaga dari kesalahan.

    Jadi saling klaim “ana Salafi” kepada manhaj salafi, bukanlah dari orang yang mengatakan “ana salafi” Apakah kita benar2 mencontoh ulama salaf dengan berkoar2 “ana salafi” atau diam dan mengikuti generasi2 terbaik tersebut. Contohlah seperti imam Syafi’i yang berfatwa berbeda di tempat berbeda, dan diingatkan oleh muridnya imam Ahmad tentang fatwa imam Syafi’i. Dan imam Syafi’i menganggap itu merupakan ilmu baru, dan bukan menghujat beliau (imam Syafi’i).

    Jadi saling mengerti dan menerima kritikan itu adalah wajar. Yang kurang wajar adalah orang-orang yang sudah merasa paling benar dan selalu mengkritik orang lain tanpa melihat kesalahan pada dirinya. Karena manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan kecenderungan berbuat dosa!

    Dalil, dan hujjah kita sama. Kenapa kita berpecah hanya gara2 pemikiran dalam masalah perbedaan pendapat masing2 ulama!

    Jadi, kalau mau ngritik yah harus mau dikritik. Kalau merasa paling benar dan tidak mau di kritik, atau dikritik sedikit merasa dihujat. Yah, kita tunggu hisabnya nanti aja. Jadi biarlah Allah yang menghakimi!

    Saya jadi teringat ketika mengikuti kajiannya syekh At-Tamimi. Dilain pihak jamaahnya tidak boleh mengikuti ustad yang lain, dilain pihak ustad yang lainnya pun melarang mengikuti kajian syekh At-Tamimi. Padahal dua2nya mengaku berpandangan salaf. Nah, itulah perbedaan IM. Semua ulama adalah panutan kita.

    Jadi saya orang yang paling enjoy. Mau ikut kajian manapun, yah terserah saya! Toh materinya juga sama, itu2 aja. Ok gitu aja Akh.

    Wassalamualaikum
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
    Ya akhi, kebenaran hanyalah milik Allah. Dan makhluk yang paling dijaga kebenarannya adalah Rasulullah. Muslim yang baik adalah mengambil mana yang paling benar diantara banyak pendapat dan pandangan. Ana bersyukur atas nikmat dan hikmah yang Allah anugerahkan kepada ana. Harapan ana hanyalah semua umat Islam bersatu dan berukhuwah dalam ikatan iman. Menghormati ijtihad ulama lain tanpa mensesatkan atau membid’ahkan orang yang tidak sama dengan kita. Biarlah Allah yang memberikan ganjaran atas kesalahan kita.

    Oh, ya akhi, saat ini pekerjaan ana sedang padat banget. Ana harus mempersiapkan import barang dari Denmark dan China, sehingga belum bisa mengupdate postingan ana lagi. Mudah-mudahan senin ada postingan baru yang bisa disuguhkan, insyaAllah. Barakallahu fikum.

  19. Assalamualaikum. Wew, jadi importir uey! Sukses selalu akh. Tapi jangan lupa zakatnya :) Kalau ada barang bagus akh, bagi2 Bisa dijual di blog ana hihihihi. Pokoknya umat islam harus “kuat” (kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, dan juga yah kuat duitnya) hehehe. Sukses selalu Akh. Jazakallah

  20. salam….pak, diluar topik ne. ku mang ngasal aja masuknya.
    kawanku aktif di qiyadah islamiyah tu….katanya sekarang kan udah tobat..eh kok dia masih jalan aja sama kelompoknya. di misbah 07 buruj apa entah di jazirah jogjakarta. mang qiyadah masih jalan ya?
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Ya akhi, keyakinan itu akan sulit dihilangkan. Apalagi bila yang mengalaminya masih percaya bahwa apa yang dijalaninya itu adalah sebuah kebenaran mutlak. Naudzubillahi min dzaliq. Kesesatan itu akan terus hidup sampai Allah memutuskan kehendaknya. Tapi kebenaran juga akan terus hidup untuk meluruskan kesalahan. Maka beruntunglah orang-orang yang memilih kebenaran dan menafikan keburukan. Kayanya mas harus tolongin temennya tuh. Barakallahu fiikum.

  21. Alhasil, gue menyimpulkan: tidak ada kebenaran yang mutlak menurut pandangan manusia sekalipun itu disertai dalil-dalil yang nyata. Tergantung dari sisi mana manusia itu melihatnya.

