CATATAN 9
Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman
Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha
d. Penulisan Ahlu Sunnah dan Kurang Kata “Yang”
Al Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba’abduh berkata,
“Apa yang kau maksud dengan pernyataan ini? Jika yang kau maksud bahwa ahlus sunnah[1] tidak mendapat halangan dan rintangan dalam perjuangannya sebagaimana yang dialami oleh para teroris-Khawarij, yang dalam sejarah mereka:
q Diperangi dan ditumpas habis oleh Khalifah ‘Ali[2] bin Abi Thalib di Nahrawan.
q Diperangi dan ditumpas oleh para khalifah Bani Umayyah.
q Demikian juga diperangi dan ditumpas oleh pemerintah-pemerintah muslimin.
q Ikhwanul Muslimin diperangi dan dihancurkan di Mesir, Syria, Libia, Al Jazair. Tokoh-tokohnya dipenjara, disiksa, bahkan dieksekusi mati.
q Kemenangan mutlak FIS dalam Pemilu di Al Jazair yang harus berakhir dengan pertumpahan darah.
q Demikian juga nasib yang sama juga dialami oleh Jama’atut Takfir wal Hijrah, Jama’atul Jihad, Al Jama’ah Al Islamiyyah, HT, NII, dan kelompok-kelompok takfiriyyun lainnya di negeri-negeri di mana mereka berada.
q Gerombolan Juhaiman yang diringkus oleh Pemerintah Saudi ‘Arabia dengan dukungan para ‘ulama.
q Salman Al ‘Audah, Safar Al Hawali, dan tokoh-tokoh reaksioner lainnya yang dijebloskan ke penjara oleh Pemerintah Saudi Arabia atas rekomendasi dari Hai-ah Kibaril ‘Ulama. … dst.”[3]
Kali ini, saudara Abduh ZA melakukan beberapa bentuk pengubahan, baik penambahan maupun penghapusan, antara lain:
q menambah kata: “para” pada kalimat “oleh Khalifah ‘Ali”.
q mengubah kata: “ahlussunnah” menjadi “Ahlu Sunnah”.
q menghilangkan kata “mutlak” pada kalimat “kemenangan mutlak FIS”; kata “yang” pada kalimat “Demikian juga nasib yang sama”.[4]
q menghapus garis bawah pada huruf “a” pada kata: “Khawarij”, “Thalib”, “Nahrawan” danlain-lain; kemudian menghapus garis bawah pada huruf “i” dari kata “Ali”, “Abi”, “Takfir”, “takfiriyyun”. [Lihat MDMTK, hlm 442-443:adm]
Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Al Ustadz Luqman Ba’abduh atas koreksinya dalam hal ini. Terus terang kami kagum dan salut atas kegigihan beliau dalam mencari-cari kesalahan kami dalam buku STSK, sehingga hal sepele semacam ini pun beliau bahas dalam MDMTK.
e. Kurang Tanda Tanya (?) dan Titik Dua ( : )
Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,
“Teks asli pada MAT halaman 160-161:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah
dari Rasulullah
bahwa beliau berkata:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ : الَرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ .
“Akan tiba nanti kepada umat manusia masa-masa yang penuh tipu daya. Para pendusta dianggap orang jujur sebaliknya orang jujur dicap pendusta. Orang yang khianat dianggap amanah dan orang yang amanah dicap pengkhianat. Dan para Ruwaibidhah mulai angkat bicara!” Ada yang bertanya: ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, “Orang dungu yang sok berbicara tentang urusan orang banyak (umat).”
Kali ini pun saudara Abduh ZA mengulangi hal yang sama:
- Menghilangkan kata يَتَكَلَّمُ dari teks hadits, demikian juga tanda (؟ ) dan ( : ), serta harakat fathah di atas huruf Al-Alif pada kata الَرَّجُلُ.
- Menambah kata (الحديث) pada akhir teks arab hadits, dan juga kata “(Al-Hadits)” pada akhir terjemah hadits, padahal sama sekali tidak ada pada teks aslinya pada buku MAT.[5]
- Mengubah خَدَّاعَاتٌ (dengan harakat dhammatain pada huruf terakhir, yaitu At-Ta’) menjadi خَدَّاعَاتُ (huruf at-Ta’ berharakat dhammah bukan dhammatain).[6]
- Mengubah kata: “dicap pendusta” menjadi “dianggap pendusta”.
Demikianlah kesalahan-kesalahan itu terjadi, padahal setelah menukilkan hadits dan terjemahnya tersebut, sebagaimana biasanya dengan bahasa yang indah dan menarik serta terkesan ilmiah, saudara Abduh ZA memberikan penegasan pada catatan kaki no. 667 dengan mengatakan: “… (Hadits, terjemah hadits, dan takhrijnya, menukil dari Al Ustadz Luqman. …)”
Itulah beberapa contoh ketidakbecusan dan ketidakamanahan saudara Abduh ZA dalam nukilan-nukilannya dari buku kami MAT. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Kalau bukan karena khawatir semakin mempertebal buku bantahan jilid pertama ini dan memberatkan pembaca dalam mengikutinya, niscaya kami akan sebutkan contoh-contoh yang lainnya. …”
Pembaca, demikianlah contoh terakhir dari ketidakbecusan dan ketidakamanahan kami dalam menukil versi Al Ustadz Luqman yang beliau sebutkan dalam MDMTK. Itu pun menurut beliau masih belum semuanya. Dan, tampaknya beliau sadar, bahwa hal semacam ini memang hanya mempertebal jumlah halaman buku saja.
Baiklah, kami hanya ingin mengomentari secara sekilas saja.
- Hadits tersebut kami ambil (copy paste) dari program hadits yang diterbitkan oleh Global Islamic Software Company, tanpa ada penambahan atau pengurangan apa pun.
- Matan hadits yang kami sebutkan adalah riwayat Imam Ibnu Majah, dan –setelah kami cek di beberapa sumber– kata يَتَكَلَّمُ pada dasarnya tidak terdapat dalam hadits riwayat Ibnu Majah.
- Al Ustadz Luqman mengatakan tentang takhrij hadits ini, “HR. Ibnu Majah 4042; Al Hakim IV/465, 512; Ahmad II/291, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 4108, dan Ash-Shahihah no. 1887.” Akan tetapi, setelah kami cek dalam Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain dan Musnad Imam Ahmad, ternyata matan haditsnya pun tidak seperti yang disebutkan Al Ustadz Luqman.
- Demikian adalah matan hadits riwayat Imam Al-Hakim: [7]
1. تأتي على الناس سنوات جدعات يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين وينطق فيهم الرويبضة قيل يا رسول الله وما الرويبضة قال الرجل التافه يتكلم في أمر العامة[8]
2. سيأتي على الناس سنون يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويخون فيها الأمين ويؤتمن فيها الخائن وينطق فيها الرويبضة قال قيل يا رسول الله وما الرويبضة قال السفيه يتكلم في أمر العامة[9]
- Dalam Al-Musnad, terdapat tiga buah hadits senada tentang hal ini. Namun, tidak ada satu pun yang matannya seperti yang disebutkan Al Ustadz Luqman. Adapun matan tiga buah hadits tersebut, yaitu:
1. إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ [10]
2.قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ سُرَيْجٌ وَيَنْظُرُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ [11]
3.إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ [12]
- Hadits yang disebutkan Al Ustadz Luqman Ba’abduh adalah hadits yang disebutkan oleh Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah[13] dan Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir.[14]
- Dalam Shahih Sunan Ibni Majah, hadits yang disebutkan Syaikh Al-Albani sama dengan yang kami sebutkan. Di sini, Syaikh Al-Albani menshahihkan haditsnya.
- Dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah yang disebutkan Al Ustadz Luqman Ba’abduh, Syaikh Al-Albani ‘hanya’ menghasankannya. Tidak menshahihkan.
- Dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, Syaikh Al-Albani juga menshahihkannya.
Demikian yang bisa kami komentari, selebihnya biar para pembaca saja yang menilai. Apakah kurang tanda titik dua, kurang tanda tanya, kurang fathah, dan sebagainya adalah bagian dari ‘ketidakbecusan’ dan ‘ketidakamanahan’ dalam menukil ataukah tidak.
(Selesai BAUS catatan 9)
Sumber Asli Buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hlm 82-88
[1] Kami menukilnya, “Ahlu Sunnah.” Kami mohon maaf atas ‘kesalahan’ ini.
[2] Kami menukilnya, “… oleh para Khalifah Ali.” Tambahan kata “para” di sini betul-betul sangat tidak disengaja. Kami akui kurang teliti dalam hal ini.
[3] Ibid, hlm 530. Huruf tebal dari kami.
[4] Ini adalah kesalahan kami yang sama sekali tidak disengaja. Semoga kurangnya kata “mutlak” dan “yang” di sini tidak sampai mengubah makna yang dimaksud oleh Al Ustadz Luqman.
[5] Kali ini sangat disayangkan sikap ‘ketelitian’ Al Ustadz Luqman dalam mencari-cari ‘kesalahan’ kami. Sebab, kali ini beliaulah yang ‘salah.’ Karena kata “(الحديث)” dan “(Al-Hadits)” ini bukanlah bagian dari yang kami nukil dari MAT. Kami mengatakan dalam catatan kaki –itu pun dalam tanda kurung–, “… (Hadits, terjemah hadits, dan takhrijnya, menukil dari Al Ustadz Luqman. …)” Jadi, yang kami nukil adalah bunyi hadits, terjemah, dan takhrijnya. Adapun kata “(الحديث)” dan “(Al-Hadits)” bukanlah bagian dari yang kami nukil. Lagi pula, hadits ini kami sebutkan bukan untuk mengkritisi matan ataupun sanadnya, melainkan karena kami memang memakai hadits tersebut sebagai dalil. Dan, karena hadits tersebut kebetulan juga terdapat dalam MAT serta sudah ada takhrijnya, maka kami pun melakukan hal yang praktis dengan menukil hadits tersebut dari MAT, meski ternyata tidak seratus persen sama persis. Dan, kami pun jadi teringat kata pepatah yang kurang lebih berbunyi, “Sepandai-pandai monyet melompat, akhirnya akan jatuh juga.” Aw kamaa qoola pepatah.
[6] Di sini, Al Ustadz Luqman benar. Seharusnya memang memakai dhammatain. Terima kasih untuk koreksinya.
[7] Maaf, kami hanya menyebutkan teks Arabnya saja tanpa diterjemahkan. Insya Allah isinya (intinya) kurang lebih sama dengan hadits yang dibahas.
[8] Al-Mustadrak/Jilid 4/Kitab Al-Fitan wa Al-Malahim/hadits nomor 8439. Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sanadnya, namun Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Download dari http://www.almeshkat.com/books. Kami juga menggunakan Al-Mustadrak dari free program “Ensiklopedi Hadits Nabi” edisi kedua yang terdiri dari 20 kitab matan hadits, yang diterbitkan oleh http://www.islamspirit.com, dan dari program Al-Maktabah Asy-Syamilah edisi kedua yang terdiri dari 1905 kitab dari berbagai disiplin ilmu keislaman.
[9] Ibid, hadits nomor 8564.
[10] Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Musnad Abi Hurairah/hadits nomor 7571.
[11] Ibid, Bab Baqi Al-Musnad As-Sabiq/hadits nomor 8105.
[12] Ibid, hadits nomor 12820, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.
[13] Silsilah Ash-Shahihah/Jilid 4/Hlm 508/hadits nomor 1887. Dalam Ash-Shahihah jilid 4 ini, Syaikh Al-Albani menghasankan hadits ini, tidak menshahihkannya. Tidak seperti yang dikatakan Al Ustadz Luqman, “… dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 4108, dan Ash-Shahihah no. 1887.” Syaikh Al-Albani memang menshahihkan hadits senada riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabarani dari Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, dalam Ash-Shahihah/Jilid 5/Hlm 321/hadits nomor 2253. Dan, matan haditsnya bukan yang seperti disebutkan Al Ustadz Luqman, melainkan:
إن بين يدي الساعة سنين خداعة يصدق فيها الكاذب و يكذب فيها الصادق و يؤتمن فيها الخائن و يخون فيها الأمين و ينطق فيها الرويبضة . قيل : و ما الرويبضة . قيل : المرء التافه يتكلم في أمر العامة .
[14] Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, hadits nomor 3650.















8 tanggapan kepada “Astaghfitullah, Salafi Ekstrim Mempermasalahkan Kata “Yang”, Huruf “a” Bergaris Bawah, Tanda Tanya (?) dan Titik Dua (:) ???”
alex
April 25th, 2008 pada 09:36
mas minta emailnya dong…
kok email mas http://www.ihwan.salafi@gmail.com
gak bisa dikirimin yah??
Tolong ya mas, tolong kirim alamat email antum ke email saya.
Jazakumullah
Ummu Atikah
Mei 1st, 2008 pada 12:15
afwan ikut komentar
dalam menyikapi kondisi seperti ini, selayaknya orang-orang diluar garis sebaiknya jangan memperuncing persoalan dengan banyak berbicara apa yang tidak diketahuinya dalam memberi komentar, menulis dls.
adalah sangat bijak bagi kita jika mencoba membuka, membaca dengan hati yang tenang masing-masing buku dari keduanya lalu mengambil kesimpulan dan memberikan nasehat kepada yang dianggap keliru, kalau dua2-nya keliru ya diberi nasehat keduanya dengan bijak kalau perlu datangi rumahnya untuk menasehatinya, jangan dengan berkomentar sana sini atau menulis sana sini salah menyalahkan yang malah akan memakin memperuncing suasana.
dan nasehatku buat keduanya, untuk bisa ikhlas menerima nasehat satu sama lain. jangan bersikeras mempertahankan pendapat yang salah, terimalah nasehat karena Allah.
Ummu Atikah
Mei 5th, 2008 pada 13:04
afwan nama ana ummu atikah bukan ummu affifah ! apa lagi nama kuper sangat jauh berbeda dengan ummu atikah.
soal ip adress sama atau tidak itu diluar pengetahuan ana ip adress juga ana tidak tahu, ya kadang main di warnet kadang juga main di rumah.
martha004
Mei 7th, 2008 pada 09:05
untuk semuanya saat ada kritikan atas diri kita, ya kita terima dan ambil baik nya saja.Karena pada hakikatnya manusia tak bisa berbuat apapun kecuali dengan ijin dari Allah. Jadikan kritikan itu menjadi diri ini lebih baik dan lebih arif jangan jadikan kritikan membuat kita jengkel. Karena tak ada yang sempurna. Jadu buat apa tersinggung bila di kritik dan di hina.Orang mulia pun di hina masa kita tak ada yang menghina?kita kan hina beneran “kutipan ceremah seorang ulama”. Yang terpenting kita slalu memperbaiki diri ini.
Abu Hudzaifi
Mei 7th, 2008 pada 16:54
Terus berjuang ya … kapan nikah?
pengelolakomaht
Agustus 1st, 2008 pada 02:33
.
Mari saudara saudaraku kaum muslimin serta para syabab dan daris HT, untuk berdiskusi seputar da’wah penegakan syari’at Islam dan seputar da’wah khilafah Hizbut Tahrir di
http://mantanht.wordpress.com
InsyaAllah berisi KRITIK yang obyektif dan ilmiah untuk HT demi tegaknya syariat Islam,
semoga membuka wawasan kita bersama
.
BADAR
Oktober 17th, 2008 pada 19:46
bismillah
di jaman ini banyak FITNAH (din),khususnya di indonesia banyak sekali orang2 yang mengaku nabi di beri hukuman yang sangat ringan.dan juga banyak dai2 sempalan di layar televisi bermodalkan lisan yang memukau tuk mencari nafkah (dai amplop).
begitu banyak umat islam yang awam,yang jauh mengenal ilmu agama yang tidak sanggup lagi memilah milah mana yang HAQ dan mana yang BATHIL (bid’ah).
bertebaranlah PARTAI2 berazaskan ISLAM,seolah olah merekalah berjuang di agama ini hampir semua tidak mengetahui.
padahal mereka kader2 PARTAI ISLAM,tujuan hanyalah DUNIA mencari nafkah menjual agama slogan2 palsu tuk mengelabui umat islam tuk mencapai dukungan yang penuh.
mereka anggap DAKWAH tauhid,menghalangi perjuangan mereka seolah olah mereka berJIHAD di medan perang.
hakikat JIHAD mereka kaburkan dengan menTAKWIL jihad parlemen dengan JIHAD di medan perang sama.
padahal mereka tidak mengetahui JIHAD MUNAFIQUN adalah JIHAD para ulama rabbaniyin.
Membantah orang-orang munafiq dan para pembawa kebatilan termasuk bagian daripada jihad fisabilillah. Allah dengan tegas memerintahkan kepada Nabi-Nya:
يا أيها النبي جاهد الكفار و المنافقين و اغلظ عليهم، و مأواهم النار و بئس المصير
Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafiqin, serta bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan itu sejelek-jelek tempat tinggal [At Taubah:73]
Al Imam Al Mujahid Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Jihad melawan munafiqin ini lebih berat daripada jihad melawan orang-orang kafir. Jihad ini merupakan jihadnya orang-orang khusus dari umat ini, yaitu para ‘ulama pewaris para nabi. Maka orang-orang yang tampil menegakkan jihad jenis ini hanyalah segelintir orang saja, demikian juga orang yang mau membantu mereka hanya sedikit saja. Namun demikian, meskipun secara jumlah mereka itu sedikit, mereka sangat besar kedudukannya di sisi Allah.” –sekian dari Ibnul Qayyim-
Al Imam Al Harawi meriwayatkan dengan sanad beliau dari Nashr bin Zakariya ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkata: “Saya mendengar Yahya bin Yahya berkata: “Membela Sunnah lebih utama daripada jihad fi sabilillah!” Muhammad bin Yahya berkata (keheranan): “Seorang mujahid telah menyerahkan hartanya, mengerahkan kekuatannya dan berjihad di jalan Allah, lantas (bagaimana mungkin) pembela sunnah itu lebih utama daripadanya?”
“Benar, bahkan (pembela sunnah) jauh lebih utama!” jawab Yahya [Dzammul Kalam lembaran A-111].
dengan sering mengembar gemborkan JIHAD lewat demo2 di jalan,tidak pernahlah kalian berpikir atau mengkoreksi diri dari perbuatannya yang menyelisihi sunnah nabi shallallahu alaihi wa salam,dan mereka mendustakan AGAMA menyeret2 agama ini ke lubang kebinasaan (demokrasi ala kuffar) seolah olah agama (TAUHID) ini tujuannya hanya untuk bikin PARTAI.
wallahu musta’an di antara mereka ada orang2 yang berpendidikan,pernah mengenal SUNNAH dan mereka juga menjauhi SUNNAH ini dari umat islam.orang itu di tugaskan tuk mencounter orang2 yang mengHUJJAH firqahnya.
Ishaq ibnu Ath-Thiba’ rahimahullahu berkata: Aku mendengar Hammad bin Salamah rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa mencari (ilmu, -pen.) hadits untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat makar atasnya.”
umat islam mangkin bingung dari komentar2 satu sama lain yang menganggap dirinya yang paling benar.
demi allah azza wa jalla tidak ada sanggup semua umat islam yang beri beban tuk MENELAAH antara HAQ dan BATHIL di antara kedua duanya mengunnakan DALIL hanya orang2 tertentu saja yang membedakan TAKWIL.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “Shalat yang dikenal dengan istilah shalat Ar-Ragha`ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan ‘Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan shalat pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak seratus rakaat, keduanya adalah amalan bid’ah dan mungkar. Janganlah tertipu karena disebutkannya dua jenis shalat ini dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya` ‘Ulumuddin. Dan jangan pula tertipu dengan hadits-hadits yang tersebut di dalam dua kitab tadi. Karena sesungguhnya semua itu batil.”
sebuah contoh di atas perselisihan,semua di antara mereka mengunakan dalil,membuat umat islam sulit tuk menilai mana yang BATHIL mana yang HAQ?semuanya mengunakan dalil.
makanya pentingnya umat islam menuntut ilmu agama karena menuntut ilmu agama adalah wajib.
Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata:
“Menuntut ilmu yang merupakan perkara yang wajib dan sunnah yang sangat ditekankan, namun terkadang menjadi sesuatu yang tercela pada sebagian orang. Seperti halnya seseorang yang menimba ilmu agar dapat berjalan bersama (disetarakan, -pen.) dengan para ulama, atau supaya dapat mendebat kusir orang-orang yang bodoh, atau untuk memalingkan mata manusia ke arahnya, atau supaya diagungkan dan dikedepankan, atau dalam rangka meraih dunia, harta, kedudukan dan jabatan yang tinggi. Ini semua merupakan salah satu dari tiga golongan manusia yang api neraka dinyalakan (sebagai balasan, -pen.) bagi mereka.”
(An-Nubadz fi Adabi Thalabil ‘Ilmi, hal. 10-11)
demi allah ini murni dari tulisan ana,sebagian mengutip perkataan2 ulama salaf…………tidak ada satu katapun mengambil dari orang lain.walhamdulillah…….
lebah madu
Oktober 18th, 2008 pada 15:58
Assalamu’alaikum
koreksi akh,:
Al Imam Al Harawi meriwayatkan dengan sanad beliau dari Nashr bin Zakariya ia berkata: Saya mendengar Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli berkata: “Saya mendengar Yahya bin Yahya berkata: “Membela Sunnah lebih utama daripada jihad fi sabilillah!” Muhammad bin Yahya berkata (keheranan): “Seorang mujahid telah menyerahkan hartanya, mengerahkan kekuatannya dan berjihad di jalan Allah, lantas (bagaimana mungkin) pembela sunnah itu lebih utama daripadanya?”
“Benar, bahkan (pembela sunnah) jauh lebih utama!” jawab Yahya [Dzammul Kalam lembaran A-111].
kalimat diatas tidak bisa dibuat pegangan karena :
bukan hadist nabi..
bertentangan dengan hadist nabi yang menyatakan amalan yang paling utama adalah jihat, ( jihad ini juga dalam rangka menyebarkan islam, menegakkan sunnah…)
belum tentu sahih dari yahya bin main, ….kalaupun sahih semua perkataan bisa ditinggalkan kecuali perkataan Rosululloh saw.