BAUS Catatan 9 “Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman” (Bag. 3)

 

CATATAN 9

Tidak Becus dan Tidak Amanah dalam Menukil Versi Al Ustadz Luqman

Oleh : Ustadz Abduh Zulfidar Akaha

 

c. Mengubah Dr. menjadi DR. dan huruf “p” kecil menjadi “P” besar

            Al Ustadz Luqman Ba’abduh berkata,

“Berikut teks aslinya pada MAT halaman 59 cetakan pertama:

“Dengan meminta pertolongan dan taufiq dari[1] Allah  kami beri judul tulisan ini dengan: “MEREKA ADALAH TERORIS!”, yang semulanya kami hendak memberi judul: “Imam Samudra Kaulah Teroris Sejati!” perubahan[2] ini disebabkan karena kami memandang bahwa Imam Samudra hanya merupakan salah satu korban dari kesesatan pemikiran Khawarij global masa kini (neo-Khawarij) yang telah menghidupkan kembali pemikiran sesat generasi awal Khawarij yang dimotori Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al-Maududi, Sa’id Hawwa, …dll. Kemudian dilanjutkan tongkat estafet ini[3] oleh para Ruwaibidhah masa kini semacam Dr. Safar Al Hawali, Salman Al ‘Audah, dan sang jagoan konyol Usamah bin Laden.”

Saudara Abduh ZA telah:

-          membuang kata-kata : “dan taufiq”,

-          mengubah kata “dari” menjadi “kepada”, bentuk ““ menjadi “Subhanahu wa Ta’ala”, “Dr.” menjadi “DR.”, huruf kecil “p”pada kata (perubahan) menjadi huruf kapital “P”,

-          menambah garis bawah di bawah huruf (a) kedua pada kata “(neo-Khawarij)” (pada cetakan kedua kata ini sudah kami benahi menjadi “(neo-Khawarij),”[4]

-          mengubah letak kata “dilanjutkan”, yang pada aslinya terletak sebelum kata “tongkat estafet ini” diletakkan setelah kata tersebut.

Padahal untuk lebih mengesankan amanat dan ketelitian dalam penukilan, saudara Abduh ZA menegaskan pada catatan kaki no. 63:

“Ibid, hlm 59. Huruf tebal pada kata “pemikiran sesat,” “Khawarij,” dan “ruwaibidhah” (orang dungu yang sok tahu) dari kami, sekadar penekanan.  …”[5] [6]

 

            Demikianlah, di antara contoh ‘ketidakbecusan’ dan ‘ketidakamanahan’ kami dalam menukil versi Al Ustadz Luqman. Saking bersemangatnya untuk bisa mengesankan kepada pembaca tentang kekurangan dan kesalahan kami, beliau pun menampilkan hal-hal tidak perlu yang menurut orang awam pun sangat sepele dan berlebihan. Bahkan, beliau sendiri pun sadar bahwa sebetulnya hal ini terkesan dipaksakan dan berlebihan. Kami sendiri setuju seratus persen dengan Al Ustadz Luqman dengan kesadaran beliau yang menganggap hal ini terkesan berlebihan dan dipaksakan. Bahkan, kami juga melihat hampir tidak ada faedah yang bisa dipetik dari apa yang beliau tampilkan ini selain hanya menambah-nambah tebalnya buku MDMTK. Sebab, bagaimana mungkin seorang ustadz yang mengaku salafi mau menyibukkan dirinya untuk sekadar mencari kurang sukun, kurang garis bawah bawah, huruf “P” besar, kurang “dan,” dan yang semacamnya? Atau, apakah ini adalah kesibukan yang sesungguhnya? Wallahu a’lam.

            Sebetulnya, kesalahan-kesalahan kecil yang sangat sepele dan manusiawi semacam ini juga banyak bertaburan[7] dalam MAT dan MDMTK. Namun, kami tidak pernah mempermasalahkan secara serius hal-hal sangat sepele semacam ini. Apalagi mengatakannya sebagai tidak becus, tidak amanah, berdusta, dan sebagainya. Dan, apalagi membahasnya secara khusus dalam satu bab. Percuma dan tiada berguna dan hanya akan menambah-nambah halaman saja. Untuk itu, kami tidak akan menyebutkan kesalahan-kesalahan sangat sepele semacam ini dari Al Ustadz Luqman di buku ini, kecuali jika kesalahan tersebut terdapat dalam kata-kata yang kami nukil.

            Satu hal yang perlu dicatat di sini, tidak ada satu pun koreksi dari kami terhadap kesalahan-kesalahan kecil Al Ustadz Luqman yang kami sebutkan dalam STSK yang kami munculkan secara sengaja. Semua yang kami sebutkan karena memang kata tersebut ada dalam kalimat yang kami nukil.[8] Wahai Al Ustadz Luqman Ba’abduh hadaakallah, camkan baik-baik; tidak ada satu pun kesalahan kecil Anda yang kami nukil secara sengaja untuk memunculkan kesalahan tersebut. Sehingga, sekiranya kami melakukan perbaikan pada kata-kata tersebut, karena memang itu sudah sewajarnya. Sebab, memang demikianlah yang dilakukan para ulama dari dulu hingga sekarang ketika menukil perkataan ulama pendahulunya, dimana jika ada kesalahan dalam kata yang dinukil, maka akan disebutkan oleh ulama yang menukil. Ulama yang menukil akan menyebutkan letak kesalahannya sekaligus menyebutkan mana yang benar, tanpa mendiskreditkan sama sekali. Dan, memang inilah akhlaq seorang ulama yang sesungguhnya. Dan, inilah makna amanah yang sesungguhnya dalam penukilan.

(Bersambung)

Sumber Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hlm 79-82


[1] Dalam STSK, kami menukilnya, “… pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Ini adalah kesalahan dan kekurangan yang sama sekali tidak kami sengaja. Adapun untuk kata “Subhanahu wa Ta’ala,” kami memang biasa menuliskannya dengan tulisan latin, termasuk kata ‘Azza wa Jalla. Sekiranya yang demikian dianggap salah oleh Al Ustadz Luqman, ya kami mohon maaf. Sungguh, kami sangat salut dengan ketelitian dan kecermatan Al Ustadz Luqman dalam mencari-cari kesalahan kami.

[2] Dalam STSK, kami menukilnya, “… Sejati!”. Perubahan …” Kami memberi tanda titik setelah tanda kutip dan menulis “perubahan” dengan huruf “P” besar. Kami mohon maaf atas ‘kesalahan’ ini.

[3] Dalam STSK, kami menukilnya, “… tongkat estafet ini dilanjutkan oleh…” Kami sama sekali tidak menyangka jika perubahan kecil semacam ini pun dianggap ‘kesalahan’ oleh Al Ustadz Luqman. Ya sudah, kami mohon maaf atas ‘kesalahan’ ini.

[4] Ini juga terlalu berlebihan, masak menambah garis bawah “a” saja dianggap ‘tidak becus’ dan ‘tidak amanah’ dalam menukil. Lagi pula, kan Al Ustadz Luqman sudah membenahinya sendiri dalam cetakan keduanya. Kami sendiri tidak memberikan komentar apa pun tentang penambahan “garis bawah” ini.

[5] MDMTK, hlm 441-442. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penukilan.

[6] Selengkapnya, catatan kami dari kami untuk nukilan tersebut adalah, “Ibid, hlm 59. Huruf tebal pada kata “pemikiran sesat,” “Khawarij,” dan “ruwaibidhah” (orang dungu yang sok tahu) dari kami, sekadar penekanan. Sekadar memberikan contoh gaya bahasa tidak santun yang dipakai oleh Al Ustadz Luqman dalam mendiskreditkan para ulama yang beliau benci.”

[7] Jika kebetulan kesalahan tersebut termasuk dalam hal yang dibicarakan atau kami nukil, insya Allah akan kami sebutkan. Akan tetapi, sama sekali tanpa tendensi menyudutkan atau mendiskreditkan, melainkan pure memberitahukan apa yang benar saja. Adapun yang tidak termasuk dalam pembahasan atau tidak kami nukil, maka kami merasa tidak ada perlunya mencari-cari kesalahan sangat sepele semacam ini. Sebab melakukan hal semacam ini sama saja dengan orang yang kurang kerjaan.

[8] Kecuali yang terdapat dalam bagian “Khatimah.” Karena hal itu berkaitan dengan sikap Al Ustadz Luqman yang berlebihan dalam mengoreksi kesalahan manusiawi Imam Samudra dengan bahasa yang kasar dan tidak selayaknya, dimana ternyata kesalahan yang sama juga dilakukan oleh Al Ustadz Luqman.

2 Tanggapan

  1. Salam damai,

    aku baru saja memposting mengenai nasib Ahmadiyah :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/

    Secara nyata saya pro dengan salafi tapi kontra dengan sikap ekstrimnya. Begitu juga dengan IM, saya pro dengan manhajnya tapi agak sedikit kontra dengan yang lainnya. Mengenai UUD 1945 dan Ahmadiyah, cukup saya jelaskan dengan hal-hal berikut ini:

    1. Katakanlah (Wahai Muhammad): “Hai orang-orang kafir!

    [untuk yang membaca ayat ini saya harap tidak tersinggung. karena orang-orang non muslim juga sebagiannya banyak yang menyebut orang muslim kafir disebabkan perbedaan apa yang disembahnya :oops: ]

    “Katakanlah,” – olehmu hai utusanKu – kepada orang-orang yang tidak mau percaya itu: “Hai orang-orang kafir!” (ayat 1). Hai orang-orang yang tidak mau percaya. Menurut Ibnu Jarir panggilan seperti ini disuruh sampaikan Tuhan oleh NabiNya kepada orang-orang kafir itu, yang sejak semula berkeras menantang Rasul dan sudah diketahui dalam ilmu Allah Ta’ala bahwa sampai saat terakhir pun mereka tidaklah akan mau menerima kebenaran. Mereka menantang, dan Nabi s.a.w. pun tegas pula dalam sikapnya menantang penyembahan mereka kepada berhala, sehingga timbullah suatu pertandingan siapakah yang lebih kuat semangatnya mempertahankan pendirian masing-masing. Maka pada satu waktu terasalah oleh mereka sakitnya pukulan-pukulan itu, mencela berhala mereka, menyalahkan kepercayaan mereka.

    Maka bermuafakatlah pemuka-pemuka Quraisy musyrikin itu hendak menemui Nabi. Mereka bermaksud hendak mencari, “damai”. Yang mendatangi Nabi itu menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Said bin Mina – ialah al-Walid bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin Khalaf. Mereka kemukakan suatu usul damai: “Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya bersedia pula menyembah yang kami sembah, dan di dalam segala urusan di negeri kita ini, engkau turut serta bersama kami. Kalau seruan yang engkau bawa ini memang ada baiknya daripada apa yang ada pada kami, supaya turutlah kami merasakannya dengan engkau. Dan jika pegangan kami ini yang lebih benar daripada apa yang engkau serukan itu maka engkau pun telah bersama merasakannya dengan kami, sama mengambil bahagian padanya.” – Inilah usul yang mereka kemukakan. Tidak berapa lama setelah mereka mengemukakan usul ini, turunlah ayat ini;

    2. “Aku tidak akan menyembah apa Yang kamu sembah.

    Menurut tafsiran Ibnu Katsir yang disalinkannya dari Ibnu Taimiyah arti ayat yang kedua: “Aku tidaklah menyembah apa yang kamu sembah,” ialah menafikan perbuatan (nafyul fi’li) Artinya bahwa perbuatan begitu tidaklah pernah aku kerjakan.

    3. “Dan kamu tidak mau menyembah (Allah) Yang Aku sembah.

    Artinya persembahan kita ini sekali-kali tidak dapat diperdamaikan atau digabungkan. Karena yang aku sembah hanya Allah kan kalian menyembah kepada benda; yaitu kayu atau batu yang kamu perbuat sendiri dan kamu besarkan sendiri.

    4. “Dan Aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat.

    5. “Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara Aku beribadat.

    Maka selain dari yang kita sembah itu lain; kamu menyembah berhala aku menyembah Allah Yang Maha Esa, maka cara kita menyembah pun lain pula. Kalau aku menyembah Allah maka aku melakukan shalat di dalam syarat rukun yang telah ditentukan. Sedang kamu menyembah berhala itu sangatlah berbeda dengan cara aku menyembah Allah. Oleh sebab itu tidaklah dapat pegangan kita masing-masing ini didamaikan;

    6. “Bagi kamu ugama kamu, dan bagiku agamaku”.

    Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.

    Al-Qurthubi meringkaskan tafsir seluruh ayat ini sebagai berikut :

    “Katakanlah olehmu wahai UtusanKu, kepada orang-orang kafir itu, bahwasanya aku tidaklah mau diajak menyembah berhala-berhala yang kamu sembah dan puja itu, kamu pun rupanya tidaklah mau menyembah kepada Allah saja sebagaimana yang aku lakukan dan serukan. Malahan kamu persekutukan berhala kamu itu dengan Allah. Maka kalau kamu katakan bahwa kamu pun menyembah Allah jua, perkataanmu itu bohong, karena kamu adalah musyrik. Sedang Allah itu tidak dapat dipersyarikatkan dengan yang lain. Dan ibadat kita pun berlain. Aku tidak menyembah kepada Tuhanku sebagaimana kamu menyembah berhala. Oleh sebab itu agama kita tidaklah dapat diperdamaikan atau dipersatukan; “Bagi kamu agama kamu, bagiku adalah agamaku pula.” Tinggilah dinding yang membatas, dalamlah jurang di antara kita.”

    Surat ini memberi pedoman yang tegas bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang hak hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang. Oleh sebab itu maka Akidah Tauhid itu tidaklah mengenal apa yang dinamai Cynscritisme, yang berarti menyesuai-nyesuaikan. Misalnya di antara animisme dengan Tauhid, penyembahan berhala dengan sembahyang, menyembelih binatang guna pemuja hantu atau jin dengan membaca Bismillah.

    Teramat banyak ulama yang telah menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat. Maka kepada merekalah saya merujuk.

    Semoga bermanfaat dan mendapatkan hidayah-Nya, salam perdamaian!! Merdeka!! Peace!!

  2. Sepertinya Catatan2 di BAUS telah terjawab pada http://www.—–.com/mat/

    komentar saya yang belum tampil, BISA DIBILANG sudah dihapus yah?

    Ibn Abd Muis, menjawab :
    Begitu juga apa yang tertulis dalam MAT dan MDMTK insyaAllah juga sudah terjawab di STSK dan BAUS.

    InsyaAllah, belum dihapus. Tapi sangat memprovokasi jadi saya pending dulu. Bukankah mempertimbangkan segala sesuatu yang akan menimbulkan kemudharatan jauh lebih penting. Apalagi ini blog pribadi saya. Semoga anda dan saya bisa mengambil hikmah kebaikan atas apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Jazakallahu khair.

Tinggalkan Balasan