Israel sangat takut bila Presiden Bashar al-Assad jatuh, maka Suriah akan jatuh ke tangan Ikhwanul Muslimin. Israel akan benar-benar terkepung. Seperti dikatakan Perdana Israel Benyamin Netanyahu, bila Bashar al-Assad jatuh, maka Syria akan jatuh ke tangan Ikhwanul Muslimin.

Israel seperti dikatakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Leon Panetta, bahwa pasca revolusi di dunia Arab, nasib Israel benar-benar sangat buruk, dan terkepung dengan rezim-rezim baru, yang sangat tidak bersahabat dengan Israel. Israel harus melakuka pilihan berdamai dengan dunia Arab dan Palestina.

Kejatuhan Bashar al-Assad, sangat dikawatirkan Syria akan jatuh ke tangah Ikhwan. Berarti Israel di kelilingi kekuasaan yang dikenedalikan oleh Ikhwan. Mesir, negeri yang paling strategis posisi geopolitiknya, dan berpenduduk 87 juta, sekarang kekuasaan beralih ke tangan Ikhwan. Bersamaan dengan kemenangan Partai Kebebasan dan Keadilan, yang mencapai 40 persen dukungan suara dari rakyat.

Situasi politik di Mesir masih ditambah dengan kemenangan Partai Nur, yang didirikan oleh Salafi, mendapatkan dukungan yang sangat signifikan suaranya, yang mencpai hampir 30 persen. Sehingga, gabungan Partai Kebebasan dan Keadilan dangan Partai Nur, sudah mencapai 70 persen, dan dengan sendirinya, dapat merubah konstitusi Mesir, yang akan mempunyai implikasi serius bagi masa depan.

Palestina suda lama, kekuatan Ikhwan menancapkan kukunya di tanah Palestina, sejak zamannya Hasan al-Banna mengirimkan ribuan pasukan sukeralawan ke Palestina, dan kemudian dilanjutkan oleh Izzudin al-Qassam, yang merupakan seorang kade Ikhwan. Seperti halnya, Ahmad Yasin dan Haniya, merupakan tokoh yang berafiliasi secara ideologis dan politik kepada Ikhwan.

Sheik Yasin merupakan generasi kedua setelah Izzudin Al-Qassam, yang berjuang membebaskan Palestina. Sekarang Sheik Yasin digantikan oleh Ismail Haniya. Mereka merupakan generasi penerus Ikhwan.

Di Lebanon, kekuatan Ikhwan tidak dapat dipandang lemah, yang merupakan jaringan gerakan, yang dikeknal “Murobithun”, yang merupakan gerakan sayap militer dalam gerakan Ikhwan di Lebanon.

Tokoh-tokoh Ikhwan Libanon, seperti Fathi Yakan, dan Said Hawa, merupakan tokoh-tokoh yang terus menggelorakan perlawanan terhadap Israel. Meskipun, landscape politik di Lebanon sekarang dikuasai oleh Hisbullah. Tetapi, kelompok Ikhwan tetap memiliki “share” politik di Lebanon.

Demikian juga, di Yordania, kekuatan Front Amal Islami, yang menjadi sayap politik Ikhwan, terus melakukan tekanan terhadap Raja Abdullah, yang menjadi pewaris tahta Kerajaan Yordania, menginginkan agar hubungan bilateral  dengan Israel dibatalkan. Front Amal Islami, mempunyai dukungan yang luas, dan memiliki kekuatan yang dukungan dari rakyat Palestina.

Tokoh-tokoh Ikhwan di Suriah sudah habis dibantai oleh Hafez al-Assad, ayah dari Bashar al-Assad, di tahun l982, tetapi kota Hamma (Home), tetap menjadi pusat gerakan terhadap rezim Alawiyyin (Syiah).

Ikhwan sejak zamannya Ramadhan al-Buthi, dan sejumlah tokoh lainnya, terus melakukan perlawanan terhadap rezim minoritas Alawiyyin, yang menggunakan pasukan militer mereka membasmi gerakan Ikhwan.

Tetapi, sejak tahun l982, di mana Ikhwan dibantai oleh Hafez al-Assad, sekarang mereka menggunakan taktik baru, yang diinspirasi oleh Hamas, melalui cara “Intifadhah” perlawanan dalam bentuk pembangkangan sipil dan demonstrasi.

