Akhirnya Ku Yakini Mereka Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya
Akhirnya Ku Yakini Mereka Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya.

Entahlah, apakah aku harus bersyukur atau justru bersedih atas keyakinanku ini. Sebuah penelusuran yang panjang yang akhirnya memberikan sebuah kesimpulan yang bisa dibilang hampir final yang membuatku tenang dalam menjalani badai ujian dakwah.
Judul di atas sekali lagi kukatakan bukanlah sebuah upaya untuk menjauhkan umat dari dakwah salafus shalih yang sesungguhnya, tapi lebih sebagai penegasan agar kalian bisa berhati-hati terhadap orang-orang yang hanya mengaku-aku saja sementara mereka berwala dan baro’ secara fanatic terhadap beberapa orang ustadz atau syaikh yang sesuai dengan hawa nafsu mereka meski harus bertentangan dengan karakter dari salafus shalih sejati. Dan menurutku merekalah perusak dakwah salafus shalih yang mubarakah sesungguhnya.
Baiklah, yang pertama harus kalian perhatikan adalah terhadap orang-orang yang sering menerapkan hajr dan tabdi’ secara sporadis kepada siapa saja yang berlainan pendapat dengan mereka, baik masalah pokok maupun masalah cabang ijtihadiyah. Kelompok ini mudah sekali menvonis sesat, sikapnya kasar, kaku, bengis, suka mencela dan penyebab manusia lari dari kebenaran. Mereka fanatik terhadap individu tertentu dan menjadikan dasar wala’ dan baro’nya terhadap individu tertentu. Mereka mudah sekali bertikai , saling menuduh, mencaci dan lain sebagainya. Tak hanya terhadap kelompok pergerakan dan dakwah Islam lainnya, seperti Muhammadiyyah, NU, Al Irsyad, Jama’ah Tabligh, Majelis Mujahidin, PKS, HTI saja, bahkan terhadap sesama pengaku manhaj salaf pun mereka saling hujat. Maka jangan aneh jika kalian dapati mereka selalu menggunakan sebutan salaf i (imitasi), sururi, turatsi, al pramuki (dikaitkan dengan lagu anak-anak pramuka ”di sini senang di sana senang..”) karena ingin bergaul baik dan bermuka manis dengan sesama pegiat dakwah Islam lainnya, bungloniyyun karena mau bergaul dan menyesuaikan dengan lingkungan dakwah lainnya, dan masih banyak lagi julukan-julukan lainnya.
Satu hal yang unik adalah mereka tak segan-segan mengeluarkan kocek mereka yang tidak sedikit jumlahnya untuk dapat memuaskan nafsunya. Seperti memasang iklan di surat kabar seperti saat Syaikh Prof Dr Yusuf Al Qaradhawi bertandang ke Indonesia atas undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan berceramah di berbagai tempat, termasuk di Masjid Istiqlal, di hari Jumat pagi di tahun 2007, tiba-tiba esoknya muncul sebuah iklan buku di harian Kompas dan Republika yang isinya hanyalah subhat yang dilancarkan agar umat menjauh dari mendapatkan hidayah melalui kefaqihan sang Syaikh, padahal buku ini sudah terbit sejak 2003 atau sekitar empat tahun sebelum iklan itu muncul? Sungguh aneh dan di luar nalar??? Atau memasang iklan Majalah di Republika dengan topik Kesesatan Ide Khilafah Islamiyah saat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengadakan Konferensi Khilafah Islamiyah di Stadion Utama Senayan Jakarta pada tahun 2007 juga.
Seharusnya, jikalau mereka tidak suka dan tidak setuju dengan hajatan pihak lain, apa tidak ada cara yang lebih berakhlak dan berbudaya daripada mengobarkan permusuhan semacam ini. Toh selama ini pihak-pihak lain yang dibenci oleh mereka biasa-biasa saja bersikap kalau kelompok ini mengundang syaikh-syaikhnya dari Timur Tengah.
Sekarang kita lihat lagi keanehan mereka, beberapa waktu yang lalu, kelompok ini menghasut Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk melarang peredaran buku-buku yang ditulis oleh Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb. Alasannya adalah karena buku-buku keduanya dituduh menyuburkan terorisme. Dan kenyataannya justru yang menjadi terorisme adalah orang-orang yang berpakaian sangat dzuhud dan alim semacam style Imam Samudra dan Amrozi ce-es yang kalau diperhatikan justru lebih dekat dengan ciri lahiriyah kelompok ini seperti jenggotan dan celana cingkrang.
Coba perhatikan orang-orang yang terpengaruh pemikiran dari buku-buku Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb, mereka justru sangat membenci anarkisme teroris dan jauh lebih santun dalam bersikap apalagi terhadap sesama muslim.
Dan yang sangat aku sesalkan adalah apa yang terjadi atau dialami oleh kelompok Jama’ah ’Gito Rolies’ Tabligh yang kena imbas pandangan negatif dari orang-orang di sekitarnya dikarenakan tampilan lahiriyah mereka sama percis dengan kelompok ini atau bahkan Imam Samudra dan Amrozi Ce-Es.
Kalau mereka berittiba kepada salafus shalih sejati dan merasa sebagai dai yang peduli terhadap nasib umat Islam di Indonesia, seharusnya mereka meminta pemerintah (apalagi sudah merasa dekat pejabat negara) agar buku-buku yang merusak akidah umat Islam yang dikembangkan kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis dan Liberalis) agar ditarik dari peredaran karena isinya merusak akidah umat Islam, dimana aqidah tauhid akan diganti dengan aqidah pluralis (semua agama benar dan berhak masuk surga semua). Kok justru yang banyak dibahas dalam buku-buku, milis-milis, majalah, kaset-kaset maupun pengajian-pengajian mereka adalah Kesesatan Ikhwanul Muslimin, Kesesatan Jama’ah Tabligh, Kesesatan Dzikir Arifin Ilham, Raport Merah Aa’ Gym, dan kesesatan-kesesatan saudara muslimnya yang tidak masuk dalam kelompok mereka padahal belum nyata kesesatannya. Mungkin tak lama lagi kita akan mendengar Kesesatan ”The Power of Giving”nya Ustadz Yusuf Mansur? Wallahu musta’an. Kenapa justru yang telah jelas kesesatannya seperti kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis dan Liberalis) malah jarang dibahas? Ini ironis banget dan sungguh sangat aneh bin ajaib???
Oke sekarang kita lihat pandangan ulama timur tengah Faqihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang memberikan penjelasan siapakah salafiyun ahlus sunnah itu :
السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية.
“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”
Beliau rahimahullahu melanjutkan :
لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره.
“Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”
Syaikh melanjutkan lagi :
فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.
“Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر))
“Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.
Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”.1
Jadi jelaslah, bahwa orang-orang yang sungguh bermanhaj salafus shalih sejati yaitu bukan orang-orang yang meniti manhaj orang-orang yang menamakan dirinya sebagai salafi jaman ini yang mana mereka selalu berusaha tampil beda karena ingin dilihat beda dan memvonis sesat selain mereka. Mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun.
Ciri lainnya yang bisa kita lihat dari penganut manhaj salafus shalih sejati adalah mereka sangat berhati-hati di dalam mengimplementasikan hajr dan tabdi’ menurut kaidah dan kriteria yang telah dijelaskan oleh para ulama. Mereka ini adalah Ahlus Sunnah sejati. Mereka bisa menempatkan wala’ dan baro’ mereka pada tempatnya.
Mereka dituduh ghuluw oleh orang-orang yang tamyi’ (manhaj yang lunak terhadap ahlul bid’ah) dan dituduh tamyi’ oleh orang-orang yang ghuluw. Mereka meyakini bahwa bid’ah dan pelakunya itu bertingkat sehingga pensikapan terhadapnya juga bertingkat. Mereka tidak memberikan baro’ total terhadap ahlul bid’ah, namun mereka juga berwala’ pada mereka sebatas kebenaran yang dimiliki.
Mereka senantiasa bertatsabut (cek dan ricek) di dalam segala berita dan tidak mudah menyandarkan berita kepada qiila wa qoola. Mereka tidak mudah menggeneralisir begitu saja vonis kepada orang-orang yang berta’awun dengan yayasan yang tertuduh hizbiyah. Mereka senantiasa bersikap hati-hati dalam menerapkan hajr apabila mashlahatnya lebih besar dari mudharatnya, dan mereka mau berikhtilath (bercampur dengan kaum muslimin) apabila dipandang mashlahatnya lebih besar.
Ciri lainnya yang menyatakan bahwa mereka bukan penganut manhaj salafus shalih sejati adalah mereka sangat bangga dengan sebutan ana salafi dan mengembel-embeli nama mereka dengan as salafi atau al atsari. Dan alhamdulillah, fatwa yang selama ini tertutup atau mungkin ditutupi oleh ustadz atau asatidzah atau dai salafi gadungan telah dapat kita saksikan.
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Syaikh al-Utsaimin berikut ini:
Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf! Untuk lebih jelasnya bisa lihat di sini.
Atau apa yang dikatakan oleh Syaikh Fauzan berikut ini:
“Yang wajib adalah seseorang mengikuti kebenaran. Yang wajib adalah seseorang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya. Adapun dia menamai dirinya dengan As-Salafi atau Al-Atsari dan yang semisal, maka tidak ada alasan untuk dapat mengklaim dengan nama ini.
Menamakan diri dengan As-Salafi, Al-Atsari, dan yang semisal adalah tidak ada asal-usulnya. Kita melihat pada substansi nyata; bukan perkataan, penamaan diri, maupun pengakuan.
Terkadang, seseorang mengatakan kepada orang lain, ‘Ia salafi’, padahal orang tersebut bukan salafi (pengikut manhaj salaf). Atau juga mengatakan, ‘Ia atsari’, padahal orang yang ditunjuk bukan atsari (pengikut atsar salaf). Sebaliknya, seseorang adalah salafi (pengikut manhaj salaf) dan atsari (pengikut atsar salaf), namun tidak mengatakan, “Aku ini atsari, Aku ini salafi.’ Hendaknya kita melihat pada substansi nyata; bukan pada penamaan maupun klaim pengakuan.
Maka, tidak perlu engkau mengatakan, ‘Aku salafi! Aku atsari! Aku begini dan begini!’ Hendaklah engkau mencari kebenaran dan mengamalkannya. Perbaiki niatmu! Allah-lah Yang Maha Mengetahui substansi nyatanya.” Untuk lebih jelasnya silakan lihat di sini atau di sini.
Jangan aneh, kalau kini sebagian dari mereka yang telah menyadari kekeliruannya setelah mengetahui fatwa di atas terpaksa menghilangkan embel-embel as salafi atau al atsarinya. Karena menurut aku percuma mentakdziyah atau mensucikan diri dan menambahkan jahiriyah mereka dengan sebutan as salafi atau al atsari kalau lahiriyah mereka sangat jauh dari perilaku salafus shalih yang sesungguhnya.
Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengatakan bahwa akhlak adalah inti sari dari ajaran Islam.
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)
Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)
Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)
Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan pada hari kiamat dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud)
Dan juga jangan bingung kalau akhir-akhir ini akan kalian dapati kajian-kajian bertema adem, damai dan menyejukkan di majlis-majlis mereka, semoga ini bisa berlangsung selamanya dan masing-masing menyibukan diri membangun umat dengan caranya masing-masing.
Dan juga jangan pusing kalau masih juga ada beberapa orang yang tidak rela kebiasaan ekstrim mereka dikekang atau dikebiri dan sirna menyebut sebagiannya yang telah berubah lembut dengan sebutan sururiyah, turatsiyun, quthubiyyun, ikhwaniyyun, tablighiyyun atau sebutan-sebutan lainnya. Karena sesungguhnya di luar sana banyak orang yang sungguh bermanhaj salafus shalih bahkan jauh lebih salafi dari para pengaku salafi ini meski mereka tidak mengembel-embeli nama dan kelompok mereka dengan salafi atau salafiyyun.
Terakhir, semoga mereka yang keliru segera tersadar dengan kekeliruannya, yang bingung linglung segera tersadar dari kebingungannya. Karena sesungguhnya mereka telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang khawatir dengan kebangkitan Islam di negeri ini yang mulai menampakkan hasilnya baik mereka sadar maupun tidak. Karena sesungguhnya mereka mungkin telah menjadi bagian dari para perusak bangunan Islam yang mulai berdiri dari dalam bangunan islam itu sendiri.
”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yan glebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl: 92)
Kapankah sebuah bangunan tiba pada hari kesempurnaan
Jika Anda membangunnya, lalu orang lain datang menghancurkan
Andai ada seribu pembangun yang direcoki satu penghancur,
Apa yang terjadi jika satu pembangun direcoki seribu penghancur?
Wallahu a’lam bishawab.
Inspirasi :
[1] Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Abduh Zulfidar Akaha
[2] Beda Salaf dengan Salafy
[3] Peringatan Dari Fitnah Ekstrim di dalam Mengisolir dan Memvonis Bid’ah, Abu Salma Al Atsari
[4] Manhaj Tatsabut (Cek dan Ricek), www.al-ikhwan.net
1 Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.
DIarsipkan di bawah: Arab Saudi, Belajar Dari Akhlak Ustadz Salafy Abduh Zulfidar Akaha, Fatwa2 Ulama!, Khawarij, Kontroversi !!!, Manhaj!, Salaf!, al-banna amal Anis Anis Matta Dari Qiyadah untuk Para K | yang berkaitan: abu salma al atsari, Al Irsyad, al pramuki, amrozi, anarkisme teroris, Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’, BAUS, beda salaf dengan salafy, bungloniyyun, cek dan ricek, Dzikir Arifin Ilham, hajr, Hasan Al Banna, HTI, ikhwaniyun, imam samudra, Jama’ah Tabligh, Kompas, Konferensi Khilafah Islamiyah, liberalis, Liqo’ul Babil Maftuuh, Majelis Mujahidin, Masjid Istiqlal, Muhammadiyyah, NU, PKS, pluralis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, quthubiyun, Raport Merah Aa’ Gym, Republika, Salaf!, Salafi, salafiyah, salafiyyun, salafus shalih, Salafy, Sayyid Quthb, sekuler, sepilis, sesat, Stadion Utama Senayan Jakarta, sururi, sururiyah, syaikh fauzan, Syaikh Prof Dr Yusuf Al Qaradhawi, syaikh utsaimin, tabdi, tablighiyun, tatsabut, the Power of Giving, turatsi, turatsiyun, Ustadz Yusuf Mansur, vonis, Wakil Presiden Jusuf Kalla





Sungguh antum begitu mantapnya mengatakan mereka bukan pengikut salafushalih sesungguhnya, namun akhi… Ana yakin memang mereka sangat berharap adalah salafi sejati, namun sebetulnya yang terjadi adalah mereka salafi disatu sisi, tetapi mereka menyelisihi salaf disisi yang lain. Dan tak ada yang maksum selain rasulullah SAW, betul bukan…?
Tulisannya bagus sekali.
Keep posting.
kalau boleh tanya, ada hubungan apa Ibn Abd Muis dengan Joko Waskito ?
ulasannya bagus mas, emang begitulah faham salafy/wahabi yang sepertinya cuma mereka saja yang merasa benar dan kayaknya surga dan neraka kepunyaan moyang mereka, padahal hanya Allah lah yang memiliki segala kebenaran. Pantesan faham mereka kurang laku .
cape deeeeeeeeeeeeh…
بسم الله
كَيْفَ حَالُكَ
Coba dicek lagi, yang benar judulnya “Akhirnya Ku Yakini Mereka Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya” atau “Akhirnya Ku Yakini Dia Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya”
Kemudian, coba anta tulis juga sebuah artikel yang berjudul, “Akhirnya Ku Yakini Mereka Bukan Pengikut IM Yang Sesungguhnya.” karena yang ana pahami pengagum Hasan Al Bann dan tokoh2 IM mereka ndak sepenuhnya IM, mereka juga mengambil ilmu dari ulama Salafy. Namun sayangnya mereka hanya mengambil ilmu yang disenangi dan membuang selainnya, padahal ulama2 yang mereka ikuti semuanya menyeru untuk menjadi pengikut Salafus Shalih, bukan setengah Salafy setengah IM.
Ada sebagian blog ikhwan yang merilis artikel “Bahwa penamaan As Salafy atau Al Atsary tidak ada asal-usulnya” lalu apa pendapat anta jika ikhwan tersebut memakai nama Salafy Haroki atau Ihwan Salafy atau Salafy Ikhwani atau Salafy Jihadi ??
Terkadang kita ndak jujur terhadap diri sendiri. Bagaikan orang padang yang merasa paling tahu tentang Jawa daripada orang jawa. Org Padang itu mengajari bagaimana seharusnya orang jawa bertingkah untuk mereka menjadi Jawa sejati. Namun di satu sisi orang padang itu tidak mau menjadi Jawa Sejati dan tetap bangga dengan ke-Padang-annya.
والله أعـلــم
نسأل الله الإخلاص و الصدق
بَارَكَ اللهُ فِيْكَ
ana kagum dengan analisis antum HEBAT
tapi antum hanya menilai mereka dari ORANGNYA bukan dari MANHAJNYA. Tapi antum akui sendiri bahwa manhaj yang benar adalah MANHAJ SALAF bukan HAROKI, RAfidhi,..de el el
“Ustadz” yang pecah bukan Manhajnya tapi orangnya jd sah sah saja antum mengambil kesimpulan seperti itu. Meskipun antum memproklamirkan diri antum bahwa antum adalah SALAFY sampai ke langit ke 7 tapi antum masih berbai’at kepada HASAN AL BANNA cs bukan taashub ke MANZILAH/THORRIQOH SALAF rodhiAllahu’anhu ato SAHABAT..antum termasuk ahlul bida’
“Ustadz” antum mengutip sepotong sepotong perkataan ulama SALAF dan menjadikannya sebagai Hujjah untuk membenarkan antum…sebagaimana ahlul bid’ah lakukan..MEMPERKOSA AYAT, HADITS, BERKATA DUSTA MELALUI ULAMA..untuk membenarkan hawa nafsu mereka
“Ustadz” antum g adil, bukan hanya orang-orang yang mengaku SALAF yang pecah…Ikhmanul MUslimin juga pecah 2, Syi’ah pecah berbagai sekte, sufi berbagai thariqot, bahkan PKS-pun pecah ada PKS Salaf, PKS Moderat de el el, Muhamadiyah dan NU juga sama, masih banyak lagi..NU ternyata juga mempunyai ponpes SALAFIYAH…
Gini aja “ustadz” klo memang antum memegang teguh dengan manhaj SALAF antum tentu tau mana yang haq, bathil dan bid’ah..mulai dulu dari antum, keluarga, tetangga, teman de el el ajak mereka berakhlak salaf bukan mengajak mereka memenagi PEMILU 2009
Iya akhi, anta setengah Salafy setengah Ikhwani. mengambil Salafy hanya pada hal akidah, ibadah, dan tauhidnya saja. Sedangkan metode dakwah anta adalah IM.
Anta adalah Surury. Setengah Salafy setengah Ikhwani. Dan ini banyak digandrungi oleh para hizbiy. Wallahu musta’an.
Anta masih taqlid kepada Hasan Al Banna padahal anta tahu kesesatannya dalam hal Shufi
Anta masih taqlid kepada Sayyid Qutb padahal dia suka mengkafirkan
Inilah bahaya taqlid, tidaklah seseorang akan selalu berada di atas kesesatan setelah ia taqlid. Namun jika ia tidak taqlid insya Alah akan mudah baginya untuk mengeluarkan diri darinya.
Bismillah, anta katakan di alinea terahir, “Setahu ana mereka jauh lebih taklid, karena hanya mau mengambil ilmu dari ulama/asatidz-asatidz yang sesuai dengan hawa nafsunya saja dan menafikan ulama/asatidz yang telah tertuduh tidak memiliki karakter ekstrim seperti hawa nafsunya. Ini realita. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Afwan. Barakallahu fiikum.”
Anta tahu apa definisi taklid ? Taklid adalah ngikut dan ngebebeterus meskipun dia salah. itulah taklid. Seharusnya ketika dia salah kita tinggalkan dan kalo da bener ya diikuti. Itulah Salafiyyin. Ketika Al Utadz Ja’far Umar Thalib salah maka kita keluar dari majelisnya krn beliau salah. Saya dulu ngaji sama Yazid Jawwas, Abdul Hakim Abdat dan lain-lain, kini setelah tahu perihal Surury maka saya tinggalkan. Dan kalo seorang Ustadz adalah benar maka ikutilah dia selamanya. Inilah Kalau mau cari dan terus mencari syaratnya satu, jangan taklid maka kita bebas untuk terus mencari kebenaran dan bebas dan belenggu hizbiyah. Anta blm paham definisi taklid.
Saudaraku, saya bukannya mendebat anta, bukan ? seluruh komentar saya dari dulu sampai sekarang bukan untuk menyanggah namun untuk mengingatkan apa-apa yang anta tulis selalu tertuju balik ke anta sendiri. Saudaraku, jika seperti ini maka anta sama seperti orang-orang yang suka menuding orang lain dan lupa pada dirinya sendiri. Lihatlah artikel ini begitu muantabs nya anta menilai bahwa mereka bukan pengikut Salafus Shalih yang sebenarnya. Padahal mereka begitu semangat untuk mengikuti Salafus Shalih dan mengajak saudaranya kaum Muslimin untuk mengikuti Salafus Shalih bahkan mereka berani mengatakan ana Salafy, tidak sepeti orang lain yang masih ragu mengatakan ana Salafy. Karena apa ? tidak lain krn begitu getolnya mrk mengikuti jejak salaf dengan segala halangan rintangan, jatuh bangun terseok-seok untuk menapaki langkah ini, mereka berjuang untuk mengikuti jejak salaf. Ada di antara mereka yang tadinya merasa yakin bahwa mereka adalah Salafy namun ternyata perjuangan mereka belumlah terhenti, apa pasal? karena ternyata mereka salah sangka yang tadinya mereka sudah yakin berada di Salafy ternyata mereka berada di Surury, wallahul musta’an.. ahirnya mereka berjuang lagi untuk menjadi Salafy sejati, merangkak lagi, belajar lagi, dan terus semangat.
Namun apa balasan antum yang menilai bahwa mereka bukan pengikut salafus shalih yang sebenarnya.
Lalu bagaimana dengan org yang sama sekali tidak mau mengikuti jejak salaf ? orang yang mencela salaf ? orang yang setengah salaf setengah ikhwan ?
Apakah anta mau membuat tulisan “Akhirnya Ku Yakini Aku Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya? ya iya krn anta masih setengah-setengah, manhajnya gak jelas, dari mana manhaj setengah-setenag seperti ini ? wong yang jelas-jelas 100 persen aja masih dikatakan bukan pengikut Salafus Shalih.
Lantas apa mizan (timbangan / dasar) untuk menjadi pengikut Salafus Shalih yang sebenarnya ? apakah setengah ihwan setengah salafy adalah pengikut Salafus Shalih yang sebenarnya ?
Yaa akhi, cobalah anta refleksi dan muhasabah
Afwan, saya minta maaf jika ada kata-kata saya yang salah. Pada prinsipnya seluruh tulisanmu dan terkhusus tulisan ini tidak salah. Fenomena memang demikian ada di antara mereka yang bukn pengikut Salafus Shalih yang sesungguhnya. Dan para asatidzah pun suka menyerukan kepada para ikhwan untuk mereka tidak bersikap itu. Daurah-daurah pun digelar seperti
- Dakwah Salafiyah Dakwah yang Hikmah
- Dakwah Salafiyah Dakwah yang Indah
- Kaidah Dalam Tahdzir, Tabdi’, Takfir, dan Hajr
- Etika Seorang Da’i, dan lain-lain
Pun anta sudah tahu ttg sebuah blog yang ditegur oleh Ustadz Abdul Mu’thi dan Ustadz Luqman Ba’abduh yang ahirnya mereka balas dendam ke saya.
Anta bisa menilai bahwa asatidzah Salafiyyin berlepas diri dari oknum yang seperti itu.
Saya menulis komentar ini kepadamu bukan untuk menyanggah tulisanmu itu, bukan.
Tapi gini, lho, tlg dipahami bahwa anta suka menilai Salafy, memvonis Salafy, mencerca Salafy melalui copy paste atau menambahkan kata2 anta di di artikel hizbiyah yang mencela Salafy untuk mengajari Salafy bersikap lembut, santun, dan mengikuti Salafus Shalih yang sesungguhnya.
Namun anta sendiri tetap di hizbiy, padahal anta tahu begitu indahnya mengikuti Salafu Shalih. Ini kan sama saja anta tahu indahnya Qiyamul Lail dan menyeru orang-orang untuk Qiyamul lail namun anta sendiri masih bobo. Adapun dalil dan ayat ttg perkara ini ana yakin anta dah paham, ndak usah ana sebutkan krn nanti scroll halaman ini akan panjang.
Ana memilih berada di pertengahan. Ihwan Salafy seperti nama yang bagus padahal anta meyakini penamaan As Salafy ndak ada asal-usulnya, namun anta menafikan penggunaan Ihwan Salafy yang lebih ndak ada asal-usulnya.
Jadi dari ujung-ujung saya ingin mengatakan namun ndak tahu bahasa apa yang pas untuk anta jangan menyeru orang ke sebuah hal namun anta sendiri tidak menuju hal itu, gitu lho akhi. Kalopun anta mau menujunya ya lakukanlah dengan hal yang baik, bukan setengah-setengah, gitu lho ahi. yang serius aja anta katakan bukan pengikut apalagi setengah-setengah.
Saya sering katakan kalo ndak suka dicela yang jangan balik mencela karena ahirnya kan sama aja, sama-sama pencela. Maka lebih baik nasihat itu kan ditujukan untuk diri sendiri, wong sama-sama tukang fitnah, tukang hajr, tukang cela, iya apa ya ?
kasihan anta akhi, kenapa ya anta ingin menuju kebenaran namun Allah ta’ala menunjukkannya kepada cermin dan image yang buruk, sikap kaku dan ekstrim, kenapa anta ndak ditunjuki image yang mulia dan akhlak yang baik seperti Allah menunjuki saya. Anta harus lebih banyak berjuang dan ikhlas dalam mengambil kebenaran krn ini ujian bagi anta dalam hidup ini.
Jadi poinnya ya itu. terserah lah kalo kamu mau jadi Ihwan Salafy namun ya itu jangan mencela dan mengajari sesuatu yang kamu tidak mengamalkannya. Saya sayang sama kamu dan ndak mau kamu dicap Allah sebagai munafik atau seseorang yang menyeru namun tidak mengamalkannya. Kalo kamu tetap mau jadi Ihwan Salafy yang diposting aja artikel2 ttg IM, baiknya IM, dakwah IM yang bijaksana, bukan mengajari untuk menjadi Salafy sejati. Walaupun tetep saya berharap untuk kamu menjadi Salafy sejati, entah suatu saat nanti dan entah kapan.
Maafkan saya.
waduuh….ustadz antum g nyambung, ana g ngomong antum berba’iat sama HASAN AL BANNA…ana maksudkan antum secara g sadar telah memtahbiskan diri ke dalam MANHAJ IKHWANI tul kan?..ana juga pernah begitu koq,sama sperti antum!!!…DULU..!!!,
ana juga g nuduh antum ahli bid’ah ana cuma ngasi pegertian bahwa antum melakukan demikian antum telah melakukan bid’ah..KULLU BID’ATIN DHOLALAH…
kemudian ana menuduh antum kafir ato sesat,kapan?
sekali lagi..ana mo ngutip pernyataan antum…HANYA MEMBUKA ANTUM WAWASAN..mengenai manhaj yang sharih yaitu MANHAJ SALAF.
Akhi..saudaraku seiman..ana cuma ngingatin aja..semuanya terserah sama antum..antum yang jalani. Yang jelas ana mengutip perkataan IMAM BUKHARI rahimahullah ….AL ILMU QOBLA QOULI WAL ‘AMALI…
Ana juga g peduli antum masuk IM, PKS, sumur…eh sori..maksudnya kelompok yang lain…ana hanya megkoreksi..ANTUM G ADIL USTADZ…antum samakan orang dengan MANHAJ,jelas beda..
Tapi antum sudah tau bahwa Manhaj yang hakiki/benar adalah SALAF…dan neeh ane kasie tau pernyataan AS SYAIKH AL ALBANI dan AS ASYAIKH AL UTSAIMIN mengenai ta’ashub dengan MANHAJ SALAF adalah HAL YANG DI BENARKAN bahkan BISA WAJIB karena ta’ashub dengan Thoriqoh/manzilah-nya SAHABIYIN WAR ROSULIHI ex: cerita BILAL BIN RAB’BAH tetap pada diennya ketika perutnya di himpit dengan batu besar..”..Ahad…Ahad…Ahad..”..katanya..kira2 antum mo di impit batu g?..
Kalo Ta’ashub dengan FIGUR seseorang nach itu yang tidak di benarkan bahkan bisa2 taklid bahkan kuffur..seperti artikel yang antum ketengahkan dari AS SYAIKH AL ALBANI..ana setuju BuANGETSSSS!! contoh dalam buku beliau dengan judul SIFAT2 SHOLAT NABI..bagaimana IMAM SYAFII rahimahullah mengatakan…(kalo ana g salah)…”kalo ada hadits yang lebih shahih dari yang aku ketengahkan maka aku beriman dengannya”..begitu pula dengan gurunya yaitu IMAM MALIK, muridnya IMAM AHMAD BIN HAMBAL-pun demikian…jadi NO TA’ASHUD DENGAN FIGUR SESEORANG