Eramuslim.com, Generasi baru sayap Salafi telah lahir di Mesir. Generasi baru tersebut digawangi oleh para pemuda sayap tersebut, yang menyatakan “perbedaan pemikiran dan haluan” mereka dengan generasi tua. Demikian dilansir surat kabar Mesir Shorouk (29/5).

Generasi baru tersebut menegaskan garis pemikiran Salafi yang lebih moderat, toleran, terbuka, dan progresif. Mereka menyebutnya “Salafyo Costa”.

Bermula dari laman grup facebook bertajuk “Salafiyyuu Kustaa (Salafyo Costa)” yang diikuti oleh sekitar 1400-an member, gagasan untuk melahirkan generasi baru Salafi tersebut terbentuk.

Jum’at (27/5) kemarin, ratusan pemuda “Salafyo Costa” pun ikut serta turun ke Lapangan Tahrir untuk bergabung dengan demonstrasi rakyat Mesir. Aksi tersebut terbilang menarik. Pasalnya, inilah kali pertama unsur Salafi ikut serta dalam aksi demonstrasi di Lapangan Tahrir.

Sebelumnya, unsur Salafi justru merilis fatwa haram ikut serta turun dalam aksi revolusi 25 Januari silam. Salah seorang ulama Salafi Mesir terkemuka bahkan merilis fatwa mati untuk Elbaradei dan Shaikh Yusuf Alqardhawi karena berandil dalam menggerakkan aksi revolusi.

Ya. Selama ini, sayap Salafi terkesan sebagai unsur yang eksklusif, kaku, menolak dialog, bahkan tak jarang menyalahkan, menyudutkan, dan mengkafirkan pihak lain di luar unsur mereka.

Namun barangkali kesan tersebut adalah mainsterm Salafi generasi “tua”. Sebab kini telah lahir generasi muda dari sayap Salafi: “Salafyo Costa”. Generasi muda Salafi berbeda dengan generasi tua-nya; mereka menyambut dialog dengan berbagai sayap pemikiran dan politik lain, dalam koridor saling menghormati antar sesama.

Salafyo Costa juga menegaskan jika perbedaan dalam pemikiran tidak boleh merusak jalinan persaudaraan antar sesama. Dalam laman grup Facebooknya, “Salafyo Costa” juga menulis “ajakan bagi berbagai unsur pemikiran yang berbeda-beda, mari menuju satu kesatuan dalam kerangka kebersamaan, kerjasama, dan debat santun”.

Selain itu, pemuda “Salafyo Costa” juga menyerukan sesama “anggota” Salafi lainnya untuk lebih bisa membuka diri dan mau mendengarkan pendapat umum, serta tidak eksklusif dan memisahkan diri dari masyarakat. Mereka juga mengajak untuk membuka hati dan pikiran terhadap “madaris ukhra fiqhiyyah (pemikiran-pemikiran fikih lain)” yang ada dalam masyarakat kontemporer. (ags/shorouk)

About these ads