KHAWARIJ

 

Artikel ini merupakan kuliah berseri Al-Manhajul Juz’i fi Fahmi Aqidah fi Mazhahir, kelompok-kelompok parsial dalam memahami aqidah yang mengandalkan penampilan dan tingkah laku. Pada pembahasan kali ini akan difokuskan pada aliran Khawarij.

Kami dulu diturunkan keimanan sblm turunnya al-Qur’an, sehingga saat turun al-Qur’an kami mengimani semuanya, sementara ada kaum yang diturunkan Qur’an sebelum diturunkan keimanan dalam hati mereka, maka mereka membaca dari Alif Lam Mim sampai Minal Jinnati wan Nas, tapi tidak tahu mana perintah mana larangan, mana yang halal mana yang haram” (HR al-Hakim)

Kesaksian Ibnu Abbas ra tentang mereka (kelompok Khawarij): “Pakaian mereka kasar dan berserat, mukanya pucat, keningnya menghitam seperti lutut kambing tapak tangan dan kakinya keras, bacaan Qur’annya sangat lama

DEFINISI

Para ulama menyebutkan bahwa mereka disebut khawarij (berasal dari kata kerja kharaja-yakhruju yang berarti keluar) karena mereka keluar dari pasukan Ali ra, mereka sering juga disebut Haruriyyah karena asal daerah mereka yaitu dari daerah Haruri, mereka disebut juga Muhkamah karena menggugat tahkim Ali ra.

SEJARAH KHAWARIJ

Berkata Ibnu Taimiyyah : “Yang pertama kali melakukan bid’ah penampilan dalam Islam adalah orang-orang Khawarij.” (Majmu’ al-Fatawa libni Taimiyyah).

Secara perorangan mereka sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi SAW, dari hadits Abu Sa’id ra : “Setelah perang Hunain, Nabi SAW membagi ghanimah lebih banyak kepada pembesar-pembesar Quraisy seperti al-Aqra’ bin Habits, ‘Uyainah, dll. Maka berkatalah seseorang: Demi Allah pembagian ini tidak adil dan tidak mengharap ridha Allah…” (HR Muslim)

Sejarah mereka kemudian timbul kembali dimasa Umar ra, yaitu dengan berhasilnya mereka membunuh Khalifah Umar ra, yaitu oleh Abu Lu’lu (seorang Khawarij).

Secara kelompok mereka baru mulai berkembang pada masa Utsman ra (dalam Tarikh at-Thabari & Ibnu Katsir), bahwa merekalah yang memimpin persekongkolan untuk membunuh Khalifah Utsman ra (dibawah hasutan Ibnu Saba’).

Memuncaknya mereka yaitu dimasa Ali ra, saat perang Shiffin, saat Ali ra hampir menang mereka minta tahkim pada Kitabullah, saat Ali ra menuruti keinginan mereka dan ingin mengutus Ibnu Abbas ra untuk wakil dalam tahkim tersebut mereka menolak dan meminta Abu Musa ra untuk hal tersebut, akhirnya Abu Musa ra kalah berdebat dengan Amr bin Ash ra (wakil dari kelompok Mu’awiyah ra) maka mereka (kaum Khawarij) tiba-tiba mengkafirkan Ali ra dan 12.000 orang mereka keluar dari pasukan Ali ra. Dan di akhir pemerintahan Khalifah Ali ra merekalah yang akhirnya menghasut Abdurrahman Ibnu Muljam untuk membunuh Ali ra.

Tokoh-tokoh mereka dimasa Ali ra diantaranya adalah: Al-Asy’at bin Qais, Mas’ud al Fadaki, Ibnul Kawa’ (yang pertama kali keluar dari pasukan Ali ra), dll.

DALIL-DALIL SUNNAH TENTANG KHAWARIJ

 

1. Pada suatu peperangan, Nabi SAW lebih banyak membagi ghanimah (harta rampasang perang) kepada sekelompok orang, maka berkatalah seseorang : “Hai Muhammad ittaqullah ! Maka berkatalah Umar ra : Ya Rasulullah ! Biar saya tebas leher orang ini ! Jawab Nabi SAW: Biarkan ia, kelak dari keturunannya akan lahir suatu kaum yang bacaan Al-Qur’an mereka hanya sampai ditenggorokan, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan orang musyrik, mereka lepas dari Islam seperti panah dari busurnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

 

2. “Akan keluar dari ummatku nanti kaum yang muda usia dan bodoh, mereka berkata dengan kata-kata kita, mereka membaca Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan mereka dan mereka keluar dari Islam seperti panah dari busurnya.” (HR Muttafaq ‘alaih)

 

3. … mereka akan keluar terus, sampai yang terakhir akan keluar bersama Dajjal …(HR An-Nasa’i dan al-Hakim)

 

4.”… mereka bagus dalam bicara tapi jelek dalam amalnya, mereka mengajak kepada al-Qur’an tapi sedikitpun mereka tidak melaksanakannya.” (HR al-Hakim)

 

SIFAT-SIFAT KHAWARIJ MENURUT AS-SUNNAH DAN TARIKH YANG PERLU DIWASPADAI

 

  1. Mudah mencela dan mengkafirkan orang lain: Mereka berani mencela Nabi SAW, mengkafirkan Utsman & Ali ra dan mengkafirkan orang-orang yang berdosa besar. Sehingga hendaknya kita mewaspadai sikap mudah mencela dan mengkafirkan orang atau kelompok lain ini seperti yang dilakukan oleh berbagai kelompok neo-khawarij belakangan ini, karena demikianlah sifat mereka.

  

  1. Berburuk sangka pada muslimin: Sifat mudah ber-su’uzhan kepada kelompok muslim lain. Sifat inipun sekarang mulai menghinggapi sebagian kelompok kaum muslimin kontemporer, sehingga dengan mudahnya memberi level kepada kelompok diluar kelompoknya sebagai sesat, kafir, ahlul bid’ah bahkan termasuk kepada orang yg sudah wafat seperti Sayyid Quthb, Hasan al-Banna, dll-pun mereka fasikkan walaupun tanpa adanya bukti-bukti yang kuat.

  

  1. Keras pada muslimin tapi berhati-hati pada orang kafir: Pada peristiwa Khabbab Ibnul Arts ra yang mereka bunuh karena mengaku sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW, sementara Washil bin Atha’ (seorang Mu’tazilah mereka biarkan karena mengaku seorang kafir). Pada sebagian kelompok saat ini ada yang demikian rajin memusuhi dan mencaci maki kelompok kaum muslimin yang lain dalam tulisan-tulisan mereka, sementara mereka membiarkan dan bahkan berdamai dengan kaum kafirin dan musyrikin yang memusuhi dan jelas-jelas memerangi Islam.

  

  1. Sedikitnya ilmu mereka: Simak saja perdebatan mereka dengan Imam Ali ra: Kenapa anda bertahkim? Ali ra membaca QS 4/35 lalu menjawab: Kalau dalam masalah keluarga saja boleh tahkim apalagi dalam masalah Khilafah ! Kata mereka: Kenapa dalam perang Jamal anda tidak mengambil mereka sebagai budak ? Jawab Ali ra: Tidak halal memperbudak kaum muslimin. Kata mereka: Kenapa saat perjanjian anda tidak gunakan kata Amirul Mu’minin ? Jawab Ali ra: Orang yang lebih baik dari saya (Nabi SAW) pernah tidak menggunakan kata Rasulullah saat perjanjian Hudhaibiyyah. Kata mereka : Kenapa anda pindahkan hak anda pada orang lain saat Tahkim ? Jawab Ali ra : Kekasihku Rasulullah SAW pernah memberikan hak keputusan pada Sa’ad bin Mu’adz ra saat peristiwa bani Quraizhah, tapi keputusan beliau SAW ditaati, sementara keputusanku kalian dustakan. Maka sebagian mereka berkata : Demi Allah dia (Ali ra) benar dan kita hrs bertaubat ! Maka bertaubatlah 8000 orang dari mereka sedang sisanya 4000 orang diperangi oleh Ali ra dengan 4000 pasukannya, kata Ali ra : Demi Allah ! Aku mendengar dari kekasihku Rasulullah SAW bahwa pasukan yang terbunuh diantara kita hanya 9 orang dan mereka yang tertinggal (tidak terbunuh) hanya 9 orang saja ! Pada kelompok neo-khawarij (Khawarij modern) juga terdapat ciri yang sama, mudahnya mereka mengkafirkan kelompok di luar kelompok mereka, tanpa tahu secara mendalam tentang kelompok yang mereka kafirkan tersebut (karena mereka tidak pernah membaca tentang kelompok diluar mereka tersebut, kecuali berdasarkan fatwa guru-guru mereka saja). Dan mereka dipimpin oleh orang-orang yang memang bukan ahli syari’ah, melainkan hanya sebagian orang yang masih baru belajar ilmu syari’ah dan sama sekali belum memenuhi syarat untuk berfatwa.

  

  1. Meremehkan orang lain dan merasa diri paling benar: Mereka kagum pada pendapat sendiri dan menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pikiran mereka dengan menolak untuk mengambil pendapat para imam salafus shalih. Pada jenis neo-khawarij saat ini, pendapat salafus-shalih ini dimonopoli oleh mereka sendiri, orang-orang yg mengaku sebagai SALAFI ini seolah-olah hanya mereka saja yang menjadi representasi dari salaf dengan penafsiran mereka, mereka lupa bahwa dalam syari’at dari masa salaf sampai sekarang tetap ada perbedaan pendapat yang tidak dapat disatukan dalam masalah furu’ syari’ah, sampai-sampi Imam Malik rahimahullah menolak ketika kitabnya al-Muwaththa ingin dijadikan referensi induk oleh Khalifah dengan mengatakan : “Wahai amirul mukminin, sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah berpencar ke berbagai pelosok dengan pendapatnya masing-masing, maka bagaimana mungkin engkau akan memaksa kaum muslimin untuk hanya mengikuti satu pendapat ?!

 

BAGAIMANA JIKA TERPAKSA BERDEBAT DENGAN MEREKA

 

  1. Pilih orang yang memiliki kefahaman syari’ah untuk berdiskusi dengan mereka:

  • Ibnu Abbas ra sengaja mendatangi mereka dengan pakaian yang indah, lalu mereka mencibir lalu kata Ibnu Abbas : “Katakanlah siapa yang mengharamkan perhiasan yang indah-indah …” (QS 7/32)

 

  • Umar bin Abdul ‘Aziz ra pernah berdiskusi dengan mereka lalu diminta oleh mereka untk melaknat leluhurnya (Bani Umayyah) maka jawab Ibnu Abdul ‘Aziz ra : Coba sebutkan dalilnya kita harus melaknat Fir’aun jika ada ?! Jawab mereka : Tidak ada ! Maka kata Ibnu Abdul Aziz : Kalau demikian apalagi terhadap orang yang lebih baik dari Fir’aun !

  

  1. Berhati-hati pada sifat seperti mereka. Hendaknya kita merenungkan pendapat Imam Syafi’i rahimahullah ketika berkata: Ra’yii shawab walakin yahtamilul khatha’, wa ra’yu ghairii khatha’ walakin yahtamilush shawab (Pendapatku benar tapi mengandung kesalahan, sementara pendapat orang lain salah tapi tetap mengandung kebenaran). Kalau beliau saja yang demikian luas ilmunya demikian menghargai pendapat orang lain, maka bagaimana pula dengan kita ?!

  

  1. Pilihlah dialog dengan cara yang terbaik. Jelaskan bahwa benar pendapat salaf itu merupakan kewajiban semua kaum muslimin untuk mengikutinya, karena jika tidak maka mereka akan sesat, tetapi adalah na’if jika menganggap bahwa yang berhak menafsirkan salaf itu hanya monopoli suatu kelompok saja, lalu memvonis kelompok lain sebagai sesat dan menyimpang. Diperlukan diskusi mendalam diantara berbagai kelompok kaum muslimin untuk mendekatkan diantara berbagai pemikiran yang berkembang yang ingin kembali kepada pemikiran salafus shalih.

   

  1. Belajar Islam dengan pemahaman yang mendalam. Hendaknya kita mempelajari Islam secara mendalam, sehingga diakui secara ilmiah kepakaran kita dan kita memiliki wawasan ilmu keislaman yang luas, terutama dalam aspek Fiqh al-Ikhtilaf dan Muqarranat al-Madzahib.

 

Aku tidak mengetahui ni’mat mana yg lebih besar yg dikaruniakan Allah padaku: Apakah ni’mat pemahaman Islam yg mendalam ini atau ni’mat dijauhkan dari bid’ah” (Ibnu Taimiyyah)

About these ads