MAWQIF AD-DU’AT NAHWA AL-‘IFKI
(Sikap Kader Saat Menghadapi Isu & Provokasi)
Oleh : Ust. Nabiel Fuad Al-Musawwa
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12) لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ (13) وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (14) إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (15) وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16)
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapakah di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata?! Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?! Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal seperti ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang amat besar.”[1]
Ikhwah wa akhwat Ad-Da’iyyat hafizhakumuLLAAH,
Salah satu mawqif (sikap) yang harus kita miliki di dalam mengemban amanah dakwah & jihad menegakkan syari’ah ALLAAH SWT di muka bumi ini adalah sikap ber-husnuzhan (berprasangka baik) kepada saudara kita sesama mu’min -siapapun dia & dari kelompok apapun mereka- sepanjang ia atau mereka dikenal keikhlasannya & perjuangannya untuk Islam dan meninggikan kalimatuLLAAH, maka hendaklah kita menahan diri dari berprasangka buruk & apalagi sampai memfitnah atau menyebar isu, sebagaimana sabda kekasih kita SAW: “Jauhilah prasangka itu, karena prasangka itu sedusta-dusta ucapan.”[2]
Alangkah banyaknya taujih dari Yang Maha Rahman kepada kita untuk bagaimana kita selalu mengedepankan prasangka yang baik & menolak syubuhat yang dituduhkan kepada saudara2 kita sesama muslim -siapapun dia dan dari kelompok manapun mereka- jika mereka adalah muslim & bukan orang yang menunjukkan sifat2 kemunafikan maka baginya haram darah, harta dan kehormatannya, sebagaimana dalam hadits shahih dikatakan: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan membeli barang yang sudah dibeli oleh saudaramu, dan jadilah kalian hamba-hamba ALLAH yang bersaudara, seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhalimi & menghina serta mengucilkannya, Taqwa itu disini –sambil beliau SAW menunjuk dadanya 3 kali- cukup disebut seorang itu jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim, setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, hartanya & kehormatannya.”[3]
Dan jika kita berinteraksi secara mendalam dengan Al-Qur’an, maka akan kita dapatkan bahwa sifat mudah berprasangka itu merupakan watak dari orang2 yang kafir & munafiq, sebagaimana firman-NYA berkenaan dengan sifat orang2 kuffar : “… mereka tdk lain hanya mengikuti sangkaan2, serta apa yg diingini oleh hawa nafsu mereka …”[4] Atau firman-NYA dalam ayat yang lain: “Dan mereka tdk memiliki suatu pengetahuanpun ttg itu. Mereka tdk lain hanya mengikuti persangkaan, sedangkan persangkaan itu tdk bermanfaat sedikitpun thd kebenaran.”[5]
Demikian pula IA menyebutkan tentang sifat kaum munafiqin yang selalu berprasangka buruk kepada orang2 yang beriman, dan merasa senang jika orang mu’min mendapat fitnah, sebagaimana dalam taujih-NYA: “… dan kalian menyangka dengan sangkaan yang buruk sehingga kalian menjadi kaum yg binasa.”[6] Oleh karena itu, suatu saat sifat akan menghinggapi orang2 yang beriman jika tidak diantisipasi dan diluruskan, maka IA Yang maha Rahman-pun mengingatkan kepada hamba2-NYA yang beriman dengan firman-NYA: “Wahai orang2 yg beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian besar dari prasangka itu adalah dosa…”[7]
Namun kendatipun demikian, ternyata ada pula kalangan kaum beriman (yang mungkin karena belum mengenal saudaranya ataupun mungkin karena kualitas keimanannya yang belum baik) yang terpengaruh dan terjangkiti virus su’uzhan tsb, bahkan kemudian menelan berbagai isu yang tidak baik itu, bahkan ikut menyebar-nyebarkannya tanpa melakukan tabayyun ke sumber pertama dan tanpa –setelah tabayyun- menunggu klarifikasi dari sumbernya tsb: Sebenarnya substansi permasalahannya seperti apa? Ataukah dalam konteks apa hal tersebut terjadi atau kata-kata itu diucapkan? Atau bagaimana dikaitkan dengan pribadi yang menyampaikannya, apakah mungkin dengan segala kapasitas kehidupannya, perjuangannya, konsistensinya dalam dakwah dan jihad sampai saat ini ia berani melakukan atau menyampaikan seperti itu? Dst