    %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

    Suatu hasil pemikiran yang cemerlang???

    Dalam beragama tidaklah akal didahulukan daripada dalil

    Dalam beragama bukalan banyaknya orang yang melakukan lantas menjadi Hujjah

    Waktu pertama-tama Nabi Muhammad berdakwah ditengah-tengah orang Kafir, mereka menganggap Nabi Muhammad sudah gila, menyebarkan aliran sesat dan berbagai macam tuduhan. Lalu apakah benar apa-apa yang dituduhkan orang kafir tersebut?

    Walaupun dakwah Nabi Muhammad dinilai tidak masuk akal dan mayoritas mereka menolak, bukan berarti yang dilakukan Nabi Muhammad itu salah, iya kan?

    Kembali ke logika konyol diatas, Nabi Muhammad pun akan terkena kekonyolan logika itu.

    Alhasil, gue menyimpulkan: tidak ada kebenaran yang mutlak menurut pandangan manusia sekalipun itu disertai dalil-dalil yang nyata. Tergantung dari sisi mana manusia itu melihatnya.

    Orang-orang kafir masa itu menilai bahwa apa yang didakwahkan Nabi Muhammad itu sesuatu yang tidak masuk akal. Alhasil ya begitulah logika konyol yang anda pahami.

    __________
    Ibn AbdMuis, menjawab:
    Adakah ana mendahulukan akal? :roll: Justru telah terang seperti sinar matahari di siang bolong yang cerah, harus ada keseimbangan antara hujjah dalil, akal dan realitas. Akal dan realitas digunakan untuk membenarkan dalil, agar orang-orang yang bodoh bisa menutup mulutnya dan umat Islam yang menggunakan dalilnya tidak dilecehkan karena akal logika liar mereka.

    Ya akhi…. betapa banyak musuh-musuh Islam yang pandai dalam menggunakan akal logika busuk mereka untuk melecehkan Islam, karena itu diperlukan penjelasan dengan akal dan logika yang berlandaskan pada dalil, untuk membumkam mulut-mulut mereka yang tidak henti-hentinya mencela Islam. Semoga Allah membantumu untuk memahami maksud pernyataanku.

    Ya akhi, banyak dari orang-orang bodoh yang membenci Islam itu bertanya, “Benarkah al-Qur’an itu suci? Kalau al-Qur’an itu suci, sudah jelas ia tidak boleh dibawa ke WC. Lantas… bagaimana dengan para penghapal al-Qur’an yang memiliki hafalannya di dalam kepalanya? Bukankah fungsi mushaf yang berasal dari kertas dan fungsi ingatan yang berada pada otak itu tidak berbeda? Kalau begitu, berarti para penghafal al-Qur’an tidak menganggap dan menghormati bahwa al-Qur’an itu suci, seharusnya mereka meletakkan otaknya di luar WC sama seperti mereka meletakkan mushafnya di luar WC :roll: Belum lagi kalau sudah ditanyakan mengenai bagaimana nasibnya dengan handphone yang berisi satu juz mp3 atau tulisan al-Qur’annya. Apakah kita cukup menjelaskan hal tersebut dengan dalil saja?

    Kalau itu yang terjadi, wallahi, antum akan dilecehkan dengan nistanya oleh para musuh Islam tersebut karena tidak bisa menjelaskannya dengan akal logika bodoh mereka.

    Afwan jiddan akhi. Semoga bisa menjadi bahan pemikiran kita bersama. Barakallahu fiikum

  22. Berkaca-kaca….(semoga tidak pecah)….
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    :roll: :lol: :mrgreen: :cry: :roll:

  23. Menanti postingan baru…semua sudah saya baca…kesimpulannya saya harus menambah koleksi buku…

    Oya, jika Anda tidak keberatan kalau ada bisa dilisting buku-buku filsafat Islam yang Anda rekomendasikan?

    Merci beaucoup….
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Waduoh, buku-buku filsafat??? :roll: Bisa tambah dihujat orang-orang yang sok salaf dong!!! :lol: :mrgreen: [maksudnya orang salafi ekstrim yamani].

