Ciri-Ciri Kader Cemen?!?!
Ikhwan wa akhwat fillah, pagi ini ana dapat komentar menarik dari seseorang yang mengaku bernama Entong. Mungkin dilatar belakangi dengan article ana yang berjudul “Selamat Tinggal Kader Cemen!”, terus beliau mikirnya jauh dan mulai menginventarisir ciri-ciri kader cemen. Lucu juga bacanya dan mulai kepikiran untuk ana coba inventarisir ciri-ciri tersebut. Hik! Inspirasi memang bisa didapat dari mana ajha??
Jazakallahu khairal jaza akh Entong.
Berikut komentar yang dimaksud :
assalaamu’alaikum
kader cemen itu kader yang kalau diajak syuro’ datang telat, dikasih jarkom telat ngambek, giliran dikasih jarkom cepet jawabnya “afwan akhi, ana gak bisa datang, ada urusan keluarga”
kader cemen itu kader yang kalau ikhwan akhwat ngobrol berduaan, kalau ditegur jawabnya “akhi, kita ada di ruang publik, maka jangan sampai kita terlihat eksklusif”. kader yang kalau ngebagi jenis orang itu menjadi 2, “dia ‘ammah atau ikhwah?” tapi gak nyadar dan gak ngaca kalau gayanya jauh lebih ‘ammah dibanding yang dianggap ‘ammah
kader cemen itu kader yang banyak ngeluhnya, gak mau dikasih amanah, jago ngomong tapi aksinya kurang(NATO, no action talk only), kader yang kalau berpanas-panas ria buat aksi gak mau karena ” afwan ya gak ikut, lagi gak enak badan nih” padahal cuma takut kulitnya hitam. serta yang kalau gak ada motor gak mau jalan…
kader cemen itu, tarik aja kebelakang dan patahkan saja lehernya, karena kader cemen itu sok merasa diperlukan dakwah padahal cuma nyusahin dakwah dan bikin yang lain jadi keder…..
so, buat yang manja dan cemen, ke laut aje….
Ibn Abd Muis, menjawab:
Wa’alaikum salam, Nambah lagi, Kader cemen itu suka ‘sirik’ kalo liat kader lain yang dulunya susah sekarang jadi seneng karena Allah anugrahin nikmat dan su’udzhannya macam-macam, kader cemen itu kalo denger gosip suka kebawa arus dan nggak punya pendirian selalu saja setuju dan ikut-ikutan, trus kalo diajak muqayam suka cari-cari alasan untuk nggak ikut seperti lagi sibuk dengan kantor/kuliah lach, nggak enak badan lach, ada urusan keluarga lach, nggak punya uang lach de-el-el padahal mah cuma takut aja ngadepin outbond training di alam terbuka seperti gunung, hutan, sungai de-es-be takut kecapekan dan mati kalE!? ckikikikikiki…![]()
Tapi kira-kira ana termasuk kader cemen nggak ya???
![]()
![]()
![]()
Ada yang tertarik nambahin ciri-ciri lainnya??
Monggo…..
DIarsipkan di bawah: Kontroversi !!!, Manhaj!, PKS, al-banna amal Anis Anis Matta Dari Qiyadah untuk Para K | Tagged: cemen, introspeksi, kader, motivasi, nyindir, sindir


















W’salaamWr.
Kader cemen?! mungkin saja mental mujahid belum terbentuk? atau justru itulah tanda-tanda dari Allah SWT atas kelemahan dan kesalahan kita sendiri?mungkin kita cenderung inklusif, kurang memperhatikan sesama saudara ( hati ke hati ). yakinlah sobat, tidak ada segala sesuatu yang ditujukkan sama Allah pada kita tanpa mengandung arti ( kebetulan ). mari kita renungi sejenak!
Mungkinkah ciri yang kalian sebutkan lebih dekat pada “ciri-ciri Munafik”? Wallahu’alam
Sepakat tuch dengan ciri2 yang disebutin di atas..
tapi boleh nambah kan ciri-ciri nya??
kader cemen itu ..
), saat jadi prajurit…capek dech..
1) kalo sudah jelas2 salah, tapi gak mau ngaku salah
2) bisa nya berwacana aja, tapi kerja…nol!!!
3) Hanya bisa menyuruh (lagaknya bos
4) perlu ditabayyun dulu…hehehe…
5) kasih taujih gitu…
No Comment lah
Itung2 tambah backlink ajah.
heheeheheheh
kader cemen itu adalah kader yang “menyulap” kerjaan tim menjadi hasil sendiri, apalagi punya posisi “lebih dipercaya” oleh pimpinan dan lebih didengar.
kader cemen itu adalah kader yang fiqh aulawiyatnya ambigu, ketika diminta isi ta’lim di sebuah majelis, dia mengeluh karena ada urusan, lalu menurut tapi setelah itu cukup 20 menit ngomong dan bicara ke hadirin (remaja masjid) bahwa dirinya ada urusan sehingga tidak bisa berlama-lama. apa urusannya? ternyata sudah ditunggu main futsal oleh teman2nya.
kader cemen itu kader yang melupakan keseimbangan dalam dakwah. banyak kegiatan yang didalihi untuk dakwah, padahal sekedar hobi yang dibungkus rapi.
makasih….wat introspeksi ….
aku dah add (www.ihwan.salafi@gmail.com) di gtalk tolong di terima….. pengen nanya2….
jazakallohu
Assalamu’alaikum.
masing-masing orang punya kapasitas dan potensi. rasanya kita juga harus evaluasi kalau ada kader yang menurut kita “kurang” itu juga cermin buat kita, bahwa semangat kita tak cukup menggetarkan semangatnya untuk lebih baik, artinya semangat kita juga masih “egois” tidak mampu menggerakkan seseorang yang menurut kita kurang. Saya tidak suka bahasa-bahasa Vonis ; Kita bukan Hakim Mas, jangan selalu bilang – TIDAK Militan, TIDAK PRofesional, TIDAK Manhajim, TIDAK DIsiplin, TIDAK Taat, TIDAK Konsisten, TIDAK…. , sedih … deh.
Lebih baik kita memakai bahasa yang membangun bukan VONIS, tidak merasa kita yang lebih hebat orang lain TIDAK HEBAT. Misalnya bahasa-bahasa : LAIN KALI ….LEBIH Militan Ya, LEBIH PRofesional, LEBIH Manhaji, LEBIH DIsiplin, LEBIH Taat, LEBIH Konsisten, LEBIH ….. Sederhana sekali kata TIDAK ….. , diganti LEBIH ……
Afwan Ustadz/Ah Fillah kalau kurang berkenan.
TIDAK ada Yang Maha Benar Kecuali Allah … khan.
LEBIH Hebat itu tugas kita.
Wass
Ass.
Saya pas buka, jadi boleh nambah yaa. Kalau anda di katain seseorang TIDAK DISIPLIN dengan LEMBUT hanya karena datang terlambat 5 menit sama atasan, dibanding DI TERIAKI dengan KERAS …. VOLUME POOL. FULAN … LAIN KALI LEBIH DISIPLIN … OK ( Pakai Mic ).
Saya pikir yang pelan tapi menyayat itu lebih sakit dari pada yang keras tapi membangun. Dari pada Lempar DUREN BERDURI lebih baik DUREN yang sudah di kupas+ Dibungkus+siap dimakan.
Wass