Ikhwah wa akhawat fiLLAAH a’anakumuLLAAH,
Ketahuilah bahwa hal yang demikian itu pernah terjadi pula pada masa Nabi SAW dan bahkan fitnah itu malah menimpa diri pribadi nabi SAW sendiri & keluarganya, yaitu isu yang menerpa salah seorang istri beliau SAW, yaitu Ummul Mu’minin A’isyah RA yang diisukan ada ‘affair’ –na’udzubiLLAAH- dengan salah seorang sahabat yaitu Shafwan bin Mu’aththal RA yang berwajah ganteng saat pasca perang Bani Musthaliq (hadits selengkapnya dapat dirujuk dlm Kitab Ash-Shahihain[8]), yang jika kita teliti lebih mendalam hadits tsb maka dapat kita simpulkan beberapa hukum fiqh sbb:
1. Bahwa data memang ada (yaitu Aisyah RA berjalan berdua dengan Shafwan RA), namun data tsb -oleh orang yang menyebarkannya- tidak dikonfirmasi dahulu kepada sumbernya.
2. Kenapa itu sampai terjadi? Lalu kalaupun mereka memang berjalan berdua (tepatnya Shafwan RA menuntun Unta yang membawa Aisyah RA) maka apakah penyebabnya? Lalu apakah benar itu dilakukan oleh mereka dengan sengaja? Lalu apa saja yang mereka lakukan dalam perjalanan tsb? Dst.
Lalu perhatikanlah baik2 -wahai ikhwah wa akhwat fiddin a’azzakumuLLAAH- renungkanlah bagaimana RABB kita, Pemilik kita & Pembimbing kita yang Maha Mengajari & Maha Mendidik telah mengajari kita dikala menyampaikan taujih Rabbani-NYA, IA –Jalla wa ‘Ala- yaitu IA tidak langsung memberikan klarifikasi tentang duduk peristiwanya atau benar atau tidaknya tuduhan tsb, melainkan IA malah meluruskan mawaqif kaum mu’min jika mendengar berita seperti itu, yaitu agar membersihkan hati2 mereka, mengarahkan ittijah (arah) mereka agar naik ke langit & agar lepas dari tujuan2 duniawi yang kotor, dan memberikan taujih yang membuat berlinangan airmata orang2 yang bertaqwa & gemetar hati orang2 yang ikhlas:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapakah di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata?! Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?! Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah amat besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal seperti ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang amat besar.”[9]
Perhatikanlah bagaimana IA -Yang tidak pernah tidur & Maha Mengawasi- menegur dengan amat keras kepada sang penyebar isu dan orang2 yang membenarkannya, sebagaimana dapat difahami dari susunan kalimat dan gaya bahasa yang digunakan-NYA saat menyampaikan kalimat di surat An-Nuur di atas. Perhatikanlah saat IA berfirman: “…Dan kamu menganggapnya (menyiarkan berita yang belum di-tabayyun itu) adalah suatu (dosa) yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah (dosanya) adalah amat besar.” Imam Ibnu Katsir –rahimahuLLAAH- saat menafsirkan ayat ini[10], menukil sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain: “Ada seorang laki2 yang mengucapkan 1 kata (yang membuat ALLAH murka) yang ia tidak menyangkanya akan demikian itu, sehingga akibatnya ia dilemparkan ke neraka dari jarak yang lebih jauh dari Timur dan Barat.”[11]
Sementara Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya[12] menyatakan bahwa makna ‘bi-anfusihim’ (terhadap diri mereka sendiri) dalam ayat tsb sebagai ‘bi-ikhwanihim’ (terhadap saudara mereka sendiri), kemudian beliau –rahimahuLLAAH- melanjutkan: “Bahwa ALLAH SWT mewajibkan kepada seluruh orang beriman jika ada orang yg mencela orang lain ataupun menyebarkan isu, sementara yang menyampaikannya tidak dikenal (keadilan & ke-wara’-annya) maka hendaklah ia menolaknya & mendustakannya.”
