Muhammad Arifin Ilham Dihujat Orang Yang Mengaku Bermanhaj Salaf

  

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

  

Masih ingat dengan buku Rapor Merah Aa’ Gym karya Abdurrahman Al-Mukaffi yang katanya menyebabkan sebagian aktivis dakwah yang memiliki jiwa inkonsisten pindah manhaj atau Koreksi Dzikir Berjamaah M. Arifin Ilham karya Abu Asamka? Ituloch buku-buku yang dikarang oleh orang-orang yang nggak jauh-jauh dalam bahasan blogku. Kali ini mo cerita sedikit tentang buku yang ke dua. Sebenarnya pengen panjang dan ngejelasin latar belakang sampai ke setiap detail dari apa yang dibahas dalam buku kedua tersebut, tapi mungkin akan lanjut di lain waktu saja.

  

Sekarang saya cuma mau cerita hal yang menggelitik yang menjadi titik temu dari semua buku yang dikarang oleh para pengaku salaf doang tersebut. Nggak mau ngomongin masalah bid’ah dulu, karena menurut aku pribadi, mereka sendiri masih ‘lier’ dengan definisinya, ini bid’ah menurut bahasa atau syari’ah ya?… :lol: Dari pada salah udah dech syari’ah semua aja :oops: Karena faktanya sampai sekarangpun mereka belum beres-beres juga menyelesaikan konflik internal di kalangan mereka.

  

Nggak lupa kan dengan karakter mereka yang agak sering dibahas di blog ini. Berikut adalah contoh lagi karakter dominan mereka yang dikutip dari buku “Arifin Dihujat, Zikir Berjamaah: antara Sunnah, Bid’ah & Kaum Salafi”:

  

Halaman 201:

  

“Meski di sana ada Dr. Hidayat Nurwahid yang tamatan Timur Tengah, meskipun disana ada Ustadz Ja’far Thalib yang dikenal lantang dan keras dalam menyuarakan manhaj salafy. Itu semua bukan merupakan ukuran bahwa acara Indonesia Berdzikir itu memiliki legitimasi menurut kacamata syariat Islam. Bahkan kalau boleh saya menyebut, hal itu merupakah kenistaan. Masing-masing punya alasan, masing-masing punya hujah. Tapi sekiranya alasan itu berangkat dari kerangka pikiran, alasan politis atau apapun pertimbangannya, maka terpaksa harus saya mengucap, “Kalian telah jauh dari manhaj salafusshalih!”.

  

Halaman 201-202:

  

“Maka berlandaskan ayat-ayat Al Qur’an, hadits Rasulullah SAW, atsar para sahabat, pendapat tabi’in, ulama, ahli tafsir dan hadits seperti yang sudah disampaikan di atas, acara itu merupakan hajatan yang menebarkan aroma bid’ah, sekalipun dihadiri ustadz yang paling ustadz; ulama yang paling ulama, sarat dengan aroma tak sedap bagi kemurnian pengamalan Islam dan termasuk parfum terharum dan termahal; jauh dari kebeningan hati yang diselimuti ikhlas lillahi dan mutaba’ah Ar-Rasul, meskipun pakaian mereka serba putih-putih.”[1]

  

Halaman 206-207:

  

Di sana hadir dua tokoh kunci, yang terus terang menimbulkan tanda tanya yang amat besar dalam kepala, dan tak sepatah kata pun ada jawabannya[2], yaitu Dr. Hidayat Nurwahid dan Ustadz Ja’far Thalib. Akhi Hidayat Nurwahid yang menjadi presiden Partai Keadilan Sejahtera merupakan tamatan Timur Tengah. Sedangkan Akhi Ja’far Thalib dikenal sebagai ustadz yang sangat besar minatnya terhadap usaha pemurnian Islam sesuai dengan ketetapan Al-Kitab, As-Sunnah, sangat alergi terhadap hal-hal yang berbau bid’ah. Bahkan tidak jarang dia suka kratak sana kritik sini, hingga masalah-masalah yang terlihat kecil. Dari segi keilmuan dan bobot pemikiran, saya agak sulit menerima kehadiran mereka berdua dalam halakah zikir Indonesia Berzikir, yang dipimpin M. Arifin Ilham. Ada rasa jengah yang merayap di dinding hati, ada rasa gatal yang menggelitik pikiran, saat melihat kehadiran mereka berdua di sana.

  

Kalau untuk Akhi Hidayat Nurwahid, ada sedikit pemakluman alasan atas kehadirannya itu, walaupun saya tak kuasa untuk mengucapkannya, apa itu. Tapi untuk seorang Akhi Ja’far Thalib, kalau boleh saya bilang, saya agak berat menerima kehadirannya di sana. Apalagi dengan melihat mimik wajahnya yang sering terkena sorotan kamera, karena posisinya persis di samping M. Arifin Ilham. Saya jengah. Benar-benar jengah. Tapi saya sulit mengatakan secara persis apa alasan kejengahan itu[3]. Saya coba menghubungi beberapa teman sekedar untuk cek. Ternyata komentar mereka pun sama[4]. Saya mencoba menetralisir dan mencari jawabannya, sebagai upaya menenangkan kegalauan hati. Ternyata jawaban yang saya dapatkan dalam pikiran hanya mentok pada al-maslahah al-mursalah, kemaslahatan yang tidak terukur, tidak terbatas[5]. Lalu pikiran ini kembali gatal, tapi tak bisa digaruk, apa iya al-maslahah al-mursalah ini mengalahkan perintah Allah tentang zikir yang syar’I dan kehadiran di tempat yang beraroma bid’ah? Ah tak tahulah[6]. Lagi-lagi pikiran saya gatal tapi tak bisa di garuk[7]. Saya mencoba menjawab sendiri, mungkin karena umat Islam belakangan ini dipojokkan dengan cap teroris[8], maka khususnya Ustadz Ja’far Thalib yang beberapa kali berurusan dengan pihak keamanan Negara, namun tidak ada kelanjutan prosesnya, merasa perlu datang dalam acara tersebut, untuk menghilangkan citra buruk dari umat Islam. Tapi…ah, tak tahulah.

   

Makna:

Bold+Merahàtuduhan miring yang ektrim, kasar, tidak sopan!

Bold+Biruànegatif thinking/su’udzhan

Bold+Hijauàketidak ikhlasan pribadi

Hitamàtambahan tulisan ana pribadi :mrgreen:

  

Hujjah untuk kita renungkan bersama:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hujurat:12)

Dan Karena Ucapan mereka: “Sesungguhnya kami Telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah [mereka menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, Karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu]”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (Qs. An-Nisa:157)

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran[sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Qs. Yunus:36)

  

Hujjah dalil di atas bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali, termasuk saya pribadi dengan realitas yang bisa kalian pahami dengan akal masing-masing. Untuk itu saya mohon ampun kepada Allah Tabaraka wata’ala. Hanya kebaikanlah yang saya inginkan. Janganlah kita terus sibuk berselisih dengan sesuatu yang sudah menjadi ikhtilaf ulama sejak jaman dahulu. Jadilah kita saling menguatkan, biarkan semuanya berjalan normal tanpa perlu dipaksakan. Biarkan sebagian yang lain mengurusi dalam hal pemurnian ibadah saja dengan cara-cara yang paling baik. Biarkan sebagian yang lain mengurusi tentang ketatanegaraan, karena itu merupakan bagian dari Islam juga karena pada realitasnya merekapun focus terhadap pembinaan akidah mereka dan orang-orang disekitarnya. Janganlah kita menjadi orang yang menghancurkan secara perlahan bangunan Islam yang mulai berbentuk. Sesungguhnya menghancurkan adalah perbuatan yang sangat mudah, dan sungguh menyedihkan bagi mereka yang telah berusaha membangunnya. Wallahu’alam bishawab.

  

Footnote:

[1] memangnya bapak bisa tahu isi hati seseorang, hanya dengan melihat di televisi, ustadz Ja’far aja yang disampingnya nggak bakalan tahu, apa lagi kita…. Tapi ngomong-ngomong kok nonton tivi juga sich :mrgreen:

[2] ya iya lach… negative thinking terus sich…. :mrgreen:

[3] mungkin karena hatinya nggak pernah bersih dari husnudzhan kali pak? :mrgreen:

[4] lach iya lach sama, orang karakter dan gurunya sama :mrgreen:

[5] baca fiqih prioritas dech pak, mudah-mudahan bisa membantu. Tapi mungkin nggak ya, malu kali, soalnya ulama yang bahas tersebut disesatkan juga sich

[6] masalahnya Indonesia itu beda dengan Arab Saudi pak. Kalo realitasnya kaya Arab Saudi, maka pemahaman Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim dan Syaikh Abdul Wahab sangat bisa diterapkan secara maksimal kepada seluruh umat Islam Indonesia, sementara untuk mu’amalah sebaiknya pemahaman Imam Syafi’I saja yang lebih dominant untuk diterapkan tapi kalau untuk ibadah selama tidak menimbulkan mafsadat yang sangat besar, saya pribadi setuju banget, soalnya udah dipraktekkan sendiri sich

[7] ya iya lach, orang pikiran sich, coba kalo otaknya yang gatal mungkin bisa juga :mrgreen:

[8] negara kafir barat jelas iya, terus salafi juga iya, masih ingetkan buku Mereka Adalah Teroris yang menjadikan tokoh dan ulama-ulama Islam sebagai sasaran tuduhan biang teroris, bahkan sempet minta ke wakil presiden Indonesia untuk memboikot peredaran buku-buku orang yang berjasa untuk umat Islam tersebut, yang secara tidak langsung, sadar ataupun tidak sadar telah menjadi bagian mendukung usaha barat menghancurkan umat Islam. Walhamdulillah, ternyata Allah masih menyayangi kita

About these ads