    Kalau saran saya, sebaiknya mba baca buku yang sedang diminati saat ini saja dan memang bermanfaat untuk kehidupan mbak misalnya tentang bagaimana meningkatkan iman, bagaimana bisa mendekatkan diri kepada Allah, ciri-ciri suami yang baik menurut al-Quran dan sunnah [kalau belum nikah hehehe :lol: ] atau hal-hal lain yang berhubungan dengan apa yang sedang mba lakukan sekarang misal bagaimana cara mendongkrak blog kita bisa menjadi top blog kali hihihi… :lol: :lol: :lol:

    Jangan pernah paksakan untuk baca hal lain yang menurut mba belum terlalu penting dan emang nggak mood aja untuk dibaca dan diketahui. Maksud saya sich supaya esensi dari buku tersebut bisa diserap, dipahami dan diimplementasikan secara penuh alias tidak sambil lalu, kan kasian mubazir waktu dan pikirannya.

    Oh ya. ijin ngelink ke blognya ya…. supaya bisa pantau ghitu… :oops:

  24. wah….justru saya berminat pada buku-buku yang sedang tidak diminati….

    perpustakaan pribadi saya penuh dengan buku filsafat timur, barat, dan bahkan filsafat kuno…

    bukannya saya mau berbeda, tapi kalo harus membaca yang kini sedang diminati, kayaknya bukan Hilda banget deh :) (*halah sok banget deeeeh)….
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wuish keren dong! Untuk bisa tidak menjadi follower itu susah banget loch! Tapi kalau mau baca yang Islami dan sedikit pengaruh filsafat, sepertinya buku-buku Imam Ghozali dan Sayyid Quthb juga okeh tuch. Tapi sekali lagi ini cuma sebagai referensi ya. Kalo ada yang bagus jangan sungkan untuk diambil tapi kalau ada yang salah jangan ragu juga untuk ditinggalkan. Karena tidak ada manusia yang sempurna selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  25. Ah Akhi Salafy yang menyenangkan
    Salam
    __________
    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Salam juga prince…. :oops:

  26. Assalamu’alaikum

    Wah senang’y bs ktemu blog ini selain al-ikhwan.net. Akh klau dipikir-pikir pngalaman anta mirip2 dikit dg ana. Ana pun dulu sempat mengalami kebimbangan dg tarbiyah akibat pemahaman ana yg salah ttg siapa golongan yg selamat. Ana dulu sempat hampir setahun absen dr liqo’an tarbiyah tp alhamdulillsh insya Alloh sekarang ana smakin mantap di tarbiyah.

    Tetap semangat dan istiqomah akh

  27. maaf saya salah kasih name maksudnya al abdul faqir ilallah kurang huruf H nya, habis terlalu semngat jd tak sempat dibaca lagi langsung di submit

  28. Semoga kita mengetahui kebenaran dari hati, bukan dari prasangka :)

    Ketika nafsu dan prasangka telah berada dalam diri kita, maka kebenaran yang kita lihat didepan mata menjadi kabur. Sehingga para paham Takfirisme menjadi terasa benar, padahal menyesatkan :D

  29. Assalamualaikum…

    Akhi fillahi… kalau ada artikel yang menarik kirim ke email ana ya… mungkin juga ada diskusi yang bisa kita bangun bersama. Tapi afwan ..gak bisa di blog ini, khawatir agak sensitif..

    Jazakallahu ..wallahu musta’an

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

    Tidak ada alasan untuk ana menolak permintaan antum. Bagaimana kalau diskusi awalnya kita buka di e-mail ana dulu di http://www.ihwan.salafi@gmail.com atau http://www.ihwansalafy@yahoo.com . Biar ana paham maksud dan tujuan antum. Barakallahu fiikum.

  30. Assalamu’alaikum wr wb

    Terima kasih telah beberapa kali berkunjung ke tempat saya dan memberikan komentar .. dan sekali lagi terima kasih saya diperbolehkan mampir disini yang ternyata banyak sekali kutipan ayat² yang membukakan pikiran.

    Semoga upaya dan perjuangan serta menyebarkan kalam ilahi dapat menggugah manusia untuk lebih rendah hati, tawaduk, sabar, santun dan berpikiran jernih setiap kali berdiskusi dan tetap mengutamakan persatuan bahwa sesama muslim adalah saudara.

    Wassalamu’alaikum wr wb

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Terima kasih telah beberapa kali berkunjung ke tempat saya dan memberikan komentar .. dan sekali lagi terima kasih saya diperbolehkan mampir disini yang ternyata banyak sekali kutipan ayat² yang membukakan pikiran.

    Waaah….. *sumringah sambil bercucuran air mata mode on* yang punya blog keren datang…. :oops: Aduh pak, tolong dunk jangan seperti itu, saya jadi enggak enak ni *gugup kalang kabut*.

    Semoga upaya dan perjuangan serta menyebarkan kalam ilahi dapat menggugah manusia untuk lebih rendah hati, tawaduk, sabar, santun dan berpikiran jernih setiap kali berdiskusi dan tetap mengutamakan persatuan bahwa sesama muslim adalah saudara.

    Subhanallah, bijak bangget pak! Tapi saya pikir tausiyah itu lebih tepat buat saya seorang kayanya? :roll: Ya, kata-kata agar bisa lebih rendah hati, tawaduk, sabar, santun dan berpikiran jernih benar-benar mencampakkan diriku…

    Thanks pak, sudah mau main ke blog saya… :oops: :cry:

    *siul-siul sambil cengar-cengir kegirangan*

  31. salut biat yang nulis, membuka wawasan dan menambah pengetahuan kita. intinya ‘ jangan sok seperti malaikat, suka menghakimi, menuduh paling bener sendiri, menuduh sama sodara sendiri. pekerjaan kita masih banyak coy….!’ sekali lagi salut.

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Kebenaran itu hanya milik Allah dan tidak bisa diklaim oleh diri sendiri. Barakallahu fiik.

  32. Assalamu’alaikum
    wow…, Subhanallah!
    Penjelasan yang luar biasa. Ente cerita setiap detailnya. :D

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Wa’alaikumussalam,
    Wow!! Subhanallah juga! :D
    Karena antum sudi membaca curahan hati ana saat kegalauan hati itu menyerang ana. Seperti itulah adanya meski menurut sebagian orang article ini nggak penting sedangkan menurut ana ini adalah moment pendewasaan berpikir yang subhanallah. Semoga bermanfaat dan sekali lagi jazakallah karena sudah sudi membaca article panjang ini. Barakallahu fiik.

  33. Berat banget nih saya baca yang kayak gini…

    Ibn Abd Muis, menjawab:
    Nggak pernah fitnes dan angkat barbel ya mas? Hihihi… :lol:

  34. salam ukhuwah

  35. afwan, saran terbaik untuk saat ini, jangan terlalu menyibukkan diri dengan hal tersebut,,,
    tadinya ingin mengungkapkan kebenaran tapi bisa jadi kita keterusan dan tidak ada bedanya dengan mereka. cukuplah manhaj ahlussunnah yang kita ikuti.. yang penting kan isinya bukan namanya.. Allah yang paling mengetahui kebenaran…
    ayo belajar bahasa arab.. menyenangkan!!
    ilmu yang sekian banyak membuat kita tidak menyisakan waktu sedikitpun untuk dibuat stress oleh hal semacam ini.. kecenderungan pada suatu jama’ah dengan kekhasannya masing-masing itu sulit dihindari,, tapi orang yang mau berfikir insya Allah akan menemukan kebenaran haqiqi..

  36. Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

    Jazakallaahu khair akhi.

    Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, rahmat, keistiqamahan serta kesabaran bagi antum sekeluarga, amin.

    Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

  37. asslmkm, wr. wb
    af1 akhi ana akhwan sama 1 manhaj, sekarang ane juga pernah di beri dilema seperti itu.
    memfitnah sungguh tidak benar. baik itu yang mengaku atau pun tidak bahwa ia adalah salaf.
    kita juga salaf ya akh?
    tapi tidak menganggap diri ini yang paling benar, kita realistis aja. kadang tanpa kita sadar kita juga seperti mereka.
    mengapa?
    kita juga manusia, Allah ingin kita mengambil hikmah dari apa yang kita di berikan olehNya. seperti senyuman murabbi itu. keras banget hati orang yang mengatakan hati2 terhdap senyuman.
    senyuman itu ibadah…
    masak kita berprasangka buruk terhadap senyuman.
    apa kita benar2 ikhlas juka senyum?
    mudah2 an kita termasuk orang yang senantiasa di beri petunjuk untuk hal2 yang sifatnya pokok bukan cabang.
    amin..
    jazakallah khairan katsir.

  38. HATI2 USTADZ JANGAN SAMPAI JADI ABDUL moisSSAD

Tinggalkan Balasan