Asy-Syahid (insya ALLAH) Sayyid Quthb –rahimahuLLAAH- menegaskan bahwa makna ‘bal huwa khayrul lakum’ (bahkan isu tsb adalah baik bagi kalian), bahwa maknanya adalah : “karena ia menyingkap tipudaya & para pelakunya terhadap Islam… dan ia juga menyampaikan kepada seluruh jama’ah islam akan urgensinya diharamkan menuduh & hukuman dera bagi para pelakunya… sebenarnya yg penting bukan sekedar hukuman tsb, tetapi perlunya mengarahkan jama’ah ini menuju tujuan yg suci, cita2 yg tinggi & perilaku yg bersih & suci..”[13]
Para Ulama Salafus Shalihin juga memberikan penekanan terhadap hal ini. Berkata Imam Al-Muhasibi –rahimahuLLAAH- :
Cinta itu ada 3 macam, tidaklah seorang itu disebut sebagai orang yg mencintai ALLAH SWT kecuali dg ketiga sifat tsb, yaitu :
1. Mencintai orang mu’min karena ALLAH dan tanda2nya adalah : Menahan diri dari menyakiti mereka, memberikan manfaat pd mereka;
2. Mencintai Rasul karena ALLAH SWT dan tanda2nya adalah mengikuti sunnahnya;
3. Dan mencintai ALLAH SWT dan tanda2nya adalah dg taat pd-NYA dan tdk bermaksiat pd-NYA.
Lalu Imam al-Muhasibi menambahkan : Dan diantara tanda menahan diri dari menyakiti sesama muslim adalah dg tdk buruk-sangka kepadanya.
Berkata Imam Al-Qasimi –rahimahuLLAAH- : “Dan sebagaimana kamu diwajibkan untuk menghentikan lisanmu dari menyakitinya, maka demikian pula kamu diwajibkan untuk menghentikan hatimu dari menyakitinya pula yaitu dengan tidak berburuk-sangka padanya, karena buruk-sangka adalah meng-ghibbah dengan hati dan sama pula dilarang melakukannya. Maka menutupi aib dan kelemahannya serta melupakannya merupakan salah satu tanda orang2 yang ahli agama. Dan ketahuilah bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sesama muslim sama seperti ia mencintai dirinya sendiri. Dan derajat terendah dari ukhuwwah adalah bergaul dengan saudaranya sesama muslim dengan hal yang ia sukai dan melupakan kekurangan dengan menutup kekurangannya dan berusaha menghilangkan sifat iri dan dengki, maka barangsiapa yang masih ada kedengkian dalam hatinya maka saksikanlah bahwa imannya lemah, dirinya berpenyakit dan hatinya busuk sehingga tidak pantas ia untuk berjumpa dengan ALLAH SWT.”
Ikhwah wa akhawat fiLLAAH hafizhakumuLLAAH,
Kita tidak mengkuatirkan apabila isu & fitnah itu disebarkan oleh para musuh Islam atau kaum munafiqin, karena mereka memang ditaqdirkan untuk memerangi Islam & syariat ALLAH SWT, tetapi yang kita kuatirkan adalah jika isu atau fitnah itu disebarkan oleh sesama kaum muslimin –baik itu karena kejahilan atau karena keburukan akhlaq mereka- (kita berlindung kepada ALLAAH SWT dari keduanya), bahkan yang lebih parah lagi jika isu itu juga ditelan oleh para kader dakwah, sehingga mereka disibukkan dengan mendengar haditsul-‘ifki (berita bohong) sementara wazhifah-yaumiyyah tidak dikerjakan, mereka sibuk membicarakan & menyebarkannya dalam berbagai liqa’at, sehingga melemahkan shaff & memudarkan semangat jihad mereka, maka dengan demikian para qiyadah akan disibukkan terus-menerus untuk meng-counter isu demi isu –dan inilah yang diinginkan oleh para musuh Islam- padahal isu tsb amat jauh dari keadaan mereka, bahkan jangankan mereka berani mengkhianati ummat, sementara anak & istri merekapun sering terabaikan demi dakwah, pekerjaan tetappun tidak punya & penghasilanpun tidak jelas karena makin bertambah beratnya beban dakwah & makin meluasnya jaringan yang harus dikelola. Jikapun kita tidak mau membantu mereka karena kesibukan ma’isyah ataupun studi kita, maka janganlah perberat beban mereka dengan menambah kerja mereka dengan hal-hal yang membuat fikiran semakin penat & rambut semakin memutih, sebaliknya doakanlah mereka & mintakan ampun bagi mereka disela-sela sujud & tahajjud kita semua.