Ini membuat rezim Bashar al-Assad, menghadap kesulitan. Apalagi, kelompok Ikhwan di Suriah sekarang mendapatkan dukungan dari Turki, dan sejumlah LSM internasional dibidang hak-hak asasi manusia.

Israel menyakini Bashar al-Assad pasti akan kalah dan hancur. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Benny Gantz mengatakan, kepada anggota Komite Knesset, bila Bashar al-Assad jatuh, maka militer Israel segera akan masuk ke Suriah.

Ini sudah tidak mungkin lagi ditolelir, di mana rezim-rezim yang dahulunya menjadi sekutu Israel, sekarang jatuh ke tangan kelompok “teroris”. Ikhwan di mata Israel tetap merupakan kelompok radikal, yang sama dengan teroris. Hamas yang merupakan anak asuh Ikhwa itu, tak lain adalah kekuatan teroris, yang akan mengancam masa depan Israel.

Seperti garis yang melingkar dari mulai Mesir, Tunisia, Maroko, Aljazair, Yaman, sampai ke Suriah, kekuatan Ikhwan, nampaknya akan menjadi penentu garis politik di Timur Tengah di masa depan. Ikhwan akan menjadi pemain utama, pasca revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara.

Kemenangan dalam pemilu yang sekarang ini berlangsung, nampaknya memberi ruang lebih luas bagi Gerakan Jamaah Ikhwan memposisikan dalam episentrum politik secara regional di dunia Arab dan Afrika Utara.

Di Mesir pemilu parlemlen dimenangkan oleh Partai Kebebasan dan Keadilan, di Tunisia dimenangkan Partai An-Nahdhah, di Maroko dimenangkan oleh Partai Keadilan dan Pembangunan, di Yaman kemungkinan yang akan menjadi penentu Partai Ishlah.

Semuanya kekuatan politik baru ini, merupakan produk Ikhwan. Dan para pemimpin Ikhwan memainkan peran politik dengan sangat cerdik, yang terkadang menimbulkan prasangka dikalangan Islam sendiri, yang menilai Ikhwan bermain dalam tataran politik, bergaya “murji’ah”.

Penentu kebijakan di Yerusalem dan Washingtong sedang galau melihat perubahan poltik, yang sangat dramatis di dunia Arab dan Afrika Utara, di mana kalangan sekuler dan liberal digulung oleh kalangan Islamis.

Meskipun, Gedung Putih sudah mengeluarkan ratusan juta dollar untuk menggagalkan kaum Islamis agar mencapai kemanangan.

Tetapi, segala telah berubah, dan tidak mungkin lagi jarum jam, akan ditarik ke belakang, dan segala telah memberikan harapan bagi Gerakan Islam.

Tentu, yang paling menarik perkembangan di Turki, di mana Partai AKP yang dipimpin oleh Perdana Menteri Erdogan, benar-benar berhasil mengubah posisi militer. Militer Turki diposisikan dibawah supremasi sipil. Militer tidak lagi dapat mengetervensi pemerintah, dan membubarkan pemerintah partai politik.

Sekarang posisi Turki semakin jauh. Akibat peristiwa Kapal Mavi Marmara itu, hubungan Turki-Israel, boleh dibilang putus. Semua hubungan bilateral dengan Israel dibekukan. Padahal, antara Turki dan Israel, keduanya menjadi anggota Nato. Tetapi, Turki tetap memilih jalan menolak hubungan dengan Israel, sampai meminta maaf.

Kolaborasi antara Ikhwan dengan Partai AKP sangat nampak, di mana saat kunjungan Perdana Menteri Turki Recep Tayyib Erdogan, bertemu dengan Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin, Mohammad Badie, dan melakukan pembicaraan bagi masa depan dunia Arab dan kaum Muslimin.

Perdana Menteri Hamas Haniya, juga melakukan kunjungan ke Turki, dan bertemu dengan Erdogan. Ismail Haniyah bukan hanya bertemu dengan Erdogan di kantornya di Ankara, tetapi Haniyah di jamu di rumah Erdogan di rumah pribadinya. Dukungan Turki terhadap Palestina secara total. Tidak menunjukkan adanya keraguan.

Israel benar-benar terkepung saat sekarang ini. Seperti dikatakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, bahwa Israel sekarang sudah terkepung, dan Benyamin harus berdamai dengan Palestina. (al-afghan)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/israel-akan-mencaplok-suriah-bila-bashar-al-assad-jatuh.htm

About these ads