Akhirnya Ku Yakini Mereka Bukan Pengikut Salafus Shalih Yang Sesungguhnya.

Entahlah, apakah aku harus bersyukur atau justru bersedih atas keyakinanku ini. Sebuah penelusuran yang panjang yang akhirnya memberikan sebuah kesimpulan yang bisa dibilang hampir final yang membuatku tenang dalam menjalani badai ujian dakwah.

Judul di atas sekali lagi kukatakan bukanlah sebuah upaya untuk menjauhkan umat dari dakwah salafus shalih yang sesungguhnya, tapi lebih sebagai penegasan agar kalian bisa berhati-hati terhadap orang-orang yang hanya mengaku-aku saja sementara mereka berwala dan baro’ secara fanatic terhadap beberapa orang ustadz atau syaikh yang sesuai dengan hawa nafsu mereka meski harus bertentangan dengan karakter dari salafus shalih sejati. Dan menurutku merekalah perusak dakwah salafus shalih yang mubarakah sesungguhnya.

Baiklah, yang pertama harus kalian perhatikan adalah terhadap orang-orang yang sering menerapkan hajr dan tabdi’ secara sporadis kepada siapa saja yang berlainan pendapat dengan mereka, baik masalah pokok maupun masalah cabang ijtihadiyah. Kelompok ini mudah sekali menvonis sesat, sikapnya kasar, kaku, bengis, suka mencela dan penyebab manusia lari dari kebenaran. Mereka fanatik terhadap individu tertentu dan menjadikan dasar wala’ dan baro’nya terhadap individu tertentu. Mereka mudah sekali bertikai , saling menuduh, mencaci dan lain sebagainya. Tak hanya terhadap kelompok pergerakan dan dakwah Islam lainnya, seperti Muhammadiyyah, NU, Al Irsyad, Jama’ah Tabligh, Majelis Mujahidin, PKS, HTI saja, bahkan terhadap sesama pengaku manhaj salaf pun mereka saling hujat. Maka jangan aneh jika kalian dapati mereka selalu menggunakan sebutan salaf i (imitasi), sururi, turatsi, al pramuki (dikaitkan dengan lagu anak-anak pramuka ”di sini senang di sana senang..”) karena ingin bergaul baik dan bermuka manis dengan sesama pegiat dakwah Islam lainnya, bungloniyyun karena mau bergaul dan menyesuaikan dengan lingkungan dakwah lainnya, dan masih banyak lagi julukan-julukan lainnya.

Satu hal yang unik adalah mereka tak segan-segan mengeluarkan kocek mereka yang tidak sedikit jumlahnya untuk dapat memuaskan nafsunya. Seperti memasang iklan di surat kabar seperti saat Syaikh Prof Dr Yusuf Al Qaradhawi bertandang ke Indonesia atas undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan berceramah di berbagai tempat, termasuk di Masjid Istiqlal, di hari Jumat pagi di tahun 2007, tiba-tiba esoknya muncul sebuah iklan buku di harian Kompas dan Republika yang isinya hanyalah subhat yang dilancarkan agar umat menjauh dari mendapatkan hidayah melalui kefaqihan sang Syaikh, padahal buku ini sudah terbit sejak 2003 atau sekitar empat tahun sebelum iklan itu muncul? Sungguh aneh dan di luar nalar??? Atau memasang iklan Majalah di Republika dengan topik Kesesatan Ide Khilafah Islamiyah saat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengadakan Konferensi Khilafah Islamiyah di Stadion Utama Senayan Jakarta pada tahun 2007 juga.

Seharusnya, jikalau mereka tidak suka dan tidak setuju dengan hajatan pihak lain, apa tidak ada cara yang lebih berakhlak dan berbudaya daripada mengobarkan permusuhan semacam ini. Toh selama ini pihak-pihak lain yang dibenci oleh mereka biasa-biasa saja bersikap kalau kelompok ini mengundang syaikh-syaikhnya dari Timur Tengah.

Sekarang kita lihat lagi keanehan mereka, beberapa waktu yang lalu, kelompok ini menghasut Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk melarang peredaran buku-buku yang ditulis oleh Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb. Alasannya adalah karena buku-buku keduanya dituduh menyuburkan terorisme. Dan kenyataannya justru yang menjadi terorisme adalah orang-orang yang berpakaian sangat dzuhud dan alim semacam style Imam Samudra dan Amrozi ce-es yang kalau diperhatikan justru lebih dekat dengan ciri lahiriyah kelompok ini seperti jenggotan dan celana cingkrang.

Coba perhatikan orang-orang yang terpengaruh pemikiran dari buku-buku Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb, mereka justru sangat membenci anarkisme teroris dan jauh lebih santun dalam bersikap apalagi terhadap sesama muslim.