Ikhwah wa akhwat fiddin a’azzakumuLLAAH,
Saat2 jihad siyasah sudah dekat, orang2 telah merapatkan barisannya untuk menekan kebangkitan ini & mengalahkan barisan para du’at, genderang perang sudah mulai ditabuh, isu sudah mulai ditebarkan kemana2 untuk mencerai-beraikan pasukan & melemahkan semangat juang. Maka al-akh ad-da’i & al-ukh ad-da’iyyah dituntut untuk berprasangka baik pada dirinya dan orang lain, dan bagi seorang al-akh agar senantiasa berprasangka baik pada qiyadah-nya, murabbi-nya dan para ikhwah-nya yang lain. Dan jangan melawan isu dengan isu, jangan melawan fitnah dengan fitnah pula, jangan melakukan provokasi, karena kita tidak berjuang demi dunia & kenikmatan sesaat, mendekatlah kepada ALLAH SWT, bersabarlah juga karena ALLAH SWT karena IA melipatgandakan pahala bagi mereka yang bersabar, ikhlas & teguhlah dalam berjuang karena kita tidak berjuang karena si Fulan atau si Fulanah, sebab si Fulan atau si Fulanah akan mati & akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di yaumil Mahsyar, tetapi perjuangan kita adalah demi li I’la kalimatiLLAAH, maka siapa yang menyimpang dari tujuan tsb, maka saksikanlah bahwa ia telah bersiap2 untuk menyimpang ke neraka. Maka berbaik-sangka pada sesama saudara seiman adalah tanda iman dan merupakan tuntutan ukhuwwah dan tidak ada ukhuwwah tanpanya, sebagaimana sabda nabi SAW : “Jadilah kalian hamba-hamba ALLAH yg bersaudara.”[14] Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan doa seorang hamba yg mu’min dlm Al-Qur’an: “Wahai RABB kami, ampunilah dosa2 kami dan saudara2 kami yg yg telah mendahului kami dlm keimanan, dan janganlah ENGKAU jadikan dlm hati kami kedengkian thd orang2 yg beriman, wahai RABB kami, sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
WaLLAAHu a’lamu bish-Shawaab…
———————————————————-
[1] QS An-Nuur, 24/11-16
[2] HR Bukhari, XVII/210 & Muslim, XVI/413; bahkan Imam Muslim menulis dalam shahih-nya bab: Haramnya Su’uzhan, Mencari2 Kesalahan Orang Lain… (XVI/412)
[3] HR Muslim, no. 2564; Tirmidzi, no. 1928
[4] QS An-Najm, 53/23
[5] QS An-Najm, 53/28
[6] QS Al-Fath, 48/12
[7] QS Al-Hujuraat, 49/12
[8] HR Bukhari, Bab: Law Laa Idz Sami’tumuuhu Qultum…, XV/457
[9] QS An-Nuur, 24/11-16
[10] Tafsir Al-‘Azhim, VI/28
[11] HR Bukhari, no. 6478 dan Muslim, no. 2988
[12] Tafsir Al-Ahkam, XII/202
[13] Tafsir Az-Zhilal, V/265
[14] HR Bukhari, XX/205; & Muslim, XVI/400
DIarsipkan di bawah: Manhaj!, al-banna amal Anis Anis Matta Dari Qiyadah untuk Para K | Ditandai: ikhwanul muslimin, IM, nasehat, PKS, taujih kader

















assalamualaikum
alhamdulillah
washsholawatu wassalamu ‘ala Rosulillah
asyhadu anla illaha illalloh
wa asyhadu anna muhammadarrosululloh
ama ba’d …
allohu akbar …
sayangnya dalam banyak hal antum pun
ingkari apa yang antum tuliskan dituliskan di sini …
afwan jika ana melihat ini adalah
bentuk ketidak konsistenan antum
dalam menilai berbagai hal …
bukankah ‘indah’ jika antum memulai dahulu
apa yang antum utarakan
sebelum orang lain ya akhi …
“Jauhilah prasangka itu, karena prasangka itu sedusta-dusta ucapan.”
