Abu Salma al-Atsari pun ‘Menantang’ Ustadz Luqman Ba’abduh !!!

Sepertinya judul article ini berbau adu domba antara Abu Salma dengan Ustadz Luqman Ba’abduh yang sama-sama memiliki manhaj Salafi. Tapi mungkin karena kebodohan ana juga atau ana yang terlalu husnudzhan kepada akhi Abu Salma [beliau tidak mau ana sebut ustadz tapi akhi saja : peny.], yang terlalu gegabah menyimpulkan manhaj salafi yang dianutnya berbeda dengan manhaj salafi yang dianut Ustadz Luqman Ba’abduh. Loch kok bisa?

Ceritanya begini….

Waktu tanggal 5 Maret 2008 yang lalu, ana menanyakan tentang sebuah buku yang diberikan sahabat salafi ana yang berjudul “Kafir Tanpa Sadar”. Ana pikir buku ini bagus karena berisi tentang perbuatan-perbuatan yang tidak kita sadari dapat menyebabkan kita kafir bila melakukannya. Tapi seseorang menjelaskan bahwa buku tersebut tidak baik karena berisi paham-paham tentang takfir. Alhasih ana cuma berusaha untuk husnudzhan. Seandainya, bila kita tidak memiliki kemampuan untuk mencerna sesuatu secara baik alias ‘taklid stupid’, mungkin setelah kita membacanya dan melihat ada beberapa orang yang kita temui berperilaku seperti apa yang ada di dalam buku tersebut, dapat menimbulkan jarh atau tahdzir secara terang-terang kepada orang tersebut dan ini akan berdampak keburukan yang lebih besar lagi khususnya kepada manhaj salafi sendiri atau lebih tepatnya lagi agar umat tidak tergelincir kepada pemikiran-pemikiran takfir. Ini dugaan ana saja loch :roll: Dan ini mungkin saja terjadi, terutama untuk para ‘taklid stupid’ yang tidak mau menggunakan otaknya untuk berpikir dan mencerna sesuatu.

Tetapi bila dugaan beliau [akhi Abu Salma] berbeda manhaj dengan Ustadz Lukman Ba’abduh :roll: , adalah karena beliau tidak menghapus komentar ana, bahkan subhanallah beliau menjawab dengan penjelasan yang cukup menenangkan. Sangat berbeda dengan blog-blog yang katanya salafi juga. Pasti kalian sering mengalaminya khan?

Awalnya jujur ana mengira paling komentarnya dihapus, sekalipun tidak ada kata-kata yang tendensius, atau kalaupun tidak dihapus, paling URL blog ana dihapus biar tidak ada orang yang mengklik nama ana sehingga malah mendatangi blog ana. Ternyata “WOW, I AM SO SURPRISE!!!”, beliau tidak menghilangkan URL blog ana apalagi menghapus komentar ana meski baru menampilkannya tanggal 7 Maret 2008 atau dua hari setelah ana kirim comment ke salah satu article beliau. Mungkin beliau seperti ana juga, sedikit agak sibuk jadi tidak bisa tiap hari cek comment atau publish article barunya. Setelah playback, sebelumnya beliau juga pernah tidak menghapus pink back url blog ana ketika berusaha menautkannya ke salah satu articlenya tentang informasi kematian Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah. Pikir ana, mungkin karena beliau memiliki manhaj salafi yang santun dan teduh seperti ustadz Abduh Zulfidar Akaha kali. :roll: :oops: :mrgreen:

Oooops, sorry men! Ana terlalu banyak cerita. Kembali ke judul di atas. Berikut adalah sebagian tulisan Abu Salma yang ana copy paste dari blognya. Apapun yang kita pikirkan, ana berkeyakinan ada maslahat yang diharapkan beliau, khususnya bagi manhaj salafi sendiri…

Untuk itulah, di dalam artikel (baca : resensi) singkat ini, saya ingin berbagi informasi, dan tidak bermaksud membantah ustadz ‘Abduh maupun Ba’abduh, biarlah mereka berdua yang menyelesaikan polemik ini di kancah perdebatan ilmiah, walau saya kurang mengapresiasi ustadz Luqman Ba’abduh yang enggan diajak berdiskusi secara langsung oleh ustadz ‘Abduh. Seharusnya seorang salafy yang ilmiah, dia siap untuk diajak berdiskusi secara ilmiah dan terbuka secara langsung, sebagaimana guru kami, al-Ustadz ‘Abdul Hakim ‘Abdat dan Ustadz Abu Qotadah hafizhahumâllâhu, yang siap dan bersedia diajak diskusi secara langsung, ketika beliau berdua diundanng oleh PERSIS Jabar1. [Lihat al-Masa’il jilid VIII, pendahuluan yang cukup panjang dari al-Ustadz ‘Abdul Hakim, yang mengklarifikasi tuduhan dari majalah PERSIS Jawa Barat pasca diskusi].

Demikian pula dengan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Ubaikân hafizhahullâhu yang berani dan menantang balik tokoh takfiriyun untuk berdiskusi dan berdebat, sebagaimana dalam asy-Syarqul Awsâth (25/5/2005), dalam wawancara yang cukup panjang dengan Syaikh al-‘Ubaikân. Diantara yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Ubaikân adalah : “Saya katakan, mereka yang membenarkan al-Qâ’ida dan ideologi takfirnya, mereka ini adalah orang yang dangkal dan pendek pemahamannya. Saya telah menantang untuk berdialog dengan orang-orang seperti mereka ini dengan media apapun. Saya telah duduk dan berdebat dengan para pendukung mereka baik di rumahku maupun di masjid. Saya, al-‘Ubaikân, siap menerima ajakan debat bahkan dengan Bin Lâdin sekalipun.” (Harian asy-Syarqul Ausâth, 25 Mei 2005. Lihat : http://www.asharq-e.com/news.asp?section=3&id=85)

Syaikh ‘Alî Hasan pun beberapa kali duduk berdialog dengan lawan-lawan beliau, yang sebagiannya bahkan terekam di TV. Beliau pernah berdialog dengan Syaikh Muhammad Abū Ruhayyim, Hasan as-Saqqof, Demikian pula dengan Syaikh Salîm al-Hilâlî, Syaikh ‘Abdul ‘Azîz ar-Rayyis, Syaikh Muhammad Sa’id Ruslân, dll. Mereka semua tidak segan untuk berdiskusi dalam rangka menunjukkan al-Haq… Untuk itulah, saya mengharap supaya al-Ustadz Luqman Ba’abduh bersedia untuk diajak diskusi dan menjelaskan al-Haq, agar tidak semakin menyebar fitnah bahwa al-Ustadz adalah orang yang ‘pengecut’na’ūdzubillâhi- semoga tidak demikian…

Subhanallah, kita tunggu babak selanjutnya saja. Semoga diskusi terbuka tersebut dapat terwujud, sehingga umat bisa hidup rukun, damai dalam ukhuwah Islamiyah yang diridhai. Wallahu musta’an.

Inspirasi:

Abduh zulfidar Akaha, Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan 1, Februari 2008 dan Salah satu article Ustadz Abu Salma Al-Atsari yang ini http://abusalma.wordpress.com/2008/02/29/resensi-buku-ithaful-%E2%80%98ibad/, afwan karena ana tidak menunggu diijinin ustadz dulu… :oops: 

Note:  Tulisan bold dan garis bawah dari saya, hanya untuk mempertegas.

About these ads