Dan yang sangat aku sesalkan adalah apa yang terjadi atau dialami oleh kelompok Jama’ah ’Gito Rolies’ Tabligh yang kena imbas pandangan negatif dari orang-orang di sekitarnya dikarenakan tampilan lahiriyah mereka sama percis dengan kelompok ini atau bahkan Imam Samudra dan Amrozi Ce-Es.

Kalau mereka berittiba kepada salafus shalih sejati dan merasa sebagai dai yang peduli terhadap nasib umat Islam di Indonesia, seharusnya mereka meminta pemerintah (apalagi sudah merasa dekat pejabat negara) agar buku-buku yang merusak akidah umat Islam yang dikembangkan kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis dan Liberalis) agar ditarik dari peredaran karena isinya merusak akidah umat Islam, dimana aqidah tauhid akan diganti dengan aqidah pluralis (semua agama benar dan berhak masuk surga semua). Kok justru yang banyak dibahas dalam buku-buku, milis-milis, majalah, kaset-kaset maupun pengajian-pengajian mereka adalah Kesesatan Ikhwanul Muslimin, Kesesatan Jama’ah Tabligh, Kesesatan Dzikir Arifin Ilham, Raport Merah Aa’ Gym, dan kesesatan-kesesatan saudara muslimnya yang tidak masuk dalam kelompok mereka padahal belum nyata kesesatannya. Mungkin tak lama lagi kita akan mendengar Kesesatan ”The Power of Giving”nya Ustadz Yusuf Mansur? Wallahu musta’an. Kenapa justru yang telah jelas kesesatannya seperti kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis dan Liberalis) malah jarang dibahas? Ini ironis banget dan sungguh sangat aneh bin ajaib???

Oke sekarang kita lihat pandangan ulama timur tengah Faqihuz Zaman Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang memberikan penjelasan siapakah salafiyun ahlus sunnah itu :

السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية.

Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!!”

Beliau rahimahullahu melanjutkan :

لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan.”

Syaikh melanjutkan lagi :

فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.

Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر))

Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.

Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”.1

Jadi jelaslah, bahwa orang-orang yang sungguh bermanhaj salafus shalih sejati yaitu bukan orang-orang yang meniti manhaj orang-orang yang menamakan dirinya sebagai salafi jaman ini yang mana mereka selalu berusaha tampil beda karena ingin dilihat beda dan memvonis sesat selain mereka. Mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun.

Ciri lainnya yang bisa kita lihat dari penganut manhaj salafus shalih sejati adalah mereka sangat berhati-hati di dalam mengimplementasikan hajr dan tabdi’ menurut kaidah dan kriteria yang telah dijelaskan oleh para ulama. Mereka ini adalah Ahlus Sunnah sejati. Mereka bisa menempatkan wala’ dan baro’ mereka pada tempatnya.

Mereka dituduh ghuluw oleh orang-orang yang tamyi’ (manhaj yang lunak terhadap ahlul bid’ah) dan dituduh tamyi’ oleh orang-orang yang ghuluw. Mereka meyakini bahwa bid’ah dan pelakunya itu bertingkat sehingga pensikapan terhadapnya juga bertingkat. Mereka tidak memberikan baro’ total terhadap ahlul bid’ah, namun mereka juga berwala’ pada mereka sebatas kebenaran yang dimiliki.

Mereka senantiasa bertatsabut (cek dan ricek) di dalam segala berita dan tidak mudah menyandarkan berita kepada qiila wa qoola. Mereka tidak mudah menggeneralisir begitu saja vonis kepada orang-orang yang berta’awun dengan yayasan yang tertuduh hizbiyah. Mereka senantiasa bersikap hati-hati dalam menerapkan hajr apabila mashlahatnya lebih besar dari mudharatnya, dan mereka mau berikhtilath (bercampur dengan kaum muslimin) apabila dipandang mashlahatnya lebih besar.

Ciri lainnya yang menyatakan bahwa mereka bukan penganut manhaj salafus shalih sejati adalah mereka sangat bangga dengan sebutan ana salafi dan mengembel-embeli nama mereka dengan as salafi atau al atsari. Dan alhamdulillah, fatwa yang selama ini tertutup atau mungkin ditutupi oleh ustadz atau asatidzah atau dai salafi gadungan telah dapat kita saksikan.

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Syaikh al-Utsaimin berikut ini:

Tidak diragukan, wajib atas semua kaum Muslimin untuk mengambil paham salaf; bukan berafiliasi pada golongan tertentu yang disebut “As-Salafiyyun”. Yang wajib adalah hendaknya umat Islam mengambil paham salafus shalih; bukan membentuk golongan yang dinamakan “As-Salafiyyun”. Berhati-hatilah terhadap perpecahan! Ada jalan salaf; ada pula golongan yang disebut “As-Salafiyyun”. Apa yang wajib? Mengikuti salaf! Untuk lebih jelasnya bisa lihat di sini.

Atau apa yang dikatakan oleh Syaikh Fauzan berikut ini:

Yang wajib adalah seseorang mengikuti kebenaran. Yang wajib adalah seseorang mengkaji dan mencari kebenaran serta mengamalkannya. Adapun dia menamai dirinya dengan As-Salafi atau Al-Atsari dan yang semisal, maka tidak ada alasan untuk dapat mengklaim dengan nama ini.

Menamakan diri dengan As-Salafi, Al-Atsari, dan yang semisal adalah tidak ada asal-usulnya. Kita melihat pada substansi nyata; bukan perkataan, penamaan diri, maupun pengakuan.

 

Terkadang, seseorang mengatakan kepada orang lain, ‘Ia salafi’, padahal orang tersebut bukan salafi (pengikut manhaj salaf). Atau juga mengatakan, ‘Ia atsari’, padahal orang yang ditunjuk bukan atsari (pengikut atsar salaf). Sebaliknya, seseorang adalah salafi (pengikut manhaj salaf) dan atsari (pengikut atsar salaf), namun tidak mengatakan, “Aku ini atsari, Aku ini salafi.’ Hendaknya kita melihat pada substansi nyata; bukan pada penamaan maupun klaim pengakuan.

Maka, tidak perlu engkau mengatakan, ‘Aku salafi! Aku atsari! Aku begini dan begini!’ Hendaklah engkau mencari kebenaran dan mengamalkannya. Perbaiki niatmu! Allah-lah Yang Maha Mengetahui substansi nyatanya.” Untuk lebih jelasnya silakan lihat di sini atau di sini.

Jangan aneh, kalau kini sebagian dari mereka yang telah menyadari kekeliruannya setelah mengetahui fatwa di atas terpaksa menghilangkan embel-embel as salafi atau al atsarinya. Karena menurut aku percuma mentakdziyah atau mensucikan diri dan menambahkan jahiriyah mereka dengan sebutan as salafi atau al atsari kalau lahiriyah mereka sangat jauh dari perilaku salafus shalih yang sesungguhnya.

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi mengatakan bahwa akhlak adalah inti sari dari ajaran Islam.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)

Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan pada hari kiamat dari akhlak yang baik. (HR. Abu Dawud)

Dan juga jangan bingung kalau akhir-akhir ini akan kalian dapati kajian-kajian bertema adem, damai dan menyejukkan di majlis-majlis mereka, semoga ini bisa berlangsung selamanya dan masing-masing menyibukan diri membangun umat dengan caranya masing-masing.

Dan juga jangan pusing kalau masih juga ada beberapa orang yang tidak rela kebiasaan ekstrim mereka dikekang atau dikebiri dan sirna menyebut sebagiannya yang telah berubah lembut dengan sebutan sururiyah, turatsiyun, quthubiyyun, ikhwaniyyun, tablighiyyun atau sebutan-sebutan lainnya. Karena sesungguhnya di luar sana banyak orang yang sungguh bermanhaj salafus shalih bahkan jauh lebih salafi dari para pengaku salafi ini meski mereka tidak mengembel-embeli nama dan kelompok mereka dengan salafi atau salafiyyun.

Terakhir, semoga mereka yang keliru segera tersadar dengan kekeliruannya, yang bingung linglung segera tersadar dari kebingungannya. Karena sesungguhnya mereka telah dimanfaatkan oleh orang-orang yang khawatir dengan kebangkitan Islam di negeri ini yang mulai menampakkan hasilnya baik mereka sadar maupun tidak. Karena sesungguhnya mereka mungkin telah menjadi bagian dari para perusak bangunan Islam yang mulai berdiri dari dalam bangunan islam itu sendiri.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yan glebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl: 92)

Kapankah sebuah bangunan tiba pada hari kesempurnaan

Jika Anda membangunnya, lalu orang lain datang menghancurkan

Andai ada seribu pembangun yang direcoki satu penghancur,

Apa yang terjadi jika satu pembangun direcoki seribu penghancur?

Wallahu a’lam bishawab.

Inspirasi :

[1] Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Abduh Zulfidar Akaha

[2] Beda Salaf dengan Salafy

[3] Peringatan Dari Fitnah Ekstrim di dalam Mengisolir dan Memvonis Bid’ah, Abu Salma Al Atsari

[4] Manhaj Tatsabut (Cek dan Ricek), http://www.al-ikhwan.net

1 Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003, tanpa penerbit.

About these ads