ana tidak menilai pribadi antum di sini
sebagai orang yang buruk …
wallahu a’lam … ana kira antum lupa
bahwa dalam
cara antum dalam mengambil kesimpulan
dalam berbagai hal menunjukan
“ketidakdewasaan” antum dalam berpikir …
afwan …
dalam beberapa hal misalnya …
antum menjadikan “kesalahan orang lain, sebagai
legalitas antum melakukan kesalahan yang sama”
“Dan mereka tidak memiliki suatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan, sedangkan persangkaan itu tdk bermanfaat sedikitpun terhadap kebenaran.”
dalam beberapa hal antum ingin
agar orang bertabayun dulu …
allahu akbar
apakah antum ya akhi
(sebelum berprasangka bahwa mereka belum pernah
cek dan ricek … ) sudah bertanya pada mereka :
“ya akhi apakah antum sudah tabayyun … ?”
apakah antum ya akhi
(sebelum menduh bahwa mereka memalsukan terjemahan … ) sudah mencek ke dalam kitab aslinya ?”
ana tidak meragukan keikhlasan antum ya akhi …
subhanalloh masih ada orang yang mau
membela saudaranya … alhamdulillah …
mengingatkan ….
tapi afwan … jika orang yang antum tuduh telah
menyebarkan berita bohong …
jawablah pertanyaan ana …
apakah antum sudah berusaha keras untuk
membuktikan bahwa mereka sebaliknya (mungkin saja berkata benar)
sebagaimana kisah daud ‘alaihis salam
yang hanya mendengar cerita dari satu pihak
yang berselisih …
bisa saja ya akh … bisa saja …
apa yang antum kira kedzaliman ternyata adalah
sebuah kebaikan yang besar …
bisa saja ya akh … bisa saja …
apa yang antum kira kebaikan ternyata adalah
sebuah kedzaliman yang besar …
ana berharap dalam tulisan antum
melakukan banyak revisi metode ya akh …
agar seperti yang antum tuliskan di atas
manis tapi berat bukan …
kesabaran untuk “membela diri”
sambil berdo’a
“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami yg yg telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yg beriman, wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
jika tidak diamlah ya akh …
diam lebih selamat selagi dibalik itu kita mencari kebenaran …
akhi … fainsya alloh ini sekedar nasihat …
hadiah untuk antum …
“sesungguhnya nasihat itu bermanfaat
bagi seorang muslim”
satu lagi
sedikit saja
cara memoderasi komentar model antum
dengan memotong ditengah-tengah
terbaca tidak sopan
jika mau moderasi baiknya dikutip saja
biar orang bacanya enak …
wallahu a’lam bishshowab
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum
ya akhi
mudah-mudahan antum berlapang dada atas
kritikan ana …
dan
mudah-mudahan antum lebih berlapang dada
dalam berdiskusi dengan ana kedepan
jika menjadi sempit bagi antum apa yang ana katakan
silahkan renungkan dan silahkan pelajari …
fa insya Alloh ana pun akan demikian …
bahwa
kadang antum akan mendapati ana seorang yang keras
kadang pun bisa sebaliknya …
subhanalloh …
toh bagaimanapun
kita bersaudara
antum pernah membaca kisah
bagaimana perang shiffin saat terjadinya
pada masa Ali Rodiyallohu ‘anhu
berperang
melawan Muawiyyah Rodiyallohu ‘anhu
subahanalloh …
Ridho Alloh atas mereka semua
bagaimana persaudaraan sesungguhnya
contoh nyata dari para sahabat Rosululloh
dikisahkan
pada siang hari perang berkecamuk begitu sengitnya …
malam menjelang sore kedua pihak saling berkunjung
saling menguburkan mayat, saling menanyakan kabar
(baca : al bidayah wan nihayah)
bayangkan akh …
sekarang satu komentar pendek pun
akan membuahkan
sebuah dendam berkepanjangan
ana yakin
bahwa
perselisihan dan perbedaan harus dihindari
sebisa mungkin …
walaupun Alloh telah mengabarkan
melalui lisan Rosulnya
bahwa umat ini akan terpecah …
bahwa
hanya satu yang bisa menyatukan hati mereka :
yakni berdiri di atas panji tauhid
bahwa
kekalahan yang menimpa kita
bukanlah karena kita tidak mempelajari dunia …
namun karena kita mempelajari dunia
dan meninggalkan Alloh dan Rosulnya
wallohu a’lam bishowab
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum
mmhh …
afwan sibuk
baiklah …
kita diskusi
bagaimana kalo tentang promo antum
tentang blog yang isinya memutarbalikan dalil …
atau mungkin tulisan antum
“Mengapa Kalian Rampas Akhwatnya Jika Benci Manhajnya?”
atau juga … kesamaan antum dengan orang yang antum
beri peringatan …
afwan jika topiknya provokatif … tujuan … ana memberi nasihat saja …
atau tentang ghibah juga boleh …
mungkin dijadikan satu dengan kaidah tabdi’ dan tafkir …
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum …
sebenarnya topik diskusi yang ana kirim
ana maksudkan untuk menjawab beberapa pertanyaan
ana kepada antum, yakni :
1. apa sikap antum terhadap manhaj salaf …
2. bagaimana antum memahami istilah salafy
3. bagaimana antum membedakan antara salafy ekstrim dan bukan ekstrim
4. bagaimana tanggapan antum tentang nasihat kepada ikhwah tarbiyah atau langsung saja PKS yang terjun kedalam demokrasi yang berseberangan dengan syari’at
5. apakah antum tau bahwa ada ikhwah tarbiyah yang sama-sama ekstrimnya seperti yang antum lihat dari ke-ekstriman ikhwah salafy
6. apakah antum sadar bahwa dalam membela “paradigma” (istilah antum) antum pun dalam menyikapi beberapa komentar (terkesan) bersikap “sok paling mengikuti sunnah”
7. apakah antum sadar bahwa antum pun (terkesan) dalam beberapa tulisan merasa bisa menilai siapa yang paling ittiba’
8. apakah antum sadar bahwa kesan tidak bisa dijadikan alasan untuk menuduh orang lain. ana yakin begitu … antum pun tidak suka dituduh orang lain bukan … tapi kenapa antum menuduh orang lain berdasarkan kesan pula ?
9. apakah antum mencintai ana sebagai saudara muslim dan melihat ini sebagai suatu nasihat
afwan jiddan
wallohu a’lam bishowab
assalamu’alaikum …
tapi
sebelum nya …
kita samakan persepsi dulu saja
dari pada nanti ada yang merasa
bahwa terjadi perbedaan “paradigma” atau cara pandang …
padahal Alloh telah menurunkan cahaya dien
dimana malamnya seterang siangnya
walhamdulillah
ana perlu tau bagaimana antum menyikapi berbagai hal …
jawablah :
1. apa itu salaf
2. apa itu salafy
3. apa itu manhaj salaf
4. bagaimana sikap antum terhadap manhaj salaf
5. bagaimana sikap antum terhadap salafy
ini tentang dasar berpijak …
6. berhubung antum bilang ada salafy ekstrim (yang mana memang ada demikian) ana tanya … bagaimana cara antum membedakan antara salafy yang ekstrim dan yang bukan
7. di sisi lain ada pula tarbiyah ekstrim … yang melakukan segala cara untuk meloloskan pendapatnya … misalnya tentang demokrasi dan dalam rangka memajukan partainya (PKS) … dimana mereka melakukannya dengan alasan demi kemajuan ummah … bagaimana pendapat antum tentang mereka …
8.dalam beberapa tulisan antum pun mengklaim sebagai yang paling benar … dalam beberapa komentar pun merasa tidak bersalah ketika menghakimi orang lain …
sadarkah antum akh … sudahkah bertaubat ???
9. bagaimana pendapat antum tentang ana ya akhi fillah ?
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum …
oia jika komentar ana sering double …
bukan bentuk penekanan
kadang di opera ga muncul …
padahal dah di refresh …
eh pas ditulis ulang ternyata sudah ada …
barakallohu fiik
wa ghofarolak …
akhukum fillah
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum
saudaraku tercinta
al akh
ibnu abdul muis …
suatu kebahagiaan tersendiri
menemukan rekan diskusi seperti antum..
afwan …
tidak seperti sebagian orang
yang
(terus terang
beberapa di antaranya anda link [sponsori]
dalam blog antum …)
yang menulis tanpa mau mengakui
kesalahan apalagi meralat …
bahkan jika telah mereka menemukan
bahwa apa yang mereka yakini
bertentangan dengan qur’an dan hadits
bahkan yang jelas (shorih) sekalipun
mereka belokan arahnya
sayangnya atas nama perbedaan paradigma
tanpa penjelasan … dimana letak perbedaannya
banyak di antaranya …
mengaku menjadi pembela kebenaran
membela Islam
hakikatnya hanya membela pikiran picik …
tanpa mau rujuk
ah …
mudah-mudahan mereka hanya lupa
[penilaian ini ana berikan setelah melakukan beberapa kesempatan untuk mencoba berdiskusi ... beberapa diantaranya bahkan langsung mencap buruk begitu ana memberikan keterangan yang berbeda dengan keinginan mereka, beberapa bahkan memotong komentar sesuai kehendak nafsu ... afwan bahkan dengan alasan yang tidak rasionable
baik secara logika syar'i maupun logika manusia]
sungguh …
bahkan dalam beberapa kesempatan
mereka tanpa merasa bersalah
menelan kata-katanya sendiri
ah entahlah …
sadarkah mereka bahwa Alloh membenci
sikap seperti itu
… tidak melakukan apa yang mereka katakan …
ah benar akhi
bagaimanapun hidayah itu dari Alloh semata
bisa jadi ana pun masih jauh dari hidayah itu
semoga Alloh mengampuni ana
semoga Alloh mengampuni antum
semoga Alloh mengampuni kita semua
“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
oia
jika Alloh menghendaki kita bertemu
berbincang dan berdiskusi …
insya Alloh akan antum temukan
bukan wajah penuh kebencian
namun wajah seorang saudara fillah
barakallohu fiik
wassalamu’alaikum
assalamu’alaikum
Perkenalkan nama ana (bukan pemberian orang tua)
muhammad dhiya, kunyah nya abu zainab. Karena anak ana namanya zainab.
namun kini secara istilah mungkin orang-orang bilang ana seorang single fighter … walaupun jika melihat pada prakteknya ustadz-ustadz tempat ana belajar … mereka akan bilang ana seorang salafy … dan ana pun mencoba menjadi seorang salafy sejati (belum)
namun adalah tuntutan dari ilmu (sebagaimana yang diajarkan oleh asatidz ana) bahwa selama itu Al-Haq dan menetapi Al-Qur’an dan Sunnah … maka itulah dakwah salafiyah … dan selama seseorang berkeyakinan dan berbuat menetapi yang demikian maka dia adalah seorang salafy … seorang yang berusaha meniti ahlussunnah wal jama’ah …
adalah kenyataan bahwa banyak orang yang menolak fakta ini … bahwa islam sejatinya adalah salafiyah … dan ini adalah haq …
bahwa tidak harus (paham) arti salafy untuk jadi seorang salafy
dan adalah kenyataan bahwa bahkan ada, dari sisi orang yang menamai dirinya seorang “salafy” pun tidak berperilaku sebagai mana layaknya seorang salafy (pengikut salafush-sholih)
itulah fenomena yang ana pahami ikhwah … paling tidak dari apa yang ana ketahui …
namun ana … tidak menyerahkan ilmu ana
dibawah kendali berita …
kendali media
kendali internet
dan kendali-kendali lain yang memungkinkan seseorang memasukan sedikit walaupun sedikit hawa nafsunya …
biarlah jadi wacana …
biarlah al-qur’an dan as-sunnah yang menjadi hakim
dan biarlah Alloh yang memahamkan …
insya Alloh
ya Alloh faqihkanlah aku dalam dienku …
Aaamiiin